Minggu, 17 Juni 2012

Cerbung >> Dalam Dunia Dhera *Part 5*



pertama-tama aku mau minta maaf ngepostnya lama, yang kedua yang minta tag niih sorry banget gk tahu kenapa gk bisa tag, aku gk ngerti problemnya gimana? *kl ada yg tahu, kasih solusinya* dan yang ketiga...ini baca deh cerbungnya PART 5, semoga kalian semua suka..i hope..
ceee kiii dooot...

####


            “INOOK!” Aji sudah berdiri di sampingku. Kontan aku tersentak kaget. “Tahu deh kita, kalau elo gugup kayak gini, pasti karena Adie.” *prok prok prok, Aji ingat woooiii*
            “Apaan sih, Lo.” Kembali rona merah menghiasi wajah putih bersihku. Dari belakang Herdi, Dera datang. Jangan salah sangka dulu, meski namanya sama denganku hanya saja tidak ada huruf ‘H’ setelah ‘D’, dia itu cowok. Nama lengkapnya Dera F Hamdani, memegang guitar di Say’A sama seperti Aji.
            “Wooi, udah kelar tuh masalah perut.” Ucap Herdi. Dera memegang perutnya yang terbalut sweater merah.
            “Asem, nih perut! Tapi sekarang udah mendingan.” Jawab Dera.
            “Iya elo Blet, udah tahu mau liburan, malah sarapan nasi goreng pedes pula.” Tambah Aji. Tablet, itu sebutan khusus buat Dera. Alasannya, hhmmm....masih rahasia *senyum gaje deh*
            “Tuh si Inok kenapa?” tanya Dera beralih tatapannya ke arahku.
            “Biasalah, tuh anak kebayang-bayang wajah cakepnya Adie.” Herdi menjawab, langsung saja aku menoyor kepala Herdi dan menghujani dengan tatapan tajam menembus tulang rusuk *sama sekali gak nyambung* tak berapa lama sebuah mobil hitam mengkilat berhenti di depan rumahku. Dari pintu kemudi kemudi keluarlah Akis kemudian di susul dengan Adie. Dag dig dug lagi jantungku *kalau berhenti matilah Nok*
            “Sorry yah, kalian udah nunggu lama.” Kata Akis menghampiri kami berempat. Adie sendiri tersenyum ke arahku lalu berdiri di sampingku. Melihatku yang kikuk sendiri membuat ke empat personil Say’A cekikikan. Aku ini memang terlihat tomboy, tapi kalau masalah hati, hadoooh!!! Perasa banget deh.
            “Kalian kenapa sih?” tanyaku heran dengan menekan setiap perkataanku agar tidak terkesan gugup. Akis dan yang lain tidak menjawab, malah terus cekikikan “Sayco kalian semua!” sungutku. Sedangkan Adie sedari dari senyum-senyum saja.
            “Inok ngambek, padahal pangerannya udah ada di samping tuh.” Timpal Tablet (Dera) kontan membuat wajahku semakin merah.
            “Tablet! Awas lo!” aku menunjuk lurus ke arahnya. “Udah ah, ayo berangkat!” aku menarik tangan Adie dan Akis. Tapi dengan sigap Akis menahannya.
            “Mobil satu untuk enam orang itu terlalu banyak, belum lagi di tambah dengan alat musik.” Katanya. Aku mengangkat sebelah alisku.
            “Maksud elo?” aku belum connect.
            “Jadi gini Inok, gue, Akis, Tablet dan Aji naik mobil elo. Nah, biar elo sama Adie naik mobil Akis.” Terang Herdi yang di susul dengan anggukan kepala Aji, Akis dan Tablet. Tanpa aku sadari aku tersenyum mendengar ucapannya. Tanpa basa-basi lagi Akis langsung melempar kunci mobil ke Adie dan langsung menaiki mobilku yang terparkir tak jauh dari tempatku berdiri.
            Aku masih tertegun dengan tangan kanan memegang tangan Adie. Aduh! Sekarang bunga-bunga di hatiku bermekaran. “Ayo Nok, kita berangkat.” Adie membuyarkan lamunanku. Aku hanya mengangguk kecil. Adie menarik tanganku menuju mobil Akis yang terparkir di depan gerbang. Setelah meletakkan koperku di bagasi, tentu Adie yang melakukannya. Kita berdua langsung masuk mobil.

%&&%^##$#%


            Di sepanjang perjalanan aku masih diam dengan pikiranku. Bukannya apa-apa, aku masih bingung mau berbicara apa sama Adie. Kalau di hitung-hitung sudah hampir satu minggu aku tidak bertemu dengannya, karena aku sibuk dengan Say’A dan sekolahku sedangkan Adie juga sibuk dengan bandnya sendiri. Yah, dia juga mempunyai band.
            “Inok?” panggil Adie. Aku melirik ke arahnya. Wajah itu selalu aku rindukan, senyum manisnya yang ampun membuat aku terbang *dan elo punya senyum nyamping Nok*
            “Iya Die.” Jawabku sedikit gugup.
            “Kamu aneh Nok, kita udah beberapa bulan pacaran tapi kok masih gugup aja sih?” ujarnya lagi. Aku semakin gugup, sambil menggaruk-garuk kepalaku dan senyum tidak jelas. Belum juga aku mau menjawab tangan kanan Adie meraih tanganku yang tadi aku gunakan untuk menggaruk kepalaku yang aslinya tidak gatal lalu Adie mendaratkan di pangkuannya, membuat tubuhku sedikit tertarik mendekatinya. Oh God, semoga jantungku tidak copot saking gugupnya.
            “Hmmm....Die, itu lihat jalannya.” Ucapku. Adie membagi pandangannya padaku dan jalan di depan. Posisi tanganku masih di bawah tangan Adie. Cowok itu menggenggamnya dengan erat.
            “Aku kangen kamu, Inok.” Ucapnya. Ada yang mau ikut, aku mau terbang nih denger Adie ngomong seperti itu.
            “Hmmm...aku juga Die.” Aku ku. Adie tersenyum manis.
            “Nanti di sana aku mau kangen-kangenan sama kamu yah, Nok.” Ucapnya.
            “Emang kangen-kangenan kayak gimana sih, Die.” Aku lemot. Tapi Adie malah senyum-senyum sok misterius, lalu mencubit pipi kananku dengan gemas. “Adie!! Sakit tahu!” erangku menahan tangan Adie.
            “Kamu lucu Nok, aku suka sama senyummu itu.” Waah semakin terbang sudah aku ini, saking tingginya aku bisa lihat kota Cianjur *eror nih si Inok* aku tersenyum mendengar ucapannya.
            “Nok, nggak keberatan kan aku ikut liburan sama kalian.”kata Adie memfokuskan pandangannya ke depan mengikuti mobil Akis dan teman-teman. Aku langsung menggeleng. Mana mungkin gue keberatan Die, gue malah seneng kali. Secara elo itu indah banget di mata gue. Batinku sesekali melirik Adie.
            “Syukurlah, lagian gue juga punya teman di Bogor, sekalian ngunjungi mereka.” Kata Adie lagi melempar pandangannya ke arahku lalu beralih lagi ke depan. Aku hampir lupa, dulu Adie memang tinggal di Bogor, wajar saja ia mempunyai banyak teman. Ditambah lagi Adie adalah teman dekat Akis yang mempunyai villa di Bogor. Sama halnya dengan Akis dan Adie, aku juga sempat tinggal di villa yang papa beli di Bogor, hanya saja sekarang sudah dijual. Dan itu waktu aku masih duduk di kelas 5 SD. *masa lalu*
            “Terus kenapa kamu nggak ajak juga teman band kamu, Die?” tanyaku.
            “Kan udah aku bilang, aku kangen sama kamu, aku pengen berduaan sama kamu.” Langsung muncul rona merah di kedua pipiku. Melihat aku yang merona seperti ini Adie tertawa kecil lalu kembali mencubit pipiku. Kali ini aku tidak melawan, aku berusaha menetralisir perasaanku yang melonjak-lonjak. *Author jadi ikut deg-degan Nok*
            Selanjutnya obrolan kami berdua semakin melebar, meluas, dan memanjang hahaha. Di sepanjang jalan, aku dan Adie tertawa menceritakan sesuatu yang lucu, menarik dan fantastic. Beberapa kali Adie menggelitikiku tapi masih dengan mengemudi.

***

Bagian 5
Aku Takut Die...

            Akhirnya mereka berenam sampai di sebuah villa yang terletak di puncak dengan pemandangan gunung yang indah, susana sejuk dan tanpa polusi. Ini sih namanya damai, aman, dan sejahera. “Antik juga nih villa.” Gumam Aji menggelengkan kepalanya melihat bangunan yang berdiri di depan mereka. Bangunan itu semakin asri dengan pohon-pohon di sekelilingnya. Aku melihat ke sekeliling, rupanya villa Akis jauh dari pemukiman. Berbeda denganku dulu yang berdampingan dengan beberapa villa.
            “Huh! Ini baru namanya liburan!!” teriak Tablet merentangkan kedua tangannya merasakan hembusan udara yang sejuk.
            “Ndesso banget sih, lo.” Timpal Herdi menoyor kepala Tablet. Kami semua pun tertawa.

T.B.C....

Cerbung >> Dalam Dunia Dhera *Part 4*





ehm! aku dataaaang...membawa pisaang..

ini nih part 4 nya yang kalian tunggu2...tapi tapi tapi...kayanya part ini ceritanya gaj jelas deh, ada problem dgn otakku...perlu di servis...jadi jadi jadi...kritik sarannya aku tunggu yah...ramaikan dengan koment dan jempol kalian...:D
eits! lupa! part ini ada bawa2 kak Adie...moga aja gk marah yah dheranya...*maaf kak*

ce ki doooot....

            Di dalam kamar aku langsung sibuk menghubungi teman-temanku, kalau saat ini kami bertemu pasti sudah saling tos-tosan dengan gelak tawa yang menggema. Senang sekali rasanya besok bisa liburan bersama Say’A selama kurang lebih dua minggu pula. Hahhaha *girang banget si Inok*
            “Oh yah Nok, kita ajak Adie juga yah, nantinya elo bisa berdua tuh sama adie.” Kata Akis yang saat itu aku sedang menelponnya. Aku berpikir sejenak. Siapa Adie? Aku jadi malu untuk menceritakannya. Dia itu pacarku *Inok semu merona*
            “Boleh juga, lagian gue kangen tuh sama Adie sekarang kan gue sama dia jarang bareng.” Jawabku masih dengan rona merah di pipi. Aku merangkul Ona, Oni, dan Ono, menyembunyikan wajahku yang semakin merah saja, sesekali aku tertawa kecil.
            “Inok! Sarap deh, kalau udah ngomongin Adie.” Sungut Akis yang sudah dapat menebak pasti aku tersenyum-senyum sendiri kalau sudah membayangkan Adie.
            “Hehehe, elo emang sahabat gue Kis, tahu aja deh!” kataku. Kalau saja Akis ada di sini sudah aku peluk erat-erat tuh anak. Tiba-tiba terdengar suara Yoga memanggilku di depan pintu kamar. “Kis, udah dulu yah, tuh abang Yoga manggil gue.” Klik! Telpon terputus. “Masuk bang!” teriakku. Lalu Yoga masuk. Kakak pertamu itu senyum-senyum tak jelas.
            “Ada apa bang?” tanyaku.
            “Belum tidur, Nok?”
            “Nih mau tidur. Apaan tuh di belakang abang?” tanyaku lagi melihat kedua tangan Yoga tersembunyi di belakangnya. Yoga langsung duduk di sisi ranjang. Aku sendiri masih memeluk Ona, Oni dan Ono.
            “Abang punya sesuatu buat elo?”
            “Apa? Pisang? Kan tadi udah di kasih.” Jawabku sekenanya.
            “Ya sudah kalau nggak mau.” Yoga hendak beranjak. Langsung saja aku tarik tangannya dan cecengesan. Kemudian Yoga mengeluarkan sesuatu dari belakang badannya. Sebuah kotak berukuran sedang dan bersampul pink, warna kesukaanku. Aku mengernyitkan dahi, tak tahu apa itu.
            “Apa itu?” selidikku. “Elo mau ngerjain gue bang.”
            “Ih, negatif aja pikiran elo, Nok. Cepet gih buka.” Katanya. Aku langsung meraih kotak itu dan perlahan membukanya. Hatiku dag dig dug takut isinya sesuatu yang aku takuti. Kalau itu terjadi, Yoga langsung ku tendang ke Mars.*hobby Inok nendang kali yah*
            Begitu kotak terbuka, aku melongok ke dalam, gelap! *kasih lampu dong nok* aku memasukkan tanganku dan mengambil isinya. Sebuah kamera Nikon. Mulutku menganga, “Ini untuk gue, bang?” tanyaku tak percaya. Kamera yang selama ini aku inginkan berada di tanganku. Yoga hanya mengangguk dan memamerkan deretan giginya yang tersusun rapi. Refleks aku memeluk Yoga erat.
            “Thanks bang, elo tahu aja gue pengen ini.” Kataku haru.
            “Iya Nok, sama-sama. Pas banget yah, besok elo liburan dapat Nikon. Bisa elo gunakan untuk foto-foto di sana.” Ujar Yoga. Sekali lagi ku peluk tubuh atletisnya. Sumpah! Hari ini Tuhan benar-benar membuat impianku terkabul, liburan bareng Say’A di tambah kamera nikon ini. Yoga dan Yogi serta kedua orang tua, membuat aku mengharu biru.

%$^%&^*^*$%^$&^*
Bagian 3
Dag Dig Dug

            Aku sudah dengan koper kecil di tanganku. Ku hampiri Herdi dan Aji yang sudah nongkrong di depan mobil hitam milikku. Mereka datang setengah jam yang lalu, bahkan ketika aku masih terlelap karena tidak mau bangun sebelum Memey membangunkan aku dengan segelas susu di tangannya. Tapi tidak ada Akis dan Dera di antara mereka.
            Melihatku yang datang dengan menarik koper kecil, Herdi dan Aji melongo. “Elo mau liburan atau pindah, Nok. Kok bawa koper?” tanya Aji.
            “Loh, kita kan liburannya lama, wajar bawaan gue banyak. Ini nih penuh dengan Ona, Oni dan Ono, nggak mungkin mereka gue tinggal.” Kataku polos.
            “Kenapa nggak sekalian Gipsonnya elo bawa juga, Nok?” kini Herdi yang berbicara disertai tawa kecil yang membuat matanya semakin sayu.
            “Pengennya sih gitu, tapi susah bawanya.” Jawabku. Aji hanya mengangguk-angguk, tak tahulah apa tuh anak ngerti. Aku memerhatikan penampilan Aji dan Herdi. Sebelumnya belum aku kenalkan siapa Herdi. Cowok yang mempunyai nama lengkap Muhamad Herdi Herdiansyah, memegang Cajon di Say’A, tinggi kurang lebih 175cm, kulit kekuning-kuningan, dan matanya itu loh, sayu kayak lilin ketiup angin, kalau senyum maka alisnya saling bertautan meski tidak sampau menyambung. Kali ini ia memakai celana jeans, serta T-shirt putih. Tapi bawahnya cuma pakai sandal, coba bayangkan mau liburan pakai sandal. Simple banget nih orang. Herdi menurutku paling simple kalau soal style, tidak mau ribet
            Sedangkan Aji, dia memakai T-shirt Biru dan celana jeans tanggung. Dia hoby banget pakai celana tanggung, kalau soal bagaimana Aji di Say’A sudah dijelaskan di awal. Dan sekarang dia juga memakai sandal. Aji ini sedikit tambun di banding personil Say’A yang lain. Aku sendiri memakai T-shirt orange dengan jeans panjang dan sepatu kets. Tak lupa tas selempang warna merah yang selalu menemaniku.
            “Eh, elo bawa cajon kan Her?” tanyaku pada Herdi. Herdi hanya mengangguk. “Elo Ji, bawa gitar kan?” aku melirik Aji. Sesaat cowok itu terdiam. Aku mulai khawatir itu anak tidak bawa alat musik. Sekian detik Aji berpikir, lalu ia mengangguk. Aku dan Herdi menghela napas lega.
            “Eh, Akis sama Dera mana?” tanyaku.
            “Kalau Dera lagi ke toilet Nok, tadi di antar pembantu elo. Tuh anak tiba-tiba aja nggak beres perutnya.” Terang Herdi. “Kalau Akis, tadi dia udah datang sekarang dia pergi.” Lanjutnya.
            “Kemana?” tanyaku lagi.
            “Ji, kemana si Akis, tadi kan selagi gue beresin cajon elo ngobrol bareng Akis?” Herdi menatap Aji. Lagi-lagi Aji terdiam, berpikir. Keningnya mengkirut, mengingat sesuatu.
            “Akis memang ngobrol sama gue, tapi dia ngomong apa yah, gue lupa” kata Aji memasang wajah tak berdosa. Gubrak! Untung di bawah kakiku dan Herdi tidak ada kulit pisang, kalau ada sudah kepleset masuk tong sampah dari tadi. Aku geram melihat ekspresinya yang hanya garuk-garuk kepala.
            “Semprul, penyakit lupa elo parah, Ji.” Herdi menoyor kepala Aji. Aji sendiri hanya senyum-senyum saja.
“Sorry, gue emang beneran lupa, Jenggot.” Bela Aji. Nah, sebutan Jenggot itu di tunjukkan kepada Herdi. Kenapa? Lihat saja, di dagunya ada jenggot tumbuh meski masih kecil-kecil *gue siapin kaca pembesar biar keliatan*. Tak peduli dengan ucapan mereka, aku langsung menelpon Akis.
            “Kis, elo ada di mana sih,” ucapku begitu telpon diangkat.
            “Gue habis jemput Adie, mobil Adie dibawa adiknya. Jadi gue jemput dia, pake mobil gue.” Kata Akis enteng. Deg! Akis benar-benar mengajak Adie. Aku berbalik dari hadapan Herdi dan Aji, tentu saja tidak ingin mereka berdua melihat rona merah di kedua pipiku.
            “Hmmm...cepet Kis, udah siang.”kataku berusaha setenang mungkin, dan tidak jingkrak-jingkrak.
            “Udah siang, atau elo nggak sabar pengen lihat Adie.” Kyaaa! Enteng sekali Akis mengatakannya, tidak peduli denganku yang seakan terbang. “Gue dan Adie lagi di jalan, kalian tunggu aja.” Klik! Telpon kembali terputus. Sebentar ku dekap handphoneku. Huh! Drum band di hatiku belum juga berhenti. Entah kenapa, meski sudah beberapa bulan pacaran, tapi aku selaui gugup kalau sudah membahas tentang cowok yang bernama Adie Rossiadi. Kita memang jarang ketemu karena sibuk dengan urusan masing-masing.
            “INOOK!” Aji sudah berdiri di sampingku. Kontan aku tersentak kaget. “Tahu deh kita, kalau elo gugup kayak gini, pasti karena Adie.” *prok prok prok, Aji ingat woooiii* *besok kita rayain*

Cerbung >> Dalam Dunia Dhera *Part 3*



halooo....maaf yah baru nongol...asli gara2 modem eror nggak bisa post cerbung...nih aku bawa lanjutannya. nnti jangan lupa like, coment beserta kritik dan sarannnya yah...ok makasiih...
oh yah lupa, kalau temen kalian ada yg mau tag juga...mampir aja dulu ke dindingku yah...

ini dia...kita sambut DHERA DAN SAY'A...:D


            “Sebentar yah,” Tante Lisa mengintip ke dalam pintu rumah. “Pus…pus…pus…” mendengar ucapan tante Lisa aku sejenak tertegun, mencoba mencerna sesuatu dari ucapannya itu.
            “Pus…pus…itu kan….” Gumamku.
            “Nah, sini manis…” Tante Lisa berjongkok hendak menggendong sesuatu yang ia panggil tadi. Tersadar apa yang Tante Lisa gendong, kontan aku histeris.
            “KKYAAAA…..KUCIIIIINGGG!!!” Teriakku histeris. Entah karena kaget atau apa, kucing yang tante Lisa gendong tiba-tiba saja melompat dari gendongannya dan mendekatiku. Kontan aku langsung ambil langkah seribu, eh tuh kucing malah ngikut di belakang lari-lari, sumpah! Tuh kucing sok anggun banget larinya. *kucingnya pernah jadi model kali*
            “Memey! Papa! Bang Yoga! Bang Yogi! Toloong!!” teriakku dengan sesekali menengok ke belakang. Shit! Tuh kucing putih dengan bulu lebat tetap mengekor di belakangku meski jaraknya tidak terlalu dekat. Sekilas aku melihat tante Lisa tertawa melihatku yang berlari. Ia juga memanggil-manggil nama kucingnya dengan sebutan “Si Manis” ish! Manis dari mana??
            Aku lupa selain suka memberiku pisang, terkadang tante Lisa itu jahil kayak si Yoga dan Yogi. Aku yakin betul sebenarnya Tante Lisa tahu kalau aku takut sama kucing, dasar virus Yoga dan Yogi sudah menular ke Tante Lisa, jadi demen menjahili aku. Begitu sampai rumah aku tidak tahu ternyata Yogi juga sedang berada di ambang pintu, dan BRUUK!!! Aku menabrak Yogi dan terjatuh di menindih Yogi, tapi posisinya punggungku menghantam tubuh Yogi.
            “ADDAAWW!!!” teriaknya. “INOOOK!! BANGUN LO! SAKIT NIH!” Erangnya. Masih dengan paniknya, aku langsung bangun dan kembali berlari menuju kamar. Takut tuh kucing ngikutin.
            “Waah, Yogi maafin tante yah, kayaknya kucing tante suka sama Neng Gia.” Tante Lisa nongol di pintu. Dengan segera Yogi yang masih terkapar di lantai langsung bangun dan cengengesan.
            “Tapi tuh anak nggak suka sama kucing Tante. Eh, bukannya tante Lisa juga tahu kalau Inok itu takut sama kucing?” Yogi heran. Tante Lisa malah tertawa sambil menggendong Si Manis.
            “Tante gemas aja lihat Neng Gia ketakutan, hihihi wajahnya itu loh Gi…” Tante Lisa tertawa lagi. Yogi hanya menggeleng-gelang.
            Di dalam kamar, aku sembunyi di balik selimut dengan memeluk boneka nyemot, eh monyet kesayanganku, namanya Ona, Oni dan Ono . Guling berbentuk pisang juga tak luput aku dekap. Sumpah! Itu kucing menyebalkan.

@#@$#%%&&$%

Bagian 3
Di Izinkan

            “Sstt…sstt…bang Yogi!” Aku memanggil Yogi yang saat itu sedang duduk bareng Yoga serta Papa dan Memey di ruang keluarga. Sedangkan aku hanya sembunyi di pintu. Yogi melirik ke arahku. “Semprul, Bantu gue…” kataku memelankan suara, Memey dan Papa sedang asyik mengobrol, sedangkan Yogi lagi baca buku dan Yogi sendiri asyik nonton tv.
            “Eh, Inok! Sini lo!” seru Yogi. Ini anak memang tidak bisa dikompromi, aku inginnya Yogi dan Yoga saja yang minta izin untukku. Papa, Memey serta Yoga kontan menoleh ke arahku. Berangsut-angsut aku menghampiri mereka dan langsung duduk di samping Memey dan bergelayut manja.
            “Asem dah, gue lihat kemanjaan elo, Nok.” Timpal Yogi.
            “Ih, sirik aja elo bang.” Jawabku.
            “Kamu belum tidur, Inok.” Kata Memey membelai lembut rambutku. Waaah, seneng deh di perlakukan seperti ini. Mampus tuh Yoga dan Yogi tidak bisa seperti aku.
            “Belum.” Aku tersenyum *author meleleh tiap lihat Dhera senyum*
            “Papa, Memey, Inok mau ngomong sesuatu nih.” Lanjutku sambil merilik Yoga dan Yogi. Yoga langsung berhenti membaca, dan meletakkan bukunya. ia sudah tahu maksud dari ucapanku, begitu juga dengan Yogi.
            “Ngomong apa sih, Nok?” Tanya Papa. Aku menelan ludah. Sekedar catatan, Papa dan Memey jarang mengizinkan aku pergi jauh, selain karena takut terjadi sesuatu aku juga belum terbiasa jauh dari Memey dan Papa *karena elo manja Inok*
            “Papa Memey, Inok mau minta izin. Besok Inok mau liburan bareng anak-anak Say’A ke villanya Akis.” Kataku to the point.
            Raut wajah Papa dan Memey langsung berubah begitu mendengar ucapanku tadi. Suasana jadi tegang, bayangan akan batalnya rencana besok sudah melayang-layang di kepalaku. Akis yang mewek, Aji yang manyun, Dera gedor-gedor kepala ke tembok dan Herdi ngamuk-ngamuk sambilguling. Aku menggelangkan kepalaku suapaya bayangan itu lenyap *Inok parno nih*
            “Buat apa kamu liburan ke sana, di sini juga bisa kan.” Kata Papa. Deg! Jawabannya sudah bisa di tebak, basi Pa.
            “Yaaah, Papa, Memey ayolah izinin Inok yah,” rengekku sambil merangkul Memey. Ku lempar pandangan ke Yoga dan Yogi yang hanya melihat, agar membantuku. Sejenak Yoga dan Yogi terdiam dan saling pandang. Parah nih kedua abangku, malah main pandan-pandangan, perlu dipertanyakan ada apa gerangan.
            “Gini Pa, Ma.” Kata Yoga. “Menurut Yoga sih izinin aja si Inok, kasihan juga kan kalau liburan besok ia hanya di rumah. Teman-teman terdekatnya kan bareng Say’A, lagian Yoga yakin anak-anak Say’A juga baik-baik dan mau menjaga Inok.” Top buat Yoga, kata-katanya membuatku berlinang air mata *huuaa lebay* kemudian si Yogi menyambung.
            “Bener juga kata Yogi Pa, Ma, sekali-kali biarkan saja Inok liburan nggak bareng keluarga. Yogi tahu di sana juga mereka tidak macam-macam.” Waahh, Yogi juga hebat, perlu sedikit tambahan, bicara Yogi terlalu simple *bener2 tukang komentar lo Nok*
            “Tuh, abang Yoga dan abang Yogi juga setuju, ayo dong Pa, Mey…” aku menatap mereka dengan tatapan memelas. Terlihat Papa dan Memey berpikir.
            “Bukannya gitu Inok, kamu kan manja banget orangnya, panakut lagi. Terus kalau di sana kamu gimana.” Kata Memey. Aku manyun dibilang manja da panakut, meski itu benar adanya.
            “Tenang aja Ma, itung-itung ini pembelajaran buat Inok, gimana kalau nggak ketemu Mama yang kerap kali minta di suapin.” Timpal Yoga.
            “Iya tuh, biar Inok merasakan jauh dari orang tua, tanpa melihat Gipson, tanpa pisang, nggak ada Ona, Oni dan Ono. Hahha…” sambung Yogi dengan di akhiri tawa. Loh, kok jadi mengejek gue sih, dasar kampret si Yoga dan Yogi. geramku dalam hati melihat mereka.
            “Hmm…bener juga yah Pa, biar Inok mandiri.” Kata Memey menyetujui perkataan Yoga dan Yogi.
            “Berapa hari di sana Nok?” Tanya Papa.
            “Dua minggu kurang, Pa.” jawabku langsung.*kurangnya berapa Nok, kurang banyak yah?*
            “Yah sudah kamu boleh liburan sama Say’A, tapi kamu harus jaga diri baik-baik.” Kata Papa. Rasanya aku ingin jingkrak-jingkrak di tempat tidur, meluk Ona, Oni, dan Ono dan mencium Gipson saking senengnya *kapan-kapan peluk Dheractions J*
            “Makasih Papa, Memey…” aku peluk mereka erat. Yoga dan Yogi saling tos.
            “Kenapa kalian tos-tos gitu?” Tanya Papa. Yoga dan Yogi menggeleng bersamaan. “Ya sudah Nok, sekarang kamu tidur sana.” Lanjut Papa.
            “Siiap bos!” sambil hormat ke Papa. Lalu mencium pipi Memey dan Papa. Ketika hendak pergi Yoga dan Yogi berdehem. Aku tersenyum, lalu menghampiri mereka berdua dan memeluknya. *waaahh akur nih* setelah itu langsung cabut ke kamar, menghubingi anak-anak Say’A tentang kabar baik ini.

^%^%^$^$&

            Di dalam kamar aku langsung sibuk menghubungi teman-temanku, kalau saat ini kami bertemu pasti sudah saling tos-tosan dengan gelak tawa yang menggema. Senang sekali rasanya besok bisa liburan bersama Say’A selama kurang lebih dua minggu pula. Hahhaha *girang banget si Inok*

Cerbung >> Dalam Dunia Dhera *Part 2*



eng ing eng...part 2 nongol...:)
sekali lagi yah diperingatkan, ini bukan kisah asli Dhera..cuma kebiasaan dan hal2 tentang Dhera aja itu nyata...
semoga kalian suka...dan jangan lupa bayangin wajah Dhera yah saat baca...:)

            “Belum, emangnya ada apa sih?” Yogi balik nanya.
            “Ih, belaga lupa atau emang elo pelupa sih, buat izin liburan besok lah.”
            “Oh iya yah. Tapi Nok, kalau Mama tahu elo masih ngeband bareng Say’A gimana?” Yogi terlihat ragu.
            “Ish! Elo kayak nggak tahu gue aja bang, udah ayo latihan gitar lagi.” Aku mendorong tubuh Yogi ke kamarku. Sudah tiga hari ini aku dan Yogi bermain gitar di kamarku, tidak terlalu sulit untuk mengajarkan bermain gitar pada Yogi. Abangku itu dari dulu sudah mengenal kunci gembok, *author sarap* maksudnya kunci gitar tinggal memperlancar saja. Dan yang paling membahagiakan, sepertinya Memey sudah welcome bila anak keduanya itu bermain musik, itu di yakini olehku ketika kemarin malam Memey memergoki aku sedang membimbing Yogi. Dan Memey hanya tersenyum lalu pergi.
            “Coba elo nyanyiin lagu Say’A yang selamat pagi.” Pintaku sekenanya. Aku sendiri sibuk dengan handphoneku. Sesekali aku tersenyum membaca message dari Fransiskus Ajie atau yang biasa dipanggil Aji sekaligus guitar di Say’A yang saat itu membahas acara untuk besok. Aku heran sama tuh anak, pelupanya semakin menjadi saja. Sempat Aji bingung besok ada acaraan apaan. Kalau pun ada obat pelupa buat Aji, pasti butuh waktu lama untuk menyembuhkan pelupanya, parahnya tingkat akut.
            “Inok, ini nadanya udah bener.” Yogi sambil menunjukkan kuncinya. Aku masih sibuk mengetik balasan untuk Aji dengan senyum-senyum sendiri. “Inooook!!! Gue ngomong sama elo!” Yogi pun meraih handphoneku.
            “Yaelah bang, gue denger kali. Balikin handphone gue.” Aku menyodorkan tanganku di depan Yogi. “Abaaang…balikin nggak!” aku menaikkan nada suaraku. Tiba-tiba handphonenya berdering tanda telpon masuk. Shit! Yogi malah mengangkatnya.
            “Oh, Akis.” Kata Yogi. “Apa, Inok. Dia nggak ada, lagi berenang sama Gipson.” Kata Yogi sambil tertawa.
            “AKISS!! Jangan dengerin abang gue yang tengil, gue di sini!” teriakku dan berusaha mengambil handphoneku. Dan tap! Berhasil, langsung aku beranjak dari tempat menuju ruang tengah, tempat aquarium berada dengan ikan lohan kesayanganku yang aku beri nama Gipson.
            “Iya Kis, gue lagi usaha buat izin sama Memey.”
            “Pokoknya elo harus ikut Nok.”
            “Iya bawel, inget yah nanti kita semua bawa alat musik, biar di sana bisa latihan juga.” Kataku sambil memberi makan pada Gipson.
            “Yah sudah Nok, nanti kita lanjut lagi.” Kata pemilik nama lengkap Balkis Sabiladina dan dipanggil Akis, cewek agak tomboy itu memegang Bass di Say’A. Kalau aku tentu di Vokal dan sesekali bermain gitar. Aku dan Akis tak jauh beda, kita sama-sama tomboy tapi tetap girly.
            Kemudian telpon terputus. Aku langsung memandang lohan kesayanganku dengan tatapan penuh segudang kasih sayang untuk ikan satu ini. “Gipson…besok gue mau liburan, gue pasti kangen banget sama elo.” Kataku sambil menatap mata Gipson. “Elo juga pasti kangen banget kan sama gue. Pengen sih, bawa elo liburan ke Villa Akis tapi itu nggak mungkin. Tempat elo ini gede, gue susah bawanya.” Melankolis aku jadinya melihat Gipson yang seakan mengerti dengan perkataanku tadi, ia mendekatkan kepalanya ke dinding aquarium sembari membuka dan menutup mulutnya seakan membalas ucapanku tadi.
            “Apa Gipson?” tanyaku. Ah, aku seakan mengerti Gipson berbicara apa. “Iya tenang aja, gue juga bakal kangen sama elo. Elo jangan khawatir, Memey dan Yogi pasti memberimu makan tiga kali sehari.” Tuturku lagi *Oh God, katakan kalau saraf Dhera tidak ada yang putus*
            “Gipson, gue sayang sama elo…mmuuaaacch!” aku mencium aquarium. Ku harap yang baca tidak salah paham!
            Setelah curhat sama Gipson aku langsung meluncur ke ruang makan dan mataku langsung tertuju pada buah warna kuning yang bertengger di atas meja makan. Dengan sedikit berlari aku langsung menyerbu buah pisang yang menggiurkan itu.
            “Waah, pisaaang…” langsung saja aku melahap satu pisang dan duduk di kursi. Ku edarkan pandangan ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Biasanya Memey yang biasa menyediakan buah pisang kesukaanku itu.
            Satu pisang sudah habis aku lahap, saking doyannya sama pisang, aku langsung membawa tiga buah pisang *maniak pisang nih si Gipson alias Dhera* ke ruang tamu, tentunya dengan satu pisang yang sedang kulahap.
            Aku tidak melihat Yoga, kalau Yogi pasti sedang asyik bermain gitar. Papa dan Memey belum kelihatan batang hidungnya. Aku putuskan untuk jalan-jalan di sekeliling cukup dengan jalan kaki, kali saja ada Jenggot Herdi.
            Dengan T-shirt biru dan jeans selutut aku membuka pintu depan. Daripada di rumah nunggu Memey tidak datang-datang mending jalan-jalan ke taman yang tidak jauh dari rumahku. Tiba-tiba handphoneku berbunyi.
            “Hallo, iya Bang ada apa?” kataku langsung begitu tahu yang menelpon adalah Yoga, tentu saja masih dengan melahap pisang *jangan ditiru, gak baik makan di jalan*
            “Inok, gue yakin elo pasti udah makan pisang di meja makan kan?” katanya.
            “He-eh, ini lagi makan.” Jawabku menatap satu pisang di tangan kananku, yang dua sudah masuk perut dan lagi diproses.
            “Bagus deh, kalau perlu elo habisin semua aja.” Kata Yoga. Aku berpikir sejenak, seharusnya Yoga tidak perlu berkata seperti itu, tanpa disuruh juga sudah pasti aku habiskan. Tunggu dulu, jangan-jangan hadiah yang dimaksud Yoga itu pisang!             “Bang, hadiah yang elo kasih buat gue itu pisang yah?”
            “Hmmm…maunya…”
            “Ih elo yah, gue emang suka pisang tapi Memey juga tiap hari beliin bang, elo ngasih gue yang istimewa ke’, hah! Sadis lo bang.” Sungutku dengan melempar kulit pisang ke tempat sampah yang ada di pinggir jalan. Dan PLUK! *anggap saja bunyi kulit pisang masuk tempat sampah* lemparannya tetap sasaran. Kalau kayak gini, boleh juga aku masuk baseball, pasti menang.
            “Bawel lo yah, udah tunggu aja nanti. Setengah jam lagi gue balik, sekarang gue lagi di rumah teman.” Klik! Telpon terputus. Aku menjulurkan lidah pada handhoneku sendiri.
            “Abang gue nggak jelas.” Aku pun kembali melanjutkan langkahku.
            “Neng Gia!” panggil seseorang. Nah, ada lagi panggilanku yaitu Neng Gia. Ini sebutan berlaku untuk para tetanggaku saja, sejak kecil sampai sekarang panggilan tetangga dengan sebutan Neng Gia memang sudah melekat, kalau  ada yang menjiplak aku bakal lempar ke bulan bareng Yogi. *berasa bulan pengungsian apa*
            “Iya tante!” jawabku melihat tante Lisa tetangga Memey yang super baik, sering memberi buah pisang secara cuma-cuma, betapa senangnya aku.
            “Sini sebentar.” Kata Tante Lisa lagi, masih membawa sisa pisang di tanganku, ku hampiri beliau. “Tante mau minta pendapat kamu tentang peliharaan baru tante.” Lanjutnya. Aku mengernyitkan keningku. Peliharaan baru tante Lisa? Gumamku. Setahuku dua minggu yang lalu Tante Lisa juga minta pendapatku tentang peliharaannya, yaitu dua ekor kelinci. Aku hanya menjawab “Lucu, Tante. Siapa namanya?” dan bla…bla…bla…Tante Lisa demen banget nyuruh aku berkomentar. Kalau kayak gini, mending aku jadi juri Indonesian Idol 2012 saja, biar nanti jadi tranding topic di twitter.
            “Apa tante, pasti yang ini lucu juga deh.” Ucapku sambil tersenyum *bayangin Dhera senyum* *langsung meleleh*
            “Sebentar yah,” Tante Lisa mengintip ke dalam pintu rumah. “Pus…pus…pus…” mendengar ucapan tante Lisa aku sejenak tertegun, mencoba mencerna sesuatu dari ucapannya itu.
            “Pus…pus…itu kan….” Gumamku.
            “Nah, sini manis…” Tante Lisa berjongkok hendak menggendong sesuatu yang ia panggil tadi. Tersadar apa yang Tante Lisa gendong, kontan aku histeris.


bersambung....

Cerbung >> Dalam Dunia Dhera *Part 1*


haiii..ini cerbungku...ini cerita tokohnya Dhera dan family beserta Say'A juga...tapi sekali lagi aku ingatkan, ceritanya bukan asli kehidupan Dhera...ini hanya mengambil kebiasaa2 atau hal2 yg disukai Dhera...jadi mohon kalau ada yg salah dalam penulisan, kritik dan sarannya aku tunggu berupa koment dan like yah...
dan semoga kak Dhera nggak marah ini aku bawa namanya...amiin..

cekiiiidooot....


Jumat, 1 Juni 2012


                                                       Bagian 1
                                                  Yogi dan Gitar

            Non Dhera Anggia Putri Prawitasari itu nama lengkapku, panjang kayak kereta. Tapi teman-teman memanggilku dengan sebutan Inok. Asal mula nama Inok sendiri itu karena….stop! Tidak baik menceritakan di sini, nanti akan aku ceritakan di lain waktu ;-). Sekarang aku tinggal di Cianjur, aku masih duduk di bangku SMA kelas XII. Tepatnya di SMA 1 Cianjur dan di kelas XII B5. Kesibukanku yaitu sekolah dan ngeband.
            “Inoook!!” teriakan keras langsung mampir ke telingaku. Sumpah, suaranya itu buat aku ingin melempar panci ke pemilik suara, yaitu Yogi. Cowok itu adalah abangku yang asli, jahilnya minta ampun. Kalau ibarat krupuk, aku ini udah hancur. Aku menghentikan permainan gitarku, dan langsung turun dari tempat ranjang kesayanganku.
            Belum juga membuka pintu kamar, Yogi sudah bertengger di ambang pintu kayak burung kelaparan *author sarap* Yogi cengar-cengir melihatku.
            “Ih, ngapain lo lihatin gue kayak gitu, serem.” Ujarku. Tanpa basa-basi lagi Yogi langsung menarik tanganku keluar kamar. Begitu sampai di taman belakang rumah, Yogi dengan memaksa mendudukkanku di kursi panjang yang terletak di bawah pohon. Masih dengan kebloonanku, aku hanya memandang Yogi yang modar-mandir di depanku.
            “Eh, elo kenapa sih bang, pusing gue lihatnya.” Umpatku. Yogi tidak menjawab, ia terus mondar-mandir dengan memasang tampang yang aku juga tidak bisa menjabarkannya. “Yaelah, kalau elo nyeret gue ke sini cuma buat lihat elo mondar-mandir nggak jelas, mending gue lanjutin main gitar.” Aku siap-siap bangun dari dudukku. Tiba-tiba Yogi langsung menahan tanganku dan mendudukkanku kembali dengan ia di sampingku.
            “Inok, elo jangan dulu pergi.” Ucap Yogi.
            “Yah elo nggak jelas.”
            “Gue butuh bantuan elo.” Mendengar itu aku mengangkat alis sebelah. “Gue minta sama elo, elo ajari gue main gitar.” DUAAAR!! Petasan tetangga meledak *padahal cuma hayalan* aku mengatup mulutku rapat-rapat agar tawaku tidak meledak seperti petasan tadi.
            “Heh, kenapa muka lo jadi jelek gitu?” Tanya Yogi heran. Aku pun tidak bisa menahan tawaku tagi, meledaklah sudah sampai memecahkan lampu-lampu di taman ini *authornya alay*
            “Inook, kenapa elo ketawa!” geram Yogi membekukku dari samping. Tetap saja tawaku tidak bisa berhenti. Catatan saja, dulu Yogi memang bisa main gitar, tapi kemudian Memey melarangnya. Kenapa? Bentar aku tanya sama Memey yah…
            “Hahha, elo serius bang.” Aku berusaha menghentikan tawaku. Yogi mengangguk. “Elo tahu kan, Memey nggak ngizinin elo main alat musik, udah elo fokus aja sama kuliah lo.” kataku sok bijak. Loh, kenapa sekarang aku ngeband dan di bisa main gitar tidak seperti Abangku itu. Itu sih, karena aku memang susah buat di larang, dan selagi itu hal positif, why not. Akan aku jalani.
            “Ayolah Nok, gue mau mengutarakan perasaan gue ke Helen tepat pada acara kampus.” Pinta Yogi lagi. Aku melongo mendengar ucapannya.
            “Wiih, wiih, ternyata elo romantis juga bang…” pujiku menepuk-nepuk punggung Yogi. “Siip, itu gampang tapi ada syaratnya.” Aku memunculkan senyum nyamping khasku.
            “Apa?”
            “Nanti kalau Memey sama Papa pulang, elo sama abang Yoga harus bantu gue izin sama Memey dan Papa agar gue di izinin liburan ke villa Akis minggu ini, gimana bang.” Ini nih, yang aku suka negoisasi sama Abang sendiri yang pasti tidak bakal bisa nolak.
            “Ok, ok gampang. Sekarang ayo ajarin gue main gitar, biar nanti nggak malu-maluin.” Dengan seenak jidat Yogi menarik tanganku lagi dan masuk rumah. Gila! Adiknya sendiri sudah seperti kambing yang harus diseret-seret. Ah! Kalau bukan abang sendiri, udah aku tendang ke bulan terus Yogi mendirikan tenda di sana, bila perlu di bikinin rumah biar kagak perlu pulang. *Dhera lagi sadis*

#^!#$@#@$@%%#^#@$#%^&

Bagian 2
        Rencana Akan Terlaksana
            “Memey…!!” Teriakku begitu memasuki pintu. Yoga yang saat itu berada di ruang tamu langsung menyahut.
            “Inok! Ini rumah bukan hutan.” Kata Yoga, kakak pertamaku. Yang juga berprofesi sebagai polisi seperti Papa. Tumben tuh anak ada di rumah, biasanya jarang pulang.
            “Yeehh, elo bang yang nyahut, Memey mana?” Tanyaku. Lalu mengikuti langkah Yogi duduk di sofa. Dengan entengnya aku melempar tas selempang ke arah Yoga.
            “Ups! Sorry bang…”
            “Inok, awas lo batal hadiahnya.” Ancam Yoga. Aku terdiam sesat. Hadiah?? Oh God, aku tahu kenapa Yoga pulang cepat, kemarin ia mengatakan kalau ada hadiah untuku aku yang manis ini.
            “Kyaaa…jangan gitu dong bang, sorry deh.” Aku bangkit dan langsung memijat-mijat bahu Yoga yang terkena lemparan tasku tadi. Yoga hanya memanyunkan bibirnya. Tidak ada reaksi yang istimewa dari Yoga. Tenang, masih ada cara lain. Aku pun memasang wajah memelas di depan Yoga.
            “Nggak ngaruh tuh wajah melasmu, Inok.” Tambah Yoga.
            “Abang, sorry…” aku terus memasang wajah melas di depannya. Yoga melirik wajahku yang sudah kayak ayam mau di sembelih.
            “Ok, ok, gue maafin.” Yoga mencubit kedua pipiku hingga menimbulkan rona merah di sana.
            “Thanks bang, elo emang abang gue yang paling baik sedunia maya deh.” Sambil merangkul Yoga erat. “Oh yah bang, Memey mana?”
            “Lagi belanja, emangnya ada apa?”
            “Gue pengen makan.” Manjaku.
            “Terus…” Yoga berlagak tidak tahu maksudku, padahal ia tahu betul aku ini  minta disuapin sama Memey. Aku hanya mengedip-ngedipkan mata sok manis *padahal  manis* dan manja. “Nggak Inok, sekarang elo udah gede, harus makan sendiri, elo nggak boleh manja terus.” Yoga memperingati.
            “Gue kan capek bang, kalau nggak ada Memey, elo aja deh yang nyuapin gue…” rengekku. Yoga hanya menggeleng. “Iiih, abang Yoga jahat sama adik sendiri!” sungutku memukul Yoga dengan tas selempang lalu pergi meninggalkan Yoga dan masuk kamar.
            Setelah mengganti seragam sekolahnya, aku lagsung menuju ruang makan dan makan sendiri tentunya. Kini keluargaku mulai membiasakan diri agar aku tidak manja lagi.
            “Inok!” seru seseorang, ternyata si Yogi. lupa belum ngasih tahu, Yogi itu Kakak keduaku tapi Yoga dan Yogi tidak kembar, pelu dicatat dijidat tuh. “Nah, gitu dong makan sendiri, jangan disuapin terus sama Memey,” Yogi mengacak-ngacak rambutku. Aku tidak menggubris perkataannya dan membiarkan Yogi bertindak sesuka hati, demi suapain terakhirku. Kemudian meneguk minuman di depanku dengan cepat.
            “Nok, elo minum kayak dinoraus yah.” Yoga menggelengkan kepalanya melihat tingkahku
            “Alhamdulillah. Huuaa…kenyang.” Aku tidak menghiraukan perkataan Yogi. “Memey belum pulang yah bang?” Tanyaku.
            “Belum, emangnya ada apa sih?” Yogi balik nanya.
            “Ih, belaga lupa atau emang elo pelupa sih, buat izin liburan besok lah.”
            “Oh iya yah. Tapi Nok, kalau Mama tahu elo masih ngeband bareng Say’A gimana?” Yogi terlihat ragu.

bersambung...