Minggu, 21 September 2014

Mendung Kan Berganti

cerita ini terinspirasi dari lagunya Mikha Tambayong. Semoga yg baca suka :)


***

Terkadang aku iri pada gadis-gadis cantik nan sempurna di sekolahku. Mereka bermodis, trendy (?), gaul, up to date, punya banyak teman. Sedangkan aku? 75 % berbeda dg mereka.

Lihat, gadis berdarah Indonesia-Jerman di samping lapangan tempat tongkrongannya, Laura bersama sejenis makhluk-makhluk bermodis lainnya. Laura tengah berkicau menceritakan kabar terbaru apa saja, terutama gosip-gosip hangat internasional, setelah itu membahas fashion apa saja yg lagi terkenal, bagus. Dan dari mereka semua, ada yang langsung bisa membeli ada yang cuma mendengarkan saja dalam hati bisa seperti Laura yg mampu membeli apa saja yang ia mau.

Aku memandang mereka dari jauh, di sudut lain. Sendirian tentunya. Ada hasrat ingin bergabung dengan mereka. Tapi itu tidak mungkin, karena aku hanya mendapat cacian saja dari mereka. Aku bangun dari dudukku, memandang Laura yang bersebrangan dengan tempatku.

"Elo mau ngapain? Mau gabung sama mereka." seseorang berujar dari belakang. Aku berbalik, Lisna dan Ai tengah melipatkan tangannya di dada, melihatku dengan cibiran maksimal.

"Jangan harap lo bakal diterima oleh mereka. Lihat dong bagaimana penampilan lo. Udik, cupu, kutu buku, astaga lo baru melangkah saja mereka ogah nerima elo." kali ini Ai yang berbicara. Aku tertunduk berusaha memfokuskan diri pada aspal yang aku injak. Penuturan itu sering aku dengar.

"Heh, diem lagi!" tiba-tiba Lisna mendorong bahu kananku. Seketika aku melihat wajah mereka berdua denga kegugupan dan kesal yg terpendam.

"Apa?! Mau melawan?" mata Lisna membulat, membuat aku menggeleng kuat-kuat. Mungkin karena keributan kecil ini membuat Laura di sudut sana menoleh dan sepertinya tertarik lalu menghampiri tempatku.

Tidak! Tuhan. Cukup aku merasakan ini. Mereka dalam jumlah banyak menghampiriku yang sendiri. Dan sudah aku tegaskan ini bukan yang pertama kalinya. Pasti mereka hendak mencaci makiku. Mereka, ah bukan, hampir seisi sekolah paling suka memperlakukan aku seperti ini. Aku selalu dipandang sebelah mata oleh mereka.

"Ada apaan Lis?" tanya Laura.
"Nih bocah kayaknya pengen gabung sama lo dan yang lain, Ra." jawab Lisna menunjukku dengan gerakan dagunya. Aku semakin tertunduk tak berani menatap mereka semua.

"Si kudet, kuper, cupu kamseupay ini mau gabung sama gue. Ih, najis tralala trilili." ini perkataan kesekian yang aku terima tiap harinya dari mereka yg berkuasa.

"Please Dher, kalau mau punya temen lihat dulu sekeliling lo kayak gimana. Terus liat diri elo sama gak," sambung Ai.

"Langit bumilah!" yang lain menjawab serempak. Aku kian tersudut, mataku mulai berkaca-kaca. Di sana-sini mulai mendorongku, menjawalku, menarik kepangan rambutku, mengacak-acaknya. Dan terakhir merampas kacamata mins ku.

"Please balikin kacamataku." pintaku dg suara bergetar.

"Akui dulu kalau elo itu kudet, kuper, cupu, kutu buku, dan kamseupay. Terakhir elo harus bilang, kalau elo gak pantas berada di sini." tantang Laura. Dadaku naik turun. Mataku teras memanas menahan genangan air mata.

"Bali...kin...kaca...mataku..." aku berusaha meraih kacamata dari tangan Laura.

"Oh, lo mau ini?" KREEEK!! Terdengar bunyi benda pecah. Tidak! Laura menginjak kacamataku sampai hancur. Yang lain tertawa puas.

"Heh! Besok lo harus ganti tuh kacamata!" suara lain terdengar. Kali ini suara cowok. Dan itu tidak asing bagiku.

"Adie?!" mereka semua tercengang.

"Kenapa harus gue yg ganti?" Laura berucap.

"Bodoh, karena elo yang ngerusaknya! Katanya elo bisa ngebeli semua yg elo mau, masa kacamata aja lo nggak bisa. Dan gue mau kacamata yang persis seperti yang elo hancurin!"jari Adie lurus menunjuk wajah Laura.
Dengan gerakan cepat Adie menarik tanganku pergi dari situ.

"Ganteng-ganteng kok sudi gandeng tangan cewek udik seperti Dhera!" kesal juga Lisna melihat Adie yang dengan entengnya menarik tanganku. Adie berhenti melangkah, dan berbalik menghampiri Lisna dengan tetap menggandeng tanganku dengan wajah tertunduk.

"Gue lebih gak sudi memegang tangan lo apalagi sampai gandeng lo." mendengar itu wajah Lisna 'mungkin' pucat pasi. Maklum, Adie adalah cowok yg jadi rebutan para kaum hawa termasuk Lisna.

Setelah itu Adie membawaku pergi ke parkiran sekolah. Menyerahkan helm putih padaku. Aku yang sudah sesegukkan dengan air mata yang tak mau berhenti sama sekali tidak menggubris ucapan Adie yang menyuruhku untuk segera naik motor sport birunya.

"Jangan nangis lagi Dhera, udah ayo cepat naik."

"Aku gak mau. Hiks...hiks...perlakuan kamu ini semakin membuatku jadi bulanan anak-anak. Hiks...aku capek dibilang itik buruk rupa yang berharap jadi angsa dan menjelma putri cantik lalu hidup bahagia bersama pangeran." tuturku.

"Banyak omong kamu. Nih pake." Adie memakaikan helm di kepaLaku. Tak lama kami melaju meninggalkan parkiran sekolah.

***

Tempat ini lagi. Bila di hitung, ini sudah kali ketiga Adie mengajakku ke sini. Bukit kecil yg di bawahnya terdapat tumbuhan ilalang.

Adie duduk dengan santainya di bawah pohon sesekali memejamkan kedua matanya. Sedangkan aku duduk tak jauh darinya, namun ada jarak di antara kita.

Mungkin aku adalah orang yg beruntung bisa dekat dengan Adie. Meski pun aku tidak tahu kenapa Adie selalu ada menolongku saat aku di ganggu anak-anak.

"Kenapa kamu selalu membantuku?" tanyaku. Adie membuka mata sebentar, lalu menyilangkan kakinya santai.

"Karena kamu nggak mau melawan. Dan aku nggak suka dengan perlakuan cewek-cewek bermuka badak seperti mereka." ucapnya melempar pandangan ke langit.
"Tapi mereka benar. Aku emang kudet, cupu, kamseupay..."

"Nggak seperti itu." Potong Adie cepat. Aku menoleh melihatnya. Entah tiba-tiba saja aku kesal pada cowok satu ini.

"Kamu tidak pernah berada di posisiku. Kamu tidak tahu bagaimana dipandang sebelah mata, merasa sendiri, tidak punya temen. Saat kamu ingin menumpahkan semua tangismu, tidak ada yang mau dengar. Kamu nggak tahu bukan bagaimana menjadi diriku." tanpa bisa kukontrol air mataku nyeloroh jatuh begitu saja. Perasaan terasingkan ini terlalu menyiksaku.

Kulihat Adie tak bereaksi apa-apa. Hanya memandangku dengan tatapan sayu. Ku tarik wajahku ke depan melihat ilalang bergoyang tertiup angin. Kemudian kepalaku menunduk, berusaha menghentikan air mata ini.

"Aku ingin seperti mereka. Punya teman, berasa dianggap. Didengar apa yang kita rasakan, apa yang kita mau. Aku ingin tertawa bersama mereka. Tapi...tapi...di mata mereka aku berbeda, dan itu memberikan garis besar untuk aku tidak masuk ke zona terlarang itu." isakku dengan perasaan perih.

Adie menggeser duduknya jadi di sampingku.

"Aku memang tidak merasakan bagaimana di posisimu Dher. Tapi yang aku tahu menjadi diri sendiri itu lebih indah. Bagaimana pun kita itu yang Tuhan suka. Bagiku kau beda, dan itu membuat dirimu lebih indah dari yang lain. Makanya mengapa aku selalu ada membantumu, karena kamu tak pantas di perlakukan seperti itu." tutur Adie.

"Tapi aku tetap aneh di mata mereka." aku masih kesal dengan diriku sendiri. Tiba-tiba Adie meraih tanganku menunjuk ke atas sana.


"Kau lihat langit itu. Mendung, kelabu. Dan kau lihat ilalang di bawah sana. Mereka seperti sedang menunggu sesuatu bersama angin. Iya, mereka menunggu awan cerah. Menunggu mendung hilang." Adie kembali menurukan tanganku. Aku masih tak mengerti dengan ucapannya.

"Dhera...kau hanya butuh keberanian untuk masuk ke zona mereka. Buktikan kalau kamu bukan seperti yang mereka pikirkan, buktikan kalau kamu memang pantas berada di sana, bahkan lebih indah dari mereka." entah sejak kapan Adie mendaratkan tangannya di atas tanganku.

"Aku nggak tahu bagaimana caranya?" entah sebuah pertanyaan macam apa yang aku lontarkan. Jelas tidak ada cara yang bisa kulakukan. Namun wajah Adie santai menatapku.

Tiba-tiba tangan Adie merogoh sesuatu di kantung celana abu-abunya.

"Dengan ini." Adie menaruh lipatan kertas di tanganku. Aku semakin tak mengerti. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku berusaha membaca lipatan kertas itu. Tapi terlihat buram di mataku karena tak pakai kacamata.

"Itu kompetisi menyanyi dengan bermain musik. Kamu harus ikut Dher, buktikan pada mereka kamu bisa memenangkan kompetisi ini." terang Adie. Setengah mati aku kaget mendengar ucapannya. Ternyata yang kini berada di telapak tanganku adalah pamflet kompetisi menyanyi dan bermain musik serta formulirnya.

Aku menggelengkan kepalaku. "Jangan konyol, aku tak bisa mengikuti ini, aku tak berbakat."

"Jangan dikira aku nggak tahu. Ah, lebih tepatnya kamu yang gak tahu. Kita satu kompleks perumahan, beda gang saja. Empat kali dalam seminggu kamu les musik. Tak jarang aku melihatmu naik sepeda dengan gitar kesayanganmu. Atau di antar abangmu yang kerap kali kamu cemberut bila abang mencubitmu." aku terhenyak untuk kesekian kalinya. Adie tahu aku les musik empat kali dalam seminggu. Adie tahu aku menyukai musik, dan dia dia dia satu kompleks dengan ku. Kenapa aku tidak tahu, tidak menyadarinya. Sejak kapan?

"Kamu..."

"Jangan pasang ekspresi seperti itu. Kamu nggak lagi lihat jurig." aku tersipu mendengarnya. Bagaimana aku tidak kaget, seorang Adie selama ini---memperhatikanku.

Kurasakan tanganku di belai lembut.

"Ikutilah kompetisi itu." ucapnya.

"Aku nggak yakin..." aku menelusuri tiap jengkal wajah Adie, mencari titik di mana cowok ini selalu meyakini, mempercayai, dan menyemangatiku. Yah, di bola mata bening. Semua itu terlihat di sana.

"Percayalah, mendung kan berganti." ucap adie lagi. Aku tak menjawab, dalam hati aku mau menuruti ucapan Adie. Orang yang mempercayaiku.

Aku harus menyibak mendung yang sekian lama bersinggah di hidupku. Saatnya aku biarkan awan indah bebas tak terhalang mendung.

***

Satu bulan kemudian...

Tubuh tak berdaya itu masih terbaring di ranjang. Matanya terpejam, dengan selimut menutupi tubuhnya sampai perut. Alat-alat medis terpasang di sana-sini pada tubuh itu.

"Dhera.." seseorang menyentuh pundakku. Ku terhenyak dari lamunanku lalu menoleh. Perempuan cantik tersenyum manis padaku meski kantung matanya membesar sama sepertiku. Kurang tidur.

"Tante..."

"Sudah subuh sayang, kamu salat dulu, biar tante jaga Adie." ucap wanita itu.
"Tapi tante..."

"Sudah tak apa Dhera, biar tante yang jaga Adie. Semalaman kamu nggak tidur." ucap tante Luna mamanya Adie. Padahal beliau juga sama tak tidur. Terus terjaga di sofa yang tersedia di kamar rawat ini.

Aku mengangguk kecil. Melempar pandangan ke cowok tak bergerak itu, pilu.
"Kapan kamu membuka mata, Die." batinku.

Aku keluar kamar, menuju musolah rumah sakit. Mengambil air wudhlu kemudian salat.

Doa apa pun aku panjatkan untuk Adie. Kesembuhan cowok yang sudah mengubah segala tentang keburukanku menjadi lebih indah. Cowok yang memberiku keberanian menyibak mendung dalam hidupku.

Usai salat aku berniat kembali ke kamar di mana Adie berada. Tiba-tiba langkahku terhenti, mendapati sebuah almari mukenah yang tingginya melebihiku. Satu sisi almari terdapat cermin, seluruh tubuhku dari ujung kaki sampai ujung kepala terpantul di sana.

Sejenak ku pandangi lekat-lekat pantulan wajah di cermin. Itu aku. Iya aku yang sekarang. Jeans cokelat muda perpaduan dengan T-shirt putih serta balutan cardigan hitam yang aku kenakan. Rambut sepunggungku tergerai bebas. Kontak lensa mins juga menghiasi mataku. Membuat aku dapat melihat dengan jelas tanpa kacamata. Bertolak belakang dengan aku yang dulu.

Ini semua karena cowok itu. Sekarang aku di anggap oleh mereka, di dengar oleh mereka. Bahkan tak ada lagi yang berani mencaciku, apalagi setelah aku memenangkan kompetisi yang Adie sarankan. Juara satu. Kompetisi yang cukup bergengsi. Sekali lagi ini semua karena Adie.

Teringat saat aku memenangkan kompetisi itu, Adie adalah orang yang selalu ada di sampingku, setia menyemangatiku dengan ucapan-ucapan ajaibnya. Saat piala kemenangan ku berikan pada Adie, saat itu dia memelukku dan mengungkapkan sebuah pengakuan yg hampir tak bisa ku percaya. Sampai detik ini pun aku ingat bagaimana ia menatapku dg manik mata yg indah.
"Aku mencintaimu, Dhera. Bukan karena kamu tlah berubah. Tapi karena hatimu, hatiku memilihmu." seraya menggenggam erat tanganku di depan gedung.
... Di depan gedung tempat kompetisi di adakan. Aku membeku mendengarnya. Demo di jantungku semakin kencang, tidak bisa aku kendalikan.

"Dher, apakah kau juga mencintaiku?" tanyanya seperti angin surga namun membuatku kian tak berkutik. Mataku bergerak berusaha mengalihkan kegugupanku. Tidak ada. Cuma cowok ini yg aku menarik perhatianku.

"Aku...aku..."

Nada dering Your Call nya Second Serenade dari handphone Adie terdengar. Adie mengucapkan maaf, dan agak menjauh dariku untuk mengangkat telpon. Aku mengangguk lega terbebas dari kegugupanku meski untuk sesaat.

"Iya ma, Adie masih di tempat Dhera, nanti Adie jemput mama kok." suara Adie terdengar lembut. Aku hanya melihat punggungnya dari tempatku dg perasaan tak menentu. Satu rasa terlintas di hatiku, kenapa Adie terasa jauh dariku.

"Nggak apa-apa ma, masih ada waktu kok. Nanti secepatnya Adie jemput, tunggu yah, ma." tiba-tiba Adie melirikku, aku hanya mampu tersenyum. Lalu ia balik setelah menutup telpon. Adie pamit padaku untuk menjemput mamanya. Lagi-lagi perasaan itu mengusikku.

Sebelum dia pergi dg motor sport birunya, dia mengucapkan sesuatu. "Nanti malam aku jemput kamu setengah tujuh. Berpakailah yg rapi, aku mau ajak kamu ke rumah untuk makan malam bersama mama, papa dan adikku." tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalaku.

"Tunggu aku Dhera, aku mencintaimu." bruum... Motor Adie melaju kencang meninggalkanku.

Naas. Dalam perjalanan menjemput mamanya, Adie mengalami kecelakaan dg sebuah truk yg melaju kencang. Tuhan, andai aku tahu itu aku tak akan mengizinkannya pergi, akan aku menahannya bersamaku. Hingga kini, Adie koma tak sadarkan diri. Sudah satu bulan lamanya.

Tiap hari aku ke rumah sakit, menemani Adie. Kadang sampai begadang bersama tante Luna. Hanya untuk menunggu Adie membuka matanya. Tuhan, aku berjanji aku akan mengatakan aku mencintainya saat dia membuka mata. Pertanyaan terakhir Adie pada pertemuan di depan gedung dulu yg belum aku jawab.
Kembali ku lihat pantulan tubuhku di cermin almari. Aku yg berubah menjadi angsa cantik karena Adie. Kenyataannya aku tak mendapati Adie tersadar dari komanya. Rasa pilu menyelimutiku lagi. Buliran air mata nyeloroh begitu saja di tebing pipiku.

Aku merindunya Tuhan.

"Adie.."

"Nak, kamu kenapa?" seseorang menyentuh bahuku. Aku tersentak dan langsung menyeka air mataku.

Seorang wanita berumur 40an masih memakai mukenah memasang wajah heran melihatku menangis. Aku menggeleng pelan dan menarik sudut-sudut bibirku. Tersenyum.

"Aku nggak apa-apa, Bu." ucapku lembut. "Saya permisi dulu." pamitku dg senyum. Buru-buru aku keluar musolah rumah sakit.

~~

Ku langkahkan kakiku berat menyusuri koridor rumah sakit. Sang surya tak juga nampak, rupanya mendung bergelayut di pagi ini.

Tepat di depan sebuah kamar di mana Adie berada aku berhenti mendengar perbincangan beberapa orang di dalam. Aku sedikit membuka pintu, di sana Tante Luna bersama suaminya Om Ferdy, serta dokter yg menangani Adie tengah berbincang serius. Satu lagi, cewek berambut panjang memdakai pita pink di rambutnya merangkul tubuh Tante Luna, menangis di sana. Itu Alia adik satu-satunya yg Adie punya.

"Maafkan saya dan pihak rumah sakit. Bukannya kami tidak bisa menangani anak Bapak dan Ibu. Namun secara medis anak kalian..." dokter menggantung ucapannya. Aku tegang di ambang pintu dg tangan memegang gagang pintu tersebut. Aku tak berani masuk mendekati mereka.

"...sudah tidak ada." lanjut sang dokter. Deg!
Tangis ketiga orang itu pun meledak, begitu juga denganku. Pijakanku seolah runtuh mendengar ucapan dokter.

"Apa tak ada cara lain untuk menyelamatkan anak kami, dok?" tanya Om Ferdy. Alian memeluk tubuh mamanya erat, dari mulutnya terus menyebut-nyebut nama kakaknya.

Dokter tak menjawab. Ada gurat kesedihan juga di wajahnya. Sebelumnya tante Luna bercerita padaku tentang kondisi Adie. Kecelakaan yg di alaminya memang cukup parah. Untuk sadar dari komanya saja...

Untuk sadar dari komanya saja itu hanya berapa persen. Dokter juga mengatakan Adie bertahan karena dipicu dg alat detak jantung.

"Dok..." lirih tante Luna, pertahanannya seakan hancur sudah.

"Kasihan sama anak ibu dan bapak harus merasakan ini." ucap dokter itu lagi dg intonasi rendah.

Terlihat om Ferdy berpikir keras. Aku sendiri sedari tadi menahan jantungku yg berdentum kencang melihat apa yg akan mereka lakukan pada Adie selanjutnya.

"Terus bagaimana dok?" tanya Om Ferdy memegang tangan istrinya seolah memberi kekuatan pada istri serta anaknya bila dokter memberi jawaban buruk.

Tib-tiba dua orang suster masuk. Membuat aku sedikit bergeser. Tapi masih di ambang pintu.

Aku takut, merasa sangat takut.

"Kami meminta izin untuk melepas semua alat medis yg membantu Adie. Kami minta maaf sudah mengatakan ini pada kalian. Kami semua sudah berusaha keras membantu kesembuhan anak bapak dan ibu. Tapi tidak ada perkembangan sampai sekarang, malah keadaannya semakin memburuk." terang dokter. Perkataan dokter itu sukses membuat kedua orang tua dan adik Adie menangis pilu. Begitu juga dg ku. Seperti ada yg meloloskan tulang-tulang dari tubuhku. Aku lemas seketika. Aku tahu maksud dokter, mungkin orang tua Adie juga mengerti.

"Kakak...kakak..." tangis Alia berhambur memeluk Adie yg terpejam. Om Ferdy langsung memeluk istrinya. Dokter dan dua suster itu juga turut bersedih.

Kakiku seperti tak menyentuh bumi. Sampai-sampai ku berpegang pada sisi pintu. Entah om Ferdy berbicara apa. Aku tak bisa lagi fokus.
Aku tak bisa lagi untuk fokus. Namun mataku melihat dua suster itu mendekati ranjang Adie. Mereka mulai melepas alat medis yg terpasang di tubuh Adie.

"A...die..."tanganku terjulur hendak meneriaki mereka. Tidak, jangan lakukan ini padaku. Mereka, mereka, mereka harus di hentikan. Tapi kakiku tak bisa digerakkan. Tangis histeris tante Luna dan Alia menggema, membuatku semakin runtuh.

Tubuh Adie bergetar sebentar. Sedetik kemudian tubuh itu melemah bersamaan dg nyelorohnya tubuhku di lantai depan pintu. Air mataku semakin deras, tangisku terasa sesak di tenggorokan.

Aku merangkul lututku erat, menenggelamkan seluruh kesedihanku.

"Aaaarrrgggh!" erangku memukul-mukul lantai.

Tuhan, kenapa kau ambil Adie dg cara seperti ini. Aku belum mengatakan perasaanku yg sebenarnya. Kenapa Engkau tak memberi waktu sedikit lebih lama padaku untuk membahagiakannya dg caraku.

Adie...Adie...Adie... Kembalikan dia padaku, Tuhan.

>,<

Tiga hari kemudian..

Angin membelai lembut wajahku dg mata terpejam. Angin ini, surya yg terhalang mendung, langit di sana sana, ilalang yg setia menunggu mendung hilang, semuanya masih sama. Seperti terakhir aku bertemu Adie di sini.

"Percayalah mendung kan berganti." seperti ada sebuah bisikan di telingaku. Kontan aku membuka mata, ada sebuah wajah tersenyum dg tangan menunjuk ke atas. Itu Adie.

Aku mengikuti tangan Adie. Di langit sana, entah bagaimana caranya. Angin pelan-pelan menyibak mendung berganti dg warna langit cerah serta gumpulan awan sirus dg serat-serat halus dan tipis seperti kapas.

Indah!

Saat aku menoleh lagi, wajah dan senyuman Adie menghilang. Kini aku yg tersenyum.

Adie, ku akan menjadi Dhera yg tegar, kuat, dan tangguh. Terimakasih kau telah membuka jalan untukku menjadi lebih baik.

Untukmu, Die. Ku kenang dirimu di sini. Aku percaya mendung kan berganti, kesedihan kan berganti. Namun kau tetap di hatiku, bersemayam di sana.

End

Kamis, 10 Januari 2013

Menggapai Bintang Impian #Cerpen#



Kamis, 10 Januari 2013
Menggapai Bintang Impian

          Dua jam berlalu, aku masih tetap saja berkutat dengan buku bersampul daun berserakan yang selalu kubawa kemana pun. Beberapa kali terdengar teriakan Mama yang menyuruhku makan. Tapi aku tak mau beranjak. Masih menulis semua ide yang ada dalam otakku hingga menjadi sebuah cerita.
            “...dan Awan akan menjadi kenangan untuk Quila. Tidak harus dengan status pacaran untuk mendapatkan seseorang. Tapi, dengan status sahabat sama saja dengan...”
            “Ivhi!” pintu kamarku terbuka total. Di sana Mama dengan menatapku tajam. Segera kumunculkan senyum di bibir tipisku. “kamu selalu lupa waktu kalau nulis. Makan dulu, Vhi!” bentak Mama. Aku langsung menutup buku catatan itu dan turun dari ranjang.
            “Iya ma, ini mau makan.” Sambil garuk-garuk pipiku dan tersenyum.
            “Kalau nggak Mama ingatkan, kamu bakalan nggak makan. Nulis sih, nulis Vhi, tapi harus tetep jaga kondisimu. Kamu ini susah dibilangin, kalau magg nya kambuh kan, mama juga yang repot.” Dan seperti inilah mama, bawelnya minta ampun.
            “Iya, maafin Ivhi.” Ucapku pelan.
*
          Aku duduk di meja makan, dengan mama yang sedang membereskan dapur dan muncuci piring. Yah, karena aku sendiri yang belum makan. Bunyi benturan sendok dan piring terdengar. Saat suapan pertamaku, mama sudah berceloteh lagi. Celotehan yang sama, sering aku dengar tiap harinya.
            “Kamu mau jadi apa sih, Vhi, dari nulis? Mending bantu mama jahit, pesanannya lagi banyak. Nulis kan nggak dapat apa-apa.” Ujar mama. Aku tak menjawab, terus mengunyah makanan dan memperosesnya dalam perutku ini. “wong, kamu dari dulu nulis, tapi nggak ada hasil apa-apa toh.” Tandas mama lagi.
            “Semuanya kan butuh proses ma, Ivhi mau nekuni hobby nulis ini. Ivhi pengen jadi penulis. Suatu saat pasti cita-cita Ivhi akan tercapai, dan bisa bantu mama.” Belaku. Dari dulu mama memang tidak menyetujui aku menulis. Alasannya banyak, bilang nulis itu kerjaan yang tidak pasti, apalagi sampai dijadikan profesi. Nulis itu sedikit mendapatkan sisi finansial jika tidak dikembangkan di kota-kota besar. Itu sebagian kecil pendapat mama, antara setuju dan tidak setuju aku mendengarnya. Mama juga mengatakan bahwa nulis itu menyita waktuku, aku lupa makan, lupa bantu mama, dan kadang lupa mandi kalau sudah nulis. Mama ini bawelnya minta ampun, dan semua ini aku terima, karena memang salahku yang selalu tidak tahu waktu.
            “Sebenarnya mama nggak suka kamu nulis Vhi, buang-buang waktu. Toh sampai detik ini kamu belum ada perkembangan kan, cerpen-cerpen yang kamu kirim ke majalah juga belum dapat respon.” Mendengar itu aku menghentikan suapan kesekian. Bosan rasanya mendengar larangan mama yang satu ini. Tidak suka nulis.
            “Mama kok gitu, jadi penulis itu impian Ivhi ma, kalau masalah cerpen-cerpen itu kan Ivhi masih dalam tahap. Nggak mudah masuk ke suatu majalah. Tapi Ivhi akan terus berusaha, masih banyak waktu.” Ucapku. Jangan tanyakan kalau aku tidak berusaha meyakinkan mama tentang hobby dan cita-citaku. Aku selalu berusaha. Selalu. Tapi mama masih bersikeukuh dengan pendapatnya tentang seorang penulis.
            Selera makanku hilang sudah. Aku berdiri, kemudian meninggalkan ruang makan. “Ivhi, makannya di habisin!” teriak mama. Aku tak peduli, langsung saja kuhempaskan tubuhku di ranjang, memeluk boneka pisangku erat-erat.
            Selalu seperti ini. Kenapa mama sangat menentang hobbyku, apa yang salah. Banyak teman-teman yang mendukung hobbyku ini, mendukung cita-citaku sebagai seorang penulis novel dan cerpen. Tapi aku tidak mendapat dukungan sekali pun sama mama, papa dan abangku. Dari Sekolah Menengah Pertama aku sudah mencoba mengirim karyaku yang berupa cerpen ke koran dan majalah, tapi selalu tidak mendapat respon. Tidak jatuh, malah aku terus mencoba, mungkin ada yang salah dengan tulisanku. Kuperbaiki lagi, mencoba tema lain, mencoba sudut pandang lain. Dan lain sebagainya. hingga kini aku tengah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas XII. Mungkin ini yang mama maksud, beliau tidak ingin aku tidak konsen belajar. Tapi selama ini nilai-nilai sekolahku baik-baik saja. Aku teringat ucapan guru pembimbingku “Kalau kamu suka menulis, boleh saja. Galih terus kemampuan kamu. Tapi jangan pernah kamu jadikan hobby kamu ini sebagai penghalang. Penghalang apa saja, belajarmu, membantu orang tua dan sebagainya. Tapi, jadikan nulis itu pengiring hidupmu dan tempatkan pada posisi dan waktu yang benar.”
            Ucapan itu selalu aku ingat, sebisa mungkin hobby nulisku terus jalan tanpa meninggalkan kewajibanku sebagai seorang pelajar. Tanpa meninggalkan statusku sebagai anak yang membantu mama. Sejujurnya aku ingin sekali mendapat dukungan penuh dari keluarga, tapi nyatanya, tidak. Aku tidak mendapatkannya. Kecuali satu, jika aku berhasil membuat mama melihat hasil kerja kerasku.
            “Indah!” pekikiku teringat sahabat terdekatku. Meski usianya beda satu tahun dan dia adik kelasku di sekolah yang sama. Hanya dia yang mau mendengarkan keluh kesahku. Tentang apa saja. Aku meraih tas selempang serta memasukkan buku catatan. Secepat kilat aku keluar kamar menemui mama yang sedang duduk di ruang tengah dengan menekuni gambar pola baju yang dibuatnya sendiri.
            “Ma, Ivhi mau ke rumah Indah dulu.” Seruku.
            “Hmm...jangan lama-lama, sepulang nanti bantu mama nyelesaikan jahitan.”
            “Yah,” aku mencium punggung tangan mama dan berlalu.
*
            Dengan mengayuh sepeda santai, kunikmati setiap terpaan mentari dikulitku. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di rumah Indah. Dan saat kuparkirkan sepeda di depan rumah yang dikelilingi berbagai macam bunga, tiba-tiba pintu terbuka. Indah berdiri dengan melipatkan tangannya di depan dada.
            “Sudah gue duga, itu bau elo.” Ucapnya langsung. Aku nyengir lalu menghampirinya.
            “Maksud lo?”
            “Hidung gue nyium aroma lo, sekitar beberapa meter dari rumah gue. Bener kan, lo dateng.” Ucapnya enteng seraya menunjuk-nunjuk hidungnya sendiri.
            “Hidung lo tetep oke Ndah, kapan-kapan kalau sepatu gue ilang, boleh juga tuh, minta bantuan hidung lo.” Aku mengikuti langkah Indah memasuki rumahnya.
            “Sorry sist, hidung gue terlalu canggih buat nyari sepatu bau lo.” Kami tertawa bersama. Sedetik kemudian aku menahan tangannya yang mau membuka pintu kamarnya yang aku tahu bernuansa oranye. Semua berbau oranye Indah suka. “Apa?!” ia memincingkan sebelah matanya.
            “Kali ini gue nggak mau numpang tidur di kasur matahari lo, gue juga nggak mau pakai aksesoris oranye lo, apalagi pinjem buku diary Winy The Poo lo.” Aku menyebutkan kebiasaanku bila di kamar Indah.
            “Terus...”
            “Gue mau ke kebun lo, tempat favorit kita. Pengen nikmati cuaca hari ini.” tambahku. Indah semakin tak mengerti. Ok, biasanya aku paling rame kalau sudah main ke sini, apalagi sama cewek satu ini. Indah urung membuka kamarnya. Tanpa ba bi bu lagi, ia berlari ke belakang, dan kembali dengan menenteng satu buah tikar, satu bungkus plastik berisi makanan dan minuman.  Aku melongo melihatnya, apalagi dengan mengembang kan senyum bibirnya membuat pipi Indah chubby.
            “Gue tahu betul lo gimana Vhi, pasti di sana lo mau nulis, ngeluarin unek-unek lo ke dalam tulisan. Dan gue dianggurin. Sekarang gue nggak akan bosen, gue udah nyiapin makanan, minuman dan MP4.” Ucapnya bangga. Bagus. Indah memang tahu segalanya tentangku.
            Lokasi kebun Indah juga tidak terlalu jauh. Kami cukup berjalanan kaki saja ke arah Barat dari rumah Indah. Bila yang lain lebih memilih jalan-jalan ke mall, atau ke pusat pembelajaan, aku dan Indah tidak. Ini tempat favorit kita dari kita sama-sama duduk di bangku SD. Pembeda umur kita tidak terlalu dipikirkan, panggilannya juga gue-lo, seakan kita ini sebaya.
            Aku langsung menggelar tikar di bawah pohon mangga. Di depan kita hamparan sawah yang sudah menguning, sebentar lagi siap panen. Di kebun Indah juga ada saung cukup besar, dengan sumur yang airnya sangat jernih. Ayahnya Indah memang suka berkebun, dari kebun inilah macam sayuran di tanam, lihat saja tubuh Indah tinggi langsing gitu. Kebanyakan makan sayuran.
            “Vhi, gue ke rumah tante Mira dulu yah, mau pinjam gelas.” Kata Indah, aku hanya mengangguk. Satu lagi, ini kebun juga dekat dengan dua buah rumah, salah satunya rumah tante Mira, tantenya Indah. aku sudah menyiapkan semua makanan dan minuman untuk Indah. Sekilas, kita seperti sedang piknik di alam terbuka.
            Hampir tujuh menit Indah tak kunjung datang. Pasti itu anak diajak ngobrol dulu sama tante Mira. Aku menunggunya sambil mencoret-coret buku yang kubawa. Tanpa menulis apa-apa. Yang ada hanya lingkaran tak jelas.
            “Sorry lama, tante Mira lagi bikin kue, eh malah dikasih ini.” Indah datang dan menunjukkan satu piring berisi kue-kue yang sangat menggiurkan dan dua buah gelas yang ditaruh di plastik, Indah malah sudah makan dua. Ia duduk di sampingku. “loh, bukunya kok malah penuh coretan, nggak nulis?” Aku menggeleng, memberhentikan aktivitas tanganku lalu meraih sepotong kue dan memasukkan ke mulut.
            “Gue buntu.” Jawabku singkat sambil memandangi langit biru terang dengan arsiran awan tipis. Masih sama seperti dulu, aku tetap menyukai awan.
            “Buntu?!” seru Indah lalu tertawa kecil. “nih yah, setahu gue lo akan guling-guling kalau otak lo buntu, lo bakal acak-acak kamar gue kalau elo nggak dapat ide buat nulis. But, ini beda. Lo itu nggak buntu,” tuturnya. Aku mendelik memperhatikan wajah oval Indah yang putih mulus.
            “Lo ngomong apa sih, emangnya kalau gue otak gue buntu gue harus guling-guling, gue harus acak-acak kamar lo.” Kurebahkan tubuhku di atas tikar sambil mendekap bukuku di dada. Pandangaku masih ke awan-awan itu yang malai berarak semaunya.
            “Ok, ok, kayaknya elo sedang punya masalah. Nggak biasanya lo kayak gini, nggak rame. Otak lo udah menjelma menjadi sebuah kuburan angker.” Celoteh Indah tak henti.
            “Omongan lo makin ngaco Ndah, kesurupan apa sih, lo.” Alisku terangkat melihat Indah yang sedari tadi makan saja.
            “Aduh Ivhi, lo pikir gue kenal lo baru kemarin sore gitu. Nggak, Nyet! Dari kecil kita bareng, gue tahu lo, dan lo tahu gue.” Glek! Indah meneguk minumannya. “wajah lo itu mendung tahu nggak, nggak sesuai dengan cuaca hari ini.” lanjut Indah. aku menghela napas panjang. Indah memang tahu segalanya. Aku tidak bisa bohong, mungkin dengan menceritakan masalah tadi bebanku akan berkurang. “ok, lo tahu kan gue itu pendengar setia. Sekarang kuping gue siap, ayo cerita sama gue, Vhi.” Aku mengembuskan napas kasar. Sekali lagi, mencari titik di mana aku harus memulai cerita ini.
            “Mama nyuruh gue berhenti nulis Ndah, meski nggak secara langsung.” Satu ucapan keluar dari mulutku pelan. Indah berhenti memakan kripik singkongna. Ia melirikku sebentar, sebelum kembali memakan kripik itu.
            “Masih nggak setuju juga kalau lo ingin menjadi penulis?” ini pertanyaan mungkin, yang sebenarnya  tidak perlu Indah tanyakan. Karena ia sudah tahu sendiri jawabannya. Tidak. Pasti. “terus lo mau berhenti nulis seperti yang mama lo inginkan?”
            “Nggak tahu. Sekarang mama mulai ngungkit-ngungkit usahaku yang tak kunjung membuahkan hasil. Lo tahu kan gue sangat, sangat, sangat ingin menjadi penulis. Tapi mama selalu mengatakan kalau seorang penulis itu....” aku menarik napas berat. “...finansialnya kecil.” Lanjutku. Indah tak menjawab, ia tahu masih banyak yang menganggu pikiranku. Ia pasti menunggu kelanjutan episode curhatan ini.
            “Ndah, apa mungkin yah, gue nggak berbakat nulis. Tak ada satu pun karya gue yang dilirik penerbit majalah atau koran.” Kali ini nada suaraku terdengar putus asa. Ah, apakah aku salah berbicara seperti itu?
            “Salah lo, ngomong gitu,” dan dijawab Indah. “lo lupa kalau puisi lo pernah masuk majalah dan koran? Itu artinya lo layak, Vhi.”
            “Tapi mama belum juga yakin, Ndah. Apalagi kalau lihat masalah cerpen gue yang nggak ada kabarnya.” Sungutku kesal. “mungkin benar kalau gue ini aslinya emang nggak bakat, Ndah. Gue nggak bisa gapai bintang impian gue jadi seorang penulis.” Kali ini Indah merubah posisi duduknya menghadapku yang rebahan di atas tikar. Mata bulatnya menatapku lekat, tiba-tiba Indah menjejali mulutku dengan bungkus kripik singkong.
            “Ngomong lo ngawur. Lo tuh berbakat Vhi. Gue masih inget saat lo kehilangan kepercayaan diri lo buat nulis, bahkan lo nekat mau berhenti nulis. Gara-gara lo denger omongan pembimbing lo tentang bakat lo yang emang nggak terlahir dari diri lo, tapi karena usaha lo bakat itu jadi ada. Lo udah buktiin kalau elo itu bisa, pembimbing lo benar, lo nya aja yang ciut nyali.” Ucap Indah. Kembali kulempar ingatan tentang itu. Yah, dulu sempat aku mau berhenti nulis. Karena pembimbingku mengatakan : “Sebenarnya kamu itu tidak terlalu bakat nulis dari diri kamu, kata-katamu standar Vhi. Tapi karena usahamu yang keras, kamu berhasil menumbuhkan bakat itu, meski belum sepenuhnya. Dan jika kamu berhenti berusaha dan belajar, maka semuanya akan sia-sia. Yang perlu kamu tunjukkan pada kita semuanya, hanyalah tunjukkan kalau kamu bisa dengan usaha dan keyakinanmu, untuk ‘menjadi’.”
            Mataku berkilat, tanpa sadar pelupuk mataku sudah tergenang air mata. Aku menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. “Tapi bintang impian gue jauh Ndah, gue nggak bisa menggapainya. Mama benar, mungkin bintang impian yang gue harapka itu terlalu indah, terlalu sulit untuk gue jangkau.” Lagi-lagi terdengar putus asa. Indah, pembimbingku, semuanya, memang benar aku bisa nulis karena usaha dan keyakinanku, meski tulisan yang aku hasilkan jauh dari orang-orang yang sudah handal. Tapi aku selalu punya keyakinan, bahwasanya semua itu butuh proses, mungkin proses yang aku jalani masih banyak. Tapi, rasanya begitu sulit melalui setiap prosesnya.
            Hening, tak ada yang berbicara lagi. Entah Indah sibuk apa, yang kutahu ia sedang melipat-lipat sedotan plastik bekas minumannya tadi. Aku tak mau mengusiknya. Tiba-tiba sesuatu menempel tepat di hidungku. Sebuah bintang dari sedotan plastik. Aku melirik Indah yang sedang tersenyum manis ke arahku. Kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya di sampingku.
            Ku pandangi satu bintang sedotan yang kutahu Indah yang membuatnya. Setiap sisinya kuteliti, buatan tangan cewek ini memang rapi. Tapi apa artinya?
            “Itu bintang buat lo, bintang sederhana.” Ucap Indah pelan. Dari samping kuperhatikan wajahnya. “Vhi, lo itu bisa menggapai bintang impian lo. Lo tahu, bintang selalu punya keistimewaan dibalik kesederhanaannya. Mungkin banyak orang yang nganggap bahwa bintang impian lo itu jauh dari jangkauan lo sendiri. Sampai-sampai lo hanya bisa mandanginya dari kejauhan, sama halnya elo lihat penulis-penulis terkenal yang wara-wiri di televisi. Sama halnya lo lihat karya orang lain dimuat di majalah, koran dan sebagainya, dan dengan khusuknya elo membaca bintang impian mereka. Tapi mereka dan elo itu nggak beda, Vhi. Mereka dan elo juga sama-sama berusaha untuk ‘menjadi’, hanya waktu yang menjadi pembeda. Mungkin waktu mereka untuk ‘menjadi’ itu cepat dari usaha mereka dan waktu elo lama. Tapi, tetap tidak menutup kemungkinan lo itu bisa selama lo mau berusaha.” Terang Indah panjang lebar. Aku mendengarkan dengan saksama, memaknai setiap ucapan sahabatku ini.
            “Lo nggak tahu betapa sulitnya, Ndah.” Lirihku.
            “Nggak ada yang sulit selama lo mau usaha.” Kata Indah lagi. “lo lihat bintang sedotan di tangan lo. Itu bermula dari sedotan lurus kan, tapi sekarang berubah bentuk menjadi sebuah bintang setelah melalu proses yang gue lakukan tadi. Sama seperti tulisan cerita lo, Vhi. Deretan tulisan lo yang ada di sini.” Indah meraih buku catatan dari dadaku. Ia membukanya satu persatu hingga pada satu judul ‘Pangeran dalam Minibus’. “...ini tulisan juga butuh proses Vhi. Gue yakin sama lo, gue percaya sama lo, kalau elo tuh bisa dengan usaha keras lo. Dengan keyakinan lo.” Mataku berkaca-kaca mendengar penjelasannya.
            “Ndah...”
            “Vhi, gue sahabat lo, gue tahu apa bintang impian lo. Percayalah sama hati lo Vhi, tanamkan satu keyakinan kalau elo bisa seperti mereka. Gue nggak mau denger lo putus asa, nggak mau nulis, otak buntu, dan sebagainya. Gue cuma mau lihat lo berusaha, lihat lo nulis dengan semangat yang elo punya. Gue di sini Vhi, sama seperti waktu kita kecil dulu. Selalu ada kalau lo ngebutuhin gue.” Ucapnya meletakkan buku itu di telapak tanganku seraya mendekapnya kembali. Satu tetes air mata jatuh. Indah menghapusnya.
            “Gue janji Ndah, gue janji akan terus berusaha. Gue akan buktikan ke mama, kalau gue bisa.” Ucapku yakin.

Tamat
Kamis, 10 januari 2013

Rabu, 02 Januari 2013

Bintangku, Dhera #Cerpen#




02 Januari 2013

Bintangku, Dhera


"Makan Malam!" pekik Dhera mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Febri dengan lancar, tanpa hambatan apa pun. "Jadi, kak Febri ngajak gue ke mall, nyalon, beliin dress yang langsung gue pake ini, untuk ngajak gue makan malam!" mata Dhera membulat sambil menunjukkan dress mini berwarna pink berpaduan dengan warna putih. Warna kesukaannya.

Febri mengangguk yakin. Senyum manis tak pernah lepas darinya.
"Reaksi lo lebay ah!" Febri menggandeng tangan Dhera dan membukakan pintu mobil untuk cewek cantik yang belum menghilangkan wajah kekagetannya. Bruumm, Febri menjalankan mobil dan melaju menuju rumahnya.

"Seharusnya kan elo bilang dulu ke gue kak, setidaknya gue...gue..."
"Apa?! elo udah nyalon, udah cantik ini. Kayak barbie." Puji Febri memperhatikan Dhera dengan semua meronanya.

"Gue lebih suka dibilang kayak batman, spiderman, super hero gitu deh, daripada Bar-bie. Dan alangkah senangnya bila dibilang kayak Spongebob, atau Pat-rick (bener gak tulisannya -_-") !" bibir Dhera manyun-manyun membuat Febri tertawa. Kalau sudah seperti itu tidak ada alasan baginya untuk tidak mencubit pipi chubby Dhera.

"Kita pacaran udah tiga bulan, gue pengen mama dan papa tahu. Elo tenang aja Dher, mereka pasti seneng lihat elo. Cantik gini..."
"Kalau kebalikannya gimana."
"Suka." tandas Febri yakin. Kemudian hening. Febri konsen menyetir sedangkan Dhera menyiapkan mental untuk bertemu dengan orang tua Febri.

Akhirnya mereka sampai pada sebuah bangunan bergaya klasik namun tidak meninggalkan kesan mewahnya. Febri memarkir mobil di depan, lalu membuka pintu untuk Dhera. Wajah Dhera agak pucat.

"Lo, nggak apa-apa?"
"Gue cuma takut Papa sama Mama kak Febri nggak suka gue. Takut kalau gue bikin keributan." ujar Dhera menunduk.
"Lo parno ah! Anggap aja mereka Papa dan Memey elo, Dhera sayang... yuk ah, gue jamin semuanya baik-baik aja." Febri menggandeng lengan Dhera memasuki rumahnya.

Wanita cantik menyambut kedatangan Febri dan Dhera. Wanita itu mengenakan long dress berwarna biru malam. Rambutnya di ikat ke atas dengan sedikit bergelombang. Anggun. Dhera semakin kikuk. Sebaliknya untuk Dhera. Yang membuatnya tampil beda malam ini, hanya mini dress yang memang Dhera jarang memakainya, kalau tidak salah, saat SMP kelas 1 terakhir ia memakai Dress. Terus high heels sederhana berwarna putih menghiasi kaki putihnya. Tentu saja ini high heels sempat berseteru dulu dengan Febri. Karena waktu memilih, Febri menyarankan High heels yang tinggi, mana bisa Dhera pakai. tidak biasa. Dan terakhir wajanya yang dipoles make-up saat nyalon tadi. Kalau rambut, Dhera di gerai biasa.

Namun, sangat, sangat, sangat tidak percaya, dan sekaligus membuat pipi Dhera merona ungu, eh merah, eh pink deh. Saat Mama Febri mengatakan. "Wah, pacar kamu cantik Feb, kayak Barbie." ucapannya sama dengan Febri. Tentu saja Febri tersenyum bahagia. Ketara sekali dari wajahnya. Tidak memedulikan wajah Dhera yang malunya minta ampun.

"Ma...makasih bu, eh tante..." kegugupan Dhera itu membuat mama Febri tertawa kecil disusul dengan Febri.
Dhera diajak ke ruang makan. Di sana sudah ada Papa Febri dan juga cowok berkemeja biru. Wajahnya mirip dengan lelaki itu. Dia adiknya Febri pasti.
"Kak Febri mirip sama Mamanya, kalau adiknya mirip Papanya. Nggak mungkin juga mirip orang di jalan. Nggak seperti kucing. wajahnya kucing kan sama semua." batin Dhera yang ujungnya jadi ngelantur.

"Dhera, ayo duduk." kata Febri mengelus pundak Dhera. Gawat! Dhera malah melongo karena sibuk membandingkan wajah Febri dengan adiknya, yang jauhnya seperti sumur dan atap rumah.

"Liatin wajah Galih dan Febri yah?" ucap papa Febri. Kalah telak. Begitu terlihatkah Dhera memperhatikan dua manusia itu.
"I..iya om, maaf." keluguan Dhera disambut dengan tawa Galih, adiknya Febri.
"Galih, jaga sikapmu!" seru Mamanya. "Ayo Princess..."
"Dhera tante.."potong Dhera langsung. What! Princess?????
"Iya Dhera ayo nikmati makanannya."
"Makanan mama paling enak sedunia loh, kak Dheyaaa..." sahut Galih dengan bahasa Alay yang duduk di samping mamanya. Dhera tersenyum. kecanggungan yang dirasakan Dhera kini mencair sudah. Melihat sikap Galih, Papa dan Mama Febri terasa akrab. Benar yang dikatakan Febri, orangnya memang_asyik.

"Wah, yang bener, kebetulan aku belum makan." seru Dhera bersemangat.
"Bukankah tadi sebelum cari baju lo makan yah, di warung mang Paiijo." timpal Febri yang langsung. Dhera nyengir.
"Eh iya, udah, tapi cuma makan mie doang kak. Laper lagi dong," dan terdengar tawa dari semua yang ada dimeja makan. Galih malah yang paling keras, Mamanya tertawa kecil. sedangkan Papa Febri hanya geleng-geleng.

"Plin-plannya gak ilang-ilang nih," Dengan gemas Febri mengajak rambut Dhera.

Malam itu suasana tidak sekaku yang Dhera bayangkan. Begitu sebaliknya, suasana terasa hangat, kental sekali kekeluargaannya. Membuat Dhera tak malu lagi. Dan malam ini mereka sukses dibuat ketawa dengan cerita-cerita dari anaknya si Febri tentang satu obyek. Siapa lagi kalau bukan Dhera. Tapi Dhera tidak merasa direndahkan atau apa, justru melalui inilah Febri mendekatkan dirinya dengan keluarganya.

Usai makan malam, Febri mengajak Dhera ke taman yang ada di belakang rumahnya. Berbaring di atas rumput, sambil menikmati pemandangan langit yang malam itu dihiasi banyak bintang.
"Dhera," panggil Febri dengan tatapan lurus ke langit.
"Ya..."

"Elo tahu nggak warna bintang itu gimana?" tanya Febri. mata Dhera menyipit seraya ekor matanya melirik cowok wajah kalem namun jail sejenis Febri ini. Bingung. Jelas-jelas dia sedang melihat bintang. Masa tidak tahu warnanya.

"Gue tanya sama elo Dhera, jawab dong..." ucap Febri lagi mendapati Dhera hanya diam.
"Eh, ng...ng...putih kak, kuning juga ada, eh nggak deh, merah kali yah, tapi gue juga pernah lihat bintang warnanya kerlap-kerlip hijau loh."
"Lo kayak nyebutin warna pelangi banyak amat." sahutnya mencubit pipi Dhera sampai ia meringis.

"Emang bener kok, tuh lihat di atas sana. Yang itu kelihatan putih kan, terus yang itu, kuning, nah itu tuh ijo dan itu..." Dhera menunjuk satu-satu bintang di atas sana.
"Bisa jadi itu planet Dhera sayang..." dipanggil 'sayang' langsung pipinya merona. Aaaaah, selalu saja satu cowok ini membuat jantungnya jumpalitan. Belum hilang ser-ser'an di hatinya, tiba-tiba tangannya digenggam Febri lembut. Gila! ampun dah, sentuhannya itu loh...aaaahhh, aku sukaaaa...jerit Dhera dalam hati.

saat tangan kanannya memegang tangan Dhera, tangan kirinya terangkat ke atas. "Lihat! Banyak banget kan bintang-bintangnya. Lo sadar nggak, bukan hanya di atas langit dan saat malam hari saja elo bisa lihat bintang dengan warna-warna yang elo sebutin tadi. Tapi, siang juga elo bisa lihat." alis Dhera terangkat sebelah. Tidak mengerti dengan ucapan Febri itu.

"Apa, nggak ngerti. Kurang paham. Udah jelas tuh di wajah lo." sambar Febri segera. Dhera hanya manyun. tiba-tiba Febri langsung menggeser tubuhnya mendekati Dhera. "Maksud gue gini loh Dher. di dunia ini, di sekitar kita juga banyak bintang, dengan warna yang beragam, dan karakter yang berbeda. Yang dimaksud bintang di sini adalah, orang-orang yang terkenal, sukses, ilmuwan, si genius, artis, atlet, penulis, dan lain sebagainya. Mereka itu bintang Dher, tentu saja dengan warna dan sinar yang berbeda. Ada yang redup ada yang terang. Dan gue..." Febri menatap Dhera yang ada di sampingnya. "Punya bintang sendiri, yang sangat terang, sangat indah. Bintang dalam hidup gue, dan gue harap bintang itu nggak akan redup. Bintang hati gue itu adalah elo Dhera." Cup sebuah kecupan manis mendarat di kening Dhera.

"Tuhan, sekarang bolehkah aku terbang menuju bintang di atas sana bersama Febri?" batin Dhera dengan semburat merah di pipinya.

END

02 Januari 2013