Rabu, 02 Januari 2013

Bintangku, Dhera #Cerpen#




02 Januari 2013

Bintangku, Dhera


"Makan Malam!" pekik Dhera mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Febri dengan lancar, tanpa hambatan apa pun. "Jadi, kak Febri ngajak gue ke mall, nyalon, beliin dress yang langsung gue pake ini, untuk ngajak gue makan malam!" mata Dhera membulat sambil menunjukkan dress mini berwarna pink berpaduan dengan warna putih. Warna kesukaannya.

Febri mengangguk yakin. Senyum manis tak pernah lepas darinya.
"Reaksi lo lebay ah!" Febri menggandeng tangan Dhera dan membukakan pintu mobil untuk cewek cantik yang belum menghilangkan wajah kekagetannya. Bruumm, Febri menjalankan mobil dan melaju menuju rumahnya.

"Seharusnya kan elo bilang dulu ke gue kak, setidaknya gue...gue..."
"Apa?! elo udah nyalon, udah cantik ini. Kayak barbie." Puji Febri memperhatikan Dhera dengan semua meronanya.

"Gue lebih suka dibilang kayak batman, spiderman, super hero gitu deh, daripada Bar-bie. Dan alangkah senangnya bila dibilang kayak Spongebob, atau Pat-rick (bener gak tulisannya -_-") !" bibir Dhera manyun-manyun membuat Febri tertawa. Kalau sudah seperti itu tidak ada alasan baginya untuk tidak mencubit pipi chubby Dhera.

"Kita pacaran udah tiga bulan, gue pengen mama dan papa tahu. Elo tenang aja Dher, mereka pasti seneng lihat elo. Cantik gini..."
"Kalau kebalikannya gimana."
"Suka." tandas Febri yakin. Kemudian hening. Febri konsen menyetir sedangkan Dhera menyiapkan mental untuk bertemu dengan orang tua Febri.

Akhirnya mereka sampai pada sebuah bangunan bergaya klasik namun tidak meninggalkan kesan mewahnya. Febri memarkir mobil di depan, lalu membuka pintu untuk Dhera. Wajah Dhera agak pucat.

"Lo, nggak apa-apa?"
"Gue cuma takut Papa sama Mama kak Febri nggak suka gue. Takut kalau gue bikin keributan." ujar Dhera menunduk.
"Lo parno ah! Anggap aja mereka Papa dan Memey elo, Dhera sayang... yuk ah, gue jamin semuanya baik-baik aja." Febri menggandeng lengan Dhera memasuki rumahnya.

Wanita cantik menyambut kedatangan Febri dan Dhera. Wanita itu mengenakan long dress berwarna biru malam. Rambutnya di ikat ke atas dengan sedikit bergelombang. Anggun. Dhera semakin kikuk. Sebaliknya untuk Dhera. Yang membuatnya tampil beda malam ini, hanya mini dress yang memang Dhera jarang memakainya, kalau tidak salah, saat SMP kelas 1 terakhir ia memakai Dress. Terus high heels sederhana berwarna putih menghiasi kaki putihnya. Tentu saja ini high heels sempat berseteru dulu dengan Febri. Karena waktu memilih, Febri menyarankan High heels yang tinggi, mana bisa Dhera pakai. tidak biasa. Dan terakhir wajanya yang dipoles make-up saat nyalon tadi. Kalau rambut, Dhera di gerai biasa.

Namun, sangat, sangat, sangat tidak percaya, dan sekaligus membuat pipi Dhera merona ungu, eh merah, eh pink deh. Saat Mama Febri mengatakan. "Wah, pacar kamu cantik Feb, kayak Barbie." ucapannya sama dengan Febri. Tentu saja Febri tersenyum bahagia. Ketara sekali dari wajahnya. Tidak memedulikan wajah Dhera yang malunya minta ampun.

"Ma...makasih bu, eh tante..." kegugupan Dhera itu membuat mama Febri tertawa kecil disusul dengan Febri.
Dhera diajak ke ruang makan. Di sana sudah ada Papa Febri dan juga cowok berkemeja biru. Wajahnya mirip dengan lelaki itu. Dia adiknya Febri pasti.
"Kak Febri mirip sama Mamanya, kalau adiknya mirip Papanya. Nggak mungkin juga mirip orang di jalan. Nggak seperti kucing. wajahnya kucing kan sama semua." batin Dhera yang ujungnya jadi ngelantur.

"Dhera, ayo duduk." kata Febri mengelus pundak Dhera. Gawat! Dhera malah melongo karena sibuk membandingkan wajah Febri dengan adiknya, yang jauhnya seperti sumur dan atap rumah.

"Liatin wajah Galih dan Febri yah?" ucap papa Febri. Kalah telak. Begitu terlihatkah Dhera memperhatikan dua manusia itu.
"I..iya om, maaf." keluguan Dhera disambut dengan tawa Galih, adiknya Febri.
"Galih, jaga sikapmu!" seru Mamanya. "Ayo Princess..."
"Dhera tante.."potong Dhera langsung. What! Princess?????
"Iya Dhera ayo nikmati makanannya."
"Makanan mama paling enak sedunia loh, kak Dheyaaa..." sahut Galih dengan bahasa Alay yang duduk di samping mamanya. Dhera tersenyum. kecanggungan yang dirasakan Dhera kini mencair sudah. Melihat sikap Galih, Papa dan Mama Febri terasa akrab. Benar yang dikatakan Febri, orangnya memang_asyik.

"Wah, yang bener, kebetulan aku belum makan." seru Dhera bersemangat.
"Bukankah tadi sebelum cari baju lo makan yah, di warung mang Paiijo." timpal Febri yang langsung. Dhera nyengir.
"Eh iya, udah, tapi cuma makan mie doang kak. Laper lagi dong," dan terdengar tawa dari semua yang ada dimeja makan. Galih malah yang paling keras, Mamanya tertawa kecil. sedangkan Papa Febri hanya geleng-geleng.

"Plin-plannya gak ilang-ilang nih," Dengan gemas Febri mengajak rambut Dhera.

Malam itu suasana tidak sekaku yang Dhera bayangkan. Begitu sebaliknya, suasana terasa hangat, kental sekali kekeluargaannya. Membuat Dhera tak malu lagi. Dan malam ini mereka sukses dibuat ketawa dengan cerita-cerita dari anaknya si Febri tentang satu obyek. Siapa lagi kalau bukan Dhera. Tapi Dhera tidak merasa direndahkan atau apa, justru melalui inilah Febri mendekatkan dirinya dengan keluarganya.

Usai makan malam, Febri mengajak Dhera ke taman yang ada di belakang rumahnya. Berbaring di atas rumput, sambil menikmati pemandangan langit yang malam itu dihiasi banyak bintang.
"Dhera," panggil Febri dengan tatapan lurus ke langit.
"Ya..."

"Elo tahu nggak warna bintang itu gimana?" tanya Febri. mata Dhera menyipit seraya ekor matanya melirik cowok wajah kalem namun jail sejenis Febri ini. Bingung. Jelas-jelas dia sedang melihat bintang. Masa tidak tahu warnanya.

"Gue tanya sama elo Dhera, jawab dong..." ucap Febri lagi mendapati Dhera hanya diam.
"Eh, ng...ng...putih kak, kuning juga ada, eh nggak deh, merah kali yah, tapi gue juga pernah lihat bintang warnanya kerlap-kerlip hijau loh."
"Lo kayak nyebutin warna pelangi banyak amat." sahutnya mencubit pipi Dhera sampai ia meringis.

"Emang bener kok, tuh lihat di atas sana. Yang itu kelihatan putih kan, terus yang itu, kuning, nah itu tuh ijo dan itu..." Dhera menunjuk satu-satu bintang di atas sana.
"Bisa jadi itu planet Dhera sayang..." dipanggil 'sayang' langsung pipinya merona. Aaaaah, selalu saja satu cowok ini membuat jantungnya jumpalitan. Belum hilang ser-ser'an di hatinya, tiba-tiba tangannya digenggam Febri lembut. Gila! ampun dah, sentuhannya itu loh...aaaahhh, aku sukaaaa...jerit Dhera dalam hati.

saat tangan kanannya memegang tangan Dhera, tangan kirinya terangkat ke atas. "Lihat! Banyak banget kan bintang-bintangnya. Lo sadar nggak, bukan hanya di atas langit dan saat malam hari saja elo bisa lihat bintang dengan warna-warna yang elo sebutin tadi. Tapi, siang juga elo bisa lihat." alis Dhera terangkat sebelah. Tidak mengerti dengan ucapan Febri itu.

"Apa, nggak ngerti. Kurang paham. Udah jelas tuh di wajah lo." sambar Febri segera. Dhera hanya manyun. tiba-tiba Febri langsung menggeser tubuhnya mendekati Dhera. "Maksud gue gini loh Dher. di dunia ini, di sekitar kita juga banyak bintang, dengan warna yang beragam, dan karakter yang berbeda. Yang dimaksud bintang di sini adalah, orang-orang yang terkenal, sukses, ilmuwan, si genius, artis, atlet, penulis, dan lain sebagainya. Mereka itu bintang Dher, tentu saja dengan warna dan sinar yang berbeda. Ada yang redup ada yang terang. Dan gue..." Febri menatap Dhera yang ada di sampingnya. "Punya bintang sendiri, yang sangat terang, sangat indah. Bintang dalam hidup gue, dan gue harap bintang itu nggak akan redup. Bintang hati gue itu adalah elo Dhera." Cup sebuah kecupan manis mendarat di kening Dhera.

"Tuhan, sekarang bolehkah aku terbang menuju bintang di atas sana bersama Febri?" batin Dhera dengan semburat merah di pipinya.

END

02 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar