Minggu, 21 September 2014

Mendung Kan Berganti

cerita ini terinspirasi dari lagunya Mikha Tambayong. Semoga yg baca suka :)


***

Terkadang aku iri pada gadis-gadis cantik nan sempurna di sekolahku. Mereka bermodis, trendy (?), gaul, up to date, punya banyak teman. Sedangkan aku? 75 % berbeda dg mereka.

Lihat, gadis berdarah Indonesia-Jerman di samping lapangan tempat tongkrongannya, Laura bersama sejenis makhluk-makhluk bermodis lainnya. Laura tengah berkicau menceritakan kabar terbaru apa saja, terutama gosip-gosip hangat internasional, setelah itu membahas fashion apa saja yg lagi terkenal, bagus. Dan dari mereka semua, ada yang langsung bisa membeli ada yang cuma mendengarkan saja dalam hati bisa seperti Laura yg mampu membeli apa saja yang ia mau.

Aku memandang mereka dari jauh, di sudut lain. Sendirian tentunya. Ada hasrat ingin bergabung dengan mereka. Tapi itu tidak mungkin, karena aku hanya mendapat cacian saja dari mereka. Aku bangun dari dudukku, memandang Laura yang bersebrangan dengan tempatku.

"Elo mau ngapain? Mau gabung sama mereka." seseorang berujar dari belakang. Aku berbalik, Lisna dan Ai tengah melipatkan tangannya di dada, melihatku dengan cibiran maksimal.

"Jangan harap lo bakal diterima oleh mereka. Lihat dong bagaimana penampilan lo. Udik, cupu, kutu buku, astaga lo baru melangkah saja mereka ogah nerima elo." kali ini Ai yang berbicara. Aku tertunduk berusaha memfokuskan diri pada aspal yang aku injak. Penuturan itu sering aku dengar.

"Heh, diem lagi!" tiba-tiba Lisna mendorong bahu kananku. Seketika aku melihat wajah mereka berdua denga kegugupan dan kesal yg terpendam.

"Apa?! Mau melawan?" mata Lisna membulat, membuat aku menggeleng kuat-kuat. Mungkin karena keributan kecil ini membuat Laura di sudut sana menoleh dan sepertinya tertarik lalu menghampiri tempatku.

Tidak! Tuhan. Cukup aku merasakan ini. Mereka dalam jumlah banyak menghampiriku yang sendiri. Dan sudah aku tegaskan ini bukan yang pertama kalinya. Pasti mereka hendak mencaci makiku. Mereka, ah bukan, hampir seisi sekolah paling suka memperlakukan aku seperti ini. Aku selalu dipandang sebelah mata oleh mereka.

"Ada apaan Lis?" tanya Laura.
"Nih bocah kayaknya pengen gabung sama lo dan yang lain, Ra." jawab Lisna menunjukku dengan gerakan dagunya. Aku semakin tertunduk tak berani menatap mereka semua.

"Si kudet, kuper, cupu kamseupay ini mau gabung sama gue. Ih, najis tralala trilili." ini perkataan kesekian yang aku terima tiap harinya dari mereka yg berkuasa.

"Please Dher, kalau mau punya temen lihat dulu sekeliling lo kayak gimana. Terus liat diri elo sama gak," sambung Ai.

"Langit bumilah!" yang lain menjawab serempak. Aku kian tersudut, mataku mulai berkaca-kaca. Di sana-sini mulai mendorongku, menjawalku, menarik kepangan rambutku, mengacak-acaknya. Dan terakhir merampas kacamata mins ku.

"Please balikin kacamataku." pintaku dg suara bergetar.

"Akui dulu kalau elo itu kudet, kuper, cupu, kutu buku, dan kamseupay. Terakhir elo harus bilang, kalau elo gak pantas berada di sini." tantang Laura. Dadaku naik turun. Mataku teras memanas menahan genangan air mata.

"Bali...kin...kaca...mataku..." aku berusaha meraih kacamata dari tangan Laura.

"Oh, lo mau ini?" KREEEK!! Terdengar bunyi benda pecah. Tidak! Laura menginjak kacamataku sampai hancur. Yang lain tertawa puas.

"Heh! Besok lo harus ganti tuh kacamata!" suara lain terdengar. Kali ini suara cowok. Dan itu tidak asing bagiku.

"Adie?!" mereka semua tercengang.

"Kenapa harus gue yg ganti?" Laura berucap.

"Bodoh, karena elo yang ngerusaknya! Katanya elo bisa ngebeli semua yg elo mau, masa kacamata aja lo nggak bisa. Dan gue mau kacamata yang persis seperti yang elo hancurin!"jari Adie lurus menunjuk wajah Laura.
Dengan gerakan cepat Adie menarik tanganku pergi dari situ.

"Ganteng-ganteng kok sudi gandeng tangan cewek udik seperti Dhera!" kesal juga Lisna melihat Adie yang dengan entengnya menarik tanganku. Adie berhenti melangkah, dan berbalik menghampiri Lisna dengan tetap menggandeng tanganku dengan wajah tertunduk.

"Gue lebih gak sudi memegang tangan lo apalagi sampai gandeng lo." mendengar itu wajah Lisna 'mungkin' pucat pasi. Maklum, Adie adalah cowok yg jadi rebutan para kaum hawa termasuk Lisna.

Setelah itu Adie membawaku pergi ke parkiran sekolah. Menyerahkan helm putih padaku. Aku yang sudah sesegukkan dengan air mata yang tak mau berhenti sama sekali tidak menggubris ucapan Adie yang menyuruhku untuk segera naik motor sport birunya.

"Jangan nangis lagi Dhera, udah ayo cepat naik."

"Aku gak mau. Hiks...hiks...perlakuan kamu ini semakin membuatku jadi bulanan anak-anak. Hiks...aku capek dibilang itik buruk rupa yang berharap jadi angsa dan menjelma putri cantik lalu hidup bahagia bersama pangeran." tuturku.

"Banyak omong kamu. Nih pake." Adie memakaikan helm di kepaLaku. Tak lama kami melaju meninggalkan parkiran sekolah.

***

Tempat ini lagi. Bila di hitung, ini sudah kali ketiga Adie mengajakku ke sini. Bukit kecil yg di bawahnya terdapat tumbuhan ilalang.

Adie duduk dengan santainya di bawah pohon sesekali memejamkan kedua matanya. Sedangkan aku duduk tak jauh darinya, namun ada jarak di antara kita.

Mungkin aku adalah orang yg beruntung bisa dekat dengan Adie. Meski pun aku tidak tahu kenapa Adie selalu ada menolongku saat aku di ganggu anak-anak.

"Kenapa kamu selalu membantuku?" tanyaku. Adie membuka mata sebentar, lalu menyilangkan kakinya santai.

"Karena kamu nggak mau melawan. Dan aku nggak suka dengan perlakuan cewek-cewek bermuka badak seperti mereka." ucapnya melempar pandangan ke langit.
"Tapi mereka benar. Aku emang kudet, cupu, kamseupay..."

"Nggak seperti itu." Potong Adie cepat. Aku menoleh melihatnya. Entah tiba-tiba saja aku kesal pada cowok satu ini.

"Kamu tidak pernah berada di posisiku. Kamu tidak tahu bagaimana dipandang sebelah mata, merasa sendiri, tidak punya temen. Saat kamu ingin menumpahkan semua tangismu, tidak ada yang mau dengar. Kamu nggak tahu bukan bagaimana menjadi diriku." tanpa bisa kukontrol air mataku nyeloroh jatuh begitu saja. Perasaan terasingkan ini terlalu menyiksaku.

Kulihat Adie tak bereaksi apa-apa. Hanya memandangku dengan tatapan sayu. Ku tarik wajahku ke depan melihat ilalang bergoyang tertiup angin. Kemudian kepalaku menunduk, berusaha menghentikan air mata ini.

"Aku ingin seperti mereka. Punya teman, berasa dianggap. Didengar apa yang kita rasakan, apa yang kita mau. Aku ingin tertawa bersama mereka. Tapi...tapi...di mata mereka aku berbeda, dan itu memberikan garis besar untuk aku tidak masuk ke zona terlarang itu." isakku dengan perasaan perih.

Adie menggeser duduknya jadi di sampingku.

"Aku memang tidak merasakan bagaimana di posisimu Dher. Tapi yang aku tahu menjadi diri sendiri itu lebih indah. Bagaimana pun kita itu yang Tuhan suka. Bagiku kau beda, dan itu membuat dirimu lebih indah dari yang lain. Makanya mengapa aku selalu ada membantumu, karena kamu tak pantas di perlakukan seperti itu." tutur Adie.

"Tapi aku tetap aneh di mata mereka." aku masih kesal dengan diriku sendiri. Tiba-tiba Adie meraih tanganku menunjuk ke atas sana.


"Kau lihat langit itu. Mendung, kelabu. Dan kau lihat ilalang di bawah sana. Mereka seperti sedang menunggu sesuatu bersama angin. Iya, mereka menunggu awan cerah. Menunggu mendung hilang." Adie kembali menurukan tanganku. Aku masih tak mengerti dengan ucapannya.

"Dhera...kau hanya butuh keberanian untuk masuk ke zona mereka. Buktikan kalau kamu bukan seperti yang mereka pikirkan, buktikan kalau kamu memang pantas berada di sana, bahkan lebih indah dari mereka." entah sejak kapan Adie mendaratkan tangannya di atas tanganku.

"Aku nggak tahu bagaimana caranya?" entah sebuah pertanyaan macam apa yang aku lontarkan. Jelas tidak ada cara yang bisa kulakukan. Namun wajah Adie santai menatapku.

Tiba-tiba tangan Adie merogoh sesuatu di kantung celana abu-abunya.

"Dengan ini." Adie menaruh lipatan kertas di tanganku. Aku semakin tak mengerti. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku berusaha membaca lipatan kertas itu. Tapi terlihat buram di mataku karena tak pakai kacamata.

"Itu kompetisi menyanyi dengan bermain musik. Kamu harus ikut Dher, buktikan pada mereka kamu bisa memenangkan kompetisi ini." terang Adie. Setengah mati aku kaget mendengar ucapannya. Ternyata yang kini berada di telapak tanganku adalah pamflet kompetisi menyanyi dan bermain musik serta formulirnya.

Aku menggelengkan kepalaku. "Jangan konyol, aku tak bisa mengikuti ini, aku tak berbakat."

"Jangan dikira aku nggak tahu. Ah, lebih tepatnya kamu yang gak tahu. Kita satu kompleks perumahan, beda gang saja. Empat kali dalam seminggu kamu les musik. Tak jarang aku melihatmu naik sepeda dengan gitar kesayanganmu. Atau di antar abangmu yang kerap kali kamu cemberut bila abang mencubitmu." aku terhenyak untuk kesekian kalinya. Adie tahu aku les musik empat kali dalam seminggu. Adie tahu aku menyukai musik, dan dia dia dia satu kompleks dengan ku. Kenapa aku tidak tahu, tidak menyadarinya. Sejak kapan?

"Kamu..."

"Jangan pasang ekspresi seperti itu. Kamu nggak lagi lihat jurig." aku tersipu mendengarnya. Bagaimana aku tidak kaget, seorang Adie selama ini---memperhatikanku.

Kurasakan tanganku di belai lembut.

"Ikutilah kompetisi itu." ucapnya.

"Aku nggak yakin..." aku menelusuri tiap jengkal wajah Adie, mencari titik di mana cowok ini selalu meyakini, mempercayai, dan menyemangatiku. Yah, di bola mata bening. Semua itu terlihat di sana.

"Percayalah, mendung kan berganti." ucap adie lagi. Aku tak menjawab, dalam hati aku mau menuruti ucapan Adie. Orang yang mempercayaiku.

Aku harus menyibak mendung yang sekian lama bersinggah di hidupku. Saatnya aku biarkan awan indah bebas tak terhalang mendung.

***

Satu bulan kemudian...

Tubuh tak berdaya itu masih terbaring di ranjang. Matanya terpejam, dengan selimut menutupi tubuhnya sampai perut. Alat-alat medis terpasang di sana-sini pada tubuh itu.

"Dhera.." seseorang menyentuh pundakku. Ku terhenyak dari lamunanku lalu menoleh. Perempuan cantik tersenyum manis padaku meski kantung matanya membesar sama sepertiku. Kurang tidur.

"Tante..."

"Sudah subuh sayang, kamu salat dulu, biar tante jaga Adie." ucap wanita itu.
"Tapi tante..."

"Sudah tak apa Dhera, biar tante yang jaga Adie. Semalaman kamu nggak tidur." ucap tante Luna mamanya Adie. Padahal beliau juga sama tak tidur. Terus terjaga di sofa yang tersedia di kamar rawat ini.

Aku mengangguk kecil. Melempar pandangan ke cowok tak bergerak itu, pilu.
"Kapan kamu membuka mata, Die." batinku.

Aku keluar kamar, menuju musolah rumah sakit. Mengambil air wudhlu kemudian salat.

Doa apa pun aku panjatkan untuk Adie. Kesembuhan cowok yang sudah mengubah segala tentang keburukanku menjadi lebih indah. Cowok yang memberiku keberanian menyibak mendung dalam hidupku.

Usai salat aku berniat kembali ke kamar di mana Adie berada. Tiba-tiba langkahku terhenti, mendapati sebuah almari mukenah yang tingginya melebihiku. Satu sisi almari terdapat cermin, seluruh tubuhku dari ujung kaki sampai ujung kepala terpantul di sana.

Sejenak ku pandangi lekat-lekat pantulan wajah di cermin. Itu aku. Iya aku yang sekarang. Jeans cokelat muda perpaduan dengan T-shirt putih serta balutan cardigan hitam yang aku kenakan. Rambut sepunggungku tergerai bebas. Kontak lensa mins juga menghiasi mataku. Membuat aku dapat melihat dengan jelas tanpa kacamata. Bertolak belakang dengan aku yang dulu.

Ini semua karena cowok itu. Sekarang aku di anggap oleh mereka, di dengar oleh mereka. Bahkan tak ada lagi yang berani mencaciku, apalagi setelah aku memenangkan kompetisi yang Adie sarankan. Juara satu. Kompetisi yang cukup bergengsi. Sekali lagi ini semua karena Adie.

Teringat saat aku memenangkan kompetisi itu, Adie adalah orang yang selalu ada di sampingku, setia menyemangatiku dengan ucapan-ucapan ajaibnya. Saat piala kemenangan ku berikan pada Adie, saat itu dia memelukku dan mengungkapkan sebuah pengakuan yg hampir tak bisa ku percaya. Sampai detik ini pun aku ingat bagaimana ia menatapku dg manik mata yg indah.
"Aku mencintaimu, Dhera. Bukan karena kamu tlah berubah. Tapi karena hatimu, hatiku memilihmu." seraya menggenggam erat tanganku di depan gedung.
... Di depan gedung tempat kompetisi di adakan. Aku membeku mendengarnya. Demo di jantungku semakin kencang, tidak bisa aku kendalikan.

"Dher, apakah kau juga mencintaiku?" tanyanya seperti angin surga namun membuatku kian tak berkutik. Mataku bergerak berusaha mengalihkan kegugupanku. Tidak ada. Cuma cowok ini yg aku menarik perhatianku.

"Aku...aku..."

Nada dering Your Call nya Second Serenade dari handphone Adie terdengar. Adie mengucapkan maaf, dan agak menjauh dariku untuk mengangkat telpon. Aku mengangguk lega terbebas dari kegugupanku meski untuk sesaat.

"Iya ma, Adie masih di tempat Dhera, nanti Adie jemput mama kok." suara Adie terdengar lembut. Aku hanya melihat punggungnya dari tempatku dg perasaan tak menentu. Satu rasa terlintas di hatiku, kenapa Adie terasa jauh dariku.

"Nggak apa-apa ma, masih ada waktu kok. Nanti secepatnya Adie jemput, tunggu yah, ma." tiba-tiba Adie melirikku, aku hanya mampu tersenyum. Lalu ia balik setelah menutup telpon. Adie pamit padaku untuk menjemput mamanya. Lagi-lagi perasaan itu mengusikku.

Sebelum dia pergi dg motor sport birunya, dia mengucapkan sesuatu. "Nanti malam aku jemput kamu setengah tujuh. Berpakailah yg rapi, aku mau ajak kamu ke rumah untuk makan malam bersama mama, papa dan adikku." tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalaku.

"Tunggu aku Dhera, aku mencintaimu." bruum... Motor Adie melaju kencang meninggalkanku.

Naas. Dalam perjalanan menjemput mamanya, Adie mengalami kecelakaan dg sebuah truk yg melaju kencang. Tuhan, andai aku tahu itu aku tak akan mengizinkannya pergi, akan aku menahannya bersamaku. Hingga kini, Adie koma tak sadarkan diri. Sudah satu bulan lamanya.

Tiap hari aku ke rumah sakit, menemani Adie. Kadang sampai begadang bersama tante Luna. Hanya untuk menunggu Adie membuka matanya. Tuhan, aku berjanji aku akan mengatakan aku mencintainya saat dia membuka mata. Pertanyaan terakhir Adie pada pertemuan di depan gedung dulu yg belum aku jawab.
Kembali ku lihat pantulan tubuhku di cermin almari. Aku yg berubah menjadi angsa cantik karena Adie. Kenyataannya aku tak mendapati Adie tersadar dari komanya. Rasa pilu menyelimutiku lagi. Buliran air mata nyeloroh begitu saja di tebing pipiku.

Aku merindunya Tuhan.

"Adie.."

"Nak, kamu kenapa?" seseorang menyentuh bahuku. Aku tersentak dan langsung menyeka air mataku.

Seorang wanita berumur 40an masih memakai mukenah memasang wajah heran melihatku menangis. Aku menggeleng pelan dan menarik sudut-sudut bibirku. Tersenyum.

"Aku nggak apa-apa, Bu." ucapku lembut. "Saya permisi dulu." pamitku dg senyum. Buru-buru aku keluar musolah rumah sakit.

~~

Ku langkahkan kakiku berat menyusuri koridor rumah sakit. Sang surya tak juga nampak, rupanya mendung bergelayut di pagi ini.

Tepat di depan sebuah kamar di mana Adie berada aku berhenti mendengar perbincangan beberapa orang di dalam. Aku sedikit membuka pintu, di sana Tante Luna bersama suaminya Om Ferdy, serta dokter yg menangani Adie tengah berbincang serius. Satu lagi, cewek berambut panjang memdakai pita pink di rambutnya merangkul tubuh Tante Luna, menangis di sana. Itu Alia adik satu-satunya yg Adie punya.

"Maafkan saya dan pihak rumah sakit. Bukannya kami tidak bisa menangani anak Bapak dan Ibu. Namun secara medis anak kalian..." dokter menggantung ucapannya. Aku tegang di ambang pintu dg tangan memegang gagang pintu tersebut. Aku tak berani masuk mendekati mereka.

"...sudah tidak ada." lanjut sang dokter. Deg!
Tangis ketiga orang itu pun meledak, begitu juga denganku. Pijakanku seolah runtuh mendengar ucapan dokter.

"Apa tak ada cara lain untuk menyelamatkan anak kami, dok?" tanya Om Ferdy. Alian memeluk tubuh mamanya erat, dari mulutnya terus menyebut-nyebut nama kakaknya.

Dokter tak menjawab. Ada gurat kesedihan juga di wajahnya. Sebelumnya tante Luna bercerita padaku tentang kondisi Adie. Kecelakaan yg di alaminya memang cukup parah. Untuk sadar dari komanya saja...

Untuk sadar dari komanya saja itu hanya berapa persen. Dokter juga mengatakan Adie bertahan karena dipicu dg alat detak jantung.

"Dok..." lirih tante Luna, pertahanannya seakan hancur sudah.

"Kasihan sama anak ibu dan bapak harus merasakan ini." ucap dokter itu lagi dg intonasi rendah.

Terlihat om Ferdy berpikir keras. Aku sendiri sedari tadi menahan jantungku yg berdentum kencang melihat apa yg akan mereka lakukan pada Adie selanjutnya.

"Terus bagaimana dok?" tanya Om Ferdy memegang tangan istrinya seolah memberi kekuatan pada istri serta anaknya bila dokter memberi jawaban buruk.

Tib-tiba dua orang suster masuk. Membuat aku sedikit bergeser. Tapi masih di ambang pintu.

Aku takut, merasa sangat takut.

"Kami meminta izin untuk melepas semua alat medis yg membantu Adie. Kami minta maaf sudah mengatakan ini pada kalian. Kami semua sudah berusaha keras membantu kesembuhan anak bapak dan ibu. Tapi tidak ada perkembangan sampai sekarang, malah keadaannya semakin memburuk." terang dokter. Perkataan dokter itu sukses membuat kedua orang tua dan adik Adie menangis pilu. Begitu juga dg ku. Seperti ada yg meloloskan tulang-tulang dari tubuhku. Aku lemas seketika. Aku tahu maksud dokter, mungkin orang tua Adie juga mengerti.

"Kakak...kakak..." tangis Alia berhambur memeluk Adie yg terpejam. Om Ferdy langsung memeluk istrinya. Dokter dan dua suster itu juga turut bersedih.

Kakiku seperti tak menyentuh bumi. Sampai-sampai ku berpegang pada sisi pintu. Entah om Ferdy berbicara apa. Aku tak bisa lagi fokus.
Aku tak bisa lagi untuk fokus. Namun mataku melihat dua suster itu mendekati ranjang Adie. Mereka mulai melepas alat medis yg terpasang di tubuh Adie.

"A...die..."tanganku terjulur hendak meneriaki mereka. Tidak, jangan lakukan ini padaku. Mereka, mereka, mereka harus di hentikan. Tapi kakiku tak bisa digerakkan. Tangis histeris tante Luna dan Alia menggema, membuatku semakin runtuh.

Tubuh Adie bergetar sebentar. Sedetik kemudian tubuh itu melemah bersamaan dg nyelorohnya tubuhku di lantai depan pintu. Air mataku semakin deras, tangisku terasa sesak di tenggorokan.

Aku merangkul lututku erat, menenggelamkan seluruh kesedihanku.

"Aaaarrrgggh!" erangku memukul-mukul lantai.

Tuhan, kenapa kau ambil Adie dg cara seperti ini. Aku belum mengatakan perasaanku yg sebenarnya. Kenapa Engkau tak memberi waktu sedikit lebih lama padaku untuk membahagiakannya dg caraku.

Adie...Adie...Adie... Kembalikan dia padaku, Tuhan.

>,<

Tiga hari kemudian..

Angin membelai lembut wajahku dg mata terpejam. Angin ini, surya yg terhalang mendung, langit di sana sana, ilalang yg setia menunggu mendung hilang, semuanya masih sama. Seperti terakhir aku bertemu Adie di sini.

"Percayalah mendung kan berganti." seperti ada sebuah bisikan di telingaku. Kontan aku membuka mata, ada sebuah wajah tersenyum dg tangan menunjuk ke atas. Itu Adie.

Aku mengikuti tangan Adie. Di langit sana, entah bagaimana caranya. Angin pelan-pelan menyibak mendung berganti dg warna langit cerah serta gumpulan awan sirus dg serat-serat halus dan tipis seperti kapas.

Indah!

Saat aku menoleh lagi, wajah dan senyuman Adie menghilang. Kini aku yg tersenyum.

Adie, ku akan menjadi Dhera yg tegar, kuat, dan tangguh. Terimakasih kau telah membuka jalan untukku menjadi lebih baik.

Untukmu, Die. Ku kenang dirimu di sini. Aku percaya mendung kan berganti, kesedihan kan berganti. Namun kau tetap di hatiku, bersemayam di sana.

End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar