Sabtu, 01 November 2014

Cintaku Tak Semanis Pisang Chapter 2

cuma nuangin sesuatu cerita yang terus terngiang di benak gue dengan menulisnya di sini. Yg pernah baca cerpen "Cintaku Tak Semanis Pisang" mungkin ini adalah bagian dari kisah tersebut. Ini masih tentang tokoh bernama Dhera dan Indra. Nggak bisa dihilangin deh dua sosok itu. kata orang-orang sih, mereka pasangan yang serasi --" entahlah.

yuk mariii :)


Beberapa hari ini Dhera semakin merasa hidupnya naik-turun. Kadang bahagia kadang susah. Susahnya lebih tepat terletak pada hati dan perasaannya. Masa pacaran di Putih Abu-abunya harus terjebak pada situasi buruk. Jelas saja amat sangat buruk pacarannya saja sama cowok playboy sok kecakepan di sekolahnya.

"Tuh cowok emang beneran nggak punya hati kali yah, dia kira gue ini boneka yang gunanya cuma buat mainan doang.apa." Dhera melempar tas cokelatnya ke ranjang dengan kasar. Sepatu juga diperlakukan sama, kali ini dilempar asal. "Awas aja kalau dia bikin gue sakit, gue nggak segan-segan untuk bilang..."

"Jangan pernah bilang putus ke gue, atau lo bakal tahu akibatnya Dhe." ucapan Indra beberapa hari lalu memotong ucapan Dhera dengan sendirinya. Dhera mengeram, kesalnya semakin memuncak.

"Dasar tukang ngancam, pengecut, brengsek, dia kira dia siapa, gue sama sekali nggak takut!" pekiknya meremas-remas foto yang tercetak dalam satu halaman A4 tersisi beberapa foto. Ini foto diambil tadi saat mereka foto box. Dhera nggak butuh ini, semuanya juga atas kehendak Indra nggak dengan Dhera. Masih terbayang diingatannya saat tadi siang Indra dengan sengaja mengajak ngobrol seorang cewek yang Indra sebut sebagai teman SMP nya dulu. Tapi Dhera menduga cewek itu adalah matan Indra, pasti. Mana ada cewek secentil itu mengajak Indra ngobrol sampai mengabaikan dirinya yang menyandang status pacar Indra. ehm! meski dengan terpaksa menerimanya sih, tapi tetap saja Dhera nggak terima diperlakukan seperti ini. Di sekolah saja Indra sok manis, sok memuja, sok peduli dan ke sok-an lainnya. Tapi begitu di luar sekolah, buasnya minta ampun. Sadis, nggak punya perasaan. Bahkan bisa dihitung perlakuan Indra lembut kepadanya selama tiga bulan masa pacaran 'terpaksa' itu.


"Gue nggak butuh ini! Dan jangan kira gue takut sama lo, Ndra!" Dhera membuang foto-foto itu ke tempat sampah yang tersedia. Tiba-tiba saja hatinya berkelit, kenapa ia harus marah melihat keakraban Indra bersama cewek lain, kenapa ia tidak ingin diabaikan oleh Indra, kenapa rasanya begitu tidak terima saat Indra memeluk cewek lain di depannya apalagi melempar senyum penuh pesona.

Apakah ini yang dinamakan cemburu?

Tapi...."Iiih gue mikir apaan sih, nggak penting banget." kemudian melesat keluar kamar.

***

Kejadian Indra memeluk cewek lain dan mengobrol dengan akrabnya berusaha Dhera enyahkan dari otaknya. Mungkin ini hanya perasaan cemburu sesaat karena kalau diingat-ingat, nyaris Indra tidak pernah dekat dengan cewek lain semenjak Indra menjadikan Dhera sebagai kekasihnya. Menghalau semua cewek-cewek yang mencoba mendekati dirinya, semuanya sudah dipagari dengan rapi dan kokoh. Dan jujur Dhera baru menyadari itu. Jadi intinya mungkin terasa 'agak tidak enak hati' saat mendapati Indra dekat dengan cewek selain Dhera.

"Gue perhatikan akhir-akhir ini lo murung Dhe, ada yang elo pikiran?" Karin datang membawa dua gelas es teh manis dan dua porsi siomay di nampan. Langsung saja Dhera menyedot es teh manis sampai sambil menambahkan sedikit sambal ke dalam siomaynya.

"Emang keliatannya gitu yah, Rin."

"Lo kira gue kenal sama lo baru kemarin sore heh, itu muka jelas banget tahu kusutnya. Kenapa sih?" Karin menyuapkan satu sendok siomay ke dalam mulutnya sambil mempehatikan sahabatnya itu yang hanya meng-mix siomay dengan apa saja yang ada di meja kantin. Tapi belum ada juga kata-kata yang keluar dari mulut Dhera. Baru kali ini Karin melihat Dhera sesulit ini mengatakan sesuatu. Biasanya dengan cepat dan intonasi beragam Karin jadi betah mendengarkan setiap ocehannya.

"Wait, wait, wait, jangan-jangan berhubungan dengan Indra?" tebak Karin menggoyang-goyangkan senduk ke udara. Dhera menghela nafas dengan lemas tanpa ada niat melihat reaksi Karin yang langsung menurunkan senduk ke piring lalu menyedok es teh manisnya cepat. Nyaris saja tersedak.

"Hah, serius?! Ada hubungannya sama Indra kok reaski lo keg gitu Dhe, biasanya kan lo selalu ngamuk-ngamuk kalau cerita masalah Indra, bahkan sumpah serapah pun keluar dari mulut seksi lo itu. Kok sekarang lo kayaknya pusing banget, dan yang paling parahnya nih, yah, sekilas lo kayak kelihatan galau gitu?"

"Haaaah, masa sih?" Dhera merogoh kantung kemeja putihnya dan mengeluarkan cermin kecil lalu langsung melihat wajahnya di patulan cermin yang langsung diamini oleh Karin. Jelas ini bukan pemandangan yang biasa, Kalau Dhera bereaksi seperi itu berarti pikirannya juga tidak menentu, jadi Dhera seolah tidak sadar dengan kebiasaanya bila membicarakan Indra.

"Ah, nggak."

"Serius? emang ada apaan sih, Dhe?" Karin kembali memasukkan suap demi suap siomay sampai bersarang di perutnya. Dhera juga sama, perutnya harus diganjal, pelan ia memasukkan satu senduk siomay ke mulut tapi langsung disambarnya es teh manis menyedotnya sampai habis.

"Hah, gila pedes!" pekik Dhera. Karin sampai geleng-geleng kepala, nggak sadar kali yah memasukkan sambal meski awalnya sedikit tapi selalu ditambahi sedikit demi sedikit oleh si empunya siomay.

"Udah cepet cerita." desak Karin tidak mempedulikan rasa pedas pada mulut Dhera.
"Jadi ini...." belum juga selesai dengan ucapannya Dhera langsung berdiri, matanya tertuju pada satu obyek yang baru saja memasuki kantin dan berjalan ke tempatnya. "Gue cabut duluan Rin."

"Eh, lo..."

"Dhera!" teriak suara khas dan siapa pun yang mendengar pasti sudah menebak siapa pemilik suara itu termasuk Karin. Saat hendak menghentikan Dhera, tapi sahabatnya itu keburu lari melalui pintu lain. Kini lagi-lagi Karin harus menghadapi Indra sendiri. Cowok itu bahkan sudah duduk di depannya.

"Ha-halo kak Indra," sapa Karin dibuatnya semanis mungkin dan senormal mungkin biar nggak ketahuan takut sama malesnya kalau menghadapi cowok satu ini. Tentu dengan dibumbuhi panggilan 'kak' karena pernah sekali keceplosan manggil Indra doang, ia langsung dibombardir sama pemilik namanya, Kapok deh,

"Lo tahu nggak kenapa beberapa hari ini Dhera nggak ngangkat telpon gue, nggak bales SMS gue, gue ajak keluar nolak mentah-mentah, diancam juga nggak mempan, didtangi ke rumahnya selalu ngilang duluan?" beruntut ucapan Indra mungkin dalam satu tarikan nafas seperti saat mengucapkan akad nikah. Dan ini juga baru pertama kali Karin lihat reaksi Indra seperti ini. Karin sampai melongo dengan mulut sedikit mangap, dan mata bekedip beberapa kali. Raut wajahnya tidak lagi santai seperti biasanya, jelas ada penasaran di wajah itu dan juga keresahan.

Karin hanya menggeleng. Dan ini jujur. Karin bahkan baru tahu kalau Dhera bisa dibilang tengah melakukan 'pemberontakan' untuk kedua kalinya. Yang pertama gagal dan luluh karena sikap Indra yang tiba-tiba saja manis. Tapi kali ini bertahan seperti yang Indra katakan 'beberapa hari' berarti lebih dari dua hari. Yes! Ada perkmbangan melawan Indra rupanya.

"Lo jangan bohong!" hardik Indra menatapa tajam ke manik mata Karin. Hardikan itu cukup membuat beberapa langsung menatap mereka berdua. Indra tidak peduli tapi Karin ciut. Keresahan yang terlihat kali ini dicampuri dengan kemarahan.

"Nggak kak, gue, eh saya nggak bohong. Saya beneran nggak tahu kenapa dengan Dhera, saya aja baru tahu dari kak Indra barusan." elak Karin menempelkan punggungnya ke badan kursi, dilekatkannya tubuhnya di sana melihat Indra semakin menghunuskan mata cokelatnya.

"Ohm rupanya Dhera tengah melakukan aksi pemberontakan lagi.Oke gue turutin maunya lo, Dhe." tandas Indra entah untuk siapa, karena tak ada Dhera di sini. Karin menelan ludah. ini jelas bahaya banget buat Dhera, ia harus cepat-cepat memberitahukannya. Kemudian Indra mendorong kursi yang di duduki Dhera tadi lalu berlalu cepat meninggalkan kantin berbarengan dengan Karin yang langsung cabut lewat pintu lain.

"Gawat ini, bukan Indra kalau mengunakan cara yang seperti kemarin karena Dhera langsung bisa ngebaca. Pasti dengan cara lain yang mungkin bisa membahayakan Dhera." Karin berjalan cepat, cepat sambil tangannya sibuk mengirim pesan ke nomor Dhera.




bersambung dulu...

typo banyak, langsung ngetik tanpa edit --"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar