Rabu, 11 Juli 2012

Cerbung >> Dalam Dunia Dhera *Part 18*




            “Dhera, gue mau ngomong sesuatu sama elo.” kata Febri tiba-tiba. “Guys, pinjam Dheranya dulu yah.” tak lupa menatap tajam ke arah Indra. Tanpa menunggu jawaban dariku dan yang lain, Febri langsung menarik tanganku ke teras belakang.

            Di teras belakang, Febri belum melepas tanganku. Telihat tatapan keruh di bola matanya. “Ada apa sih, kak?” tanyaku bingung. Langsung saja Febri menatapku dalam. Glek! nggak mau makan aku kan?
            “Cowok itu siapa, Dhe?” tanyanya.
            “Dia Indra.” jawabku singkat padat dan pastinya jelas.
            “Dia...”
            “Cowok gue kak.” potongku langsung. Antara kaget dan tidak dari wajahnya. Aku terdiam.
            “Lo kok gitu sih, Dhe.” ujar Febri. Ia seakan menahan nafasnya mendengar perkataanku tadi.
            “Gitu gimana sih, Kak?”
            “Elo nggak bisa lihat semua yang gue lakuin sama elo.” ada kekecewaan di bola matanya.
            “Udah deh kak, gue nggak ngerti. Kak Febri ngomong apa?” aku masih bingung. Febri dengan rasa putus asa ─itu yang aku lihat─ menjambak rambutnya. Dengan gerakan cepat, ia menahan kedua bahuku dengan kedua tangannya. Tatapannya seperti elang tajam dan dalam.
            “Gue suka elo Dhera, dari dulu hingga sekarang.” kata Febri menekankan setiap kata-katanya. Apa lagi ini, Tuhan...
Perlahan aku melepas tangan Febri dari bahuku, pelan dan lembut. “Kak Febri, sudah cukup kak, jangan bikin aku tambah bingung.” ujarku. Sumpah, aku bingung dan heran. Dari Adie, Ivan, Indra dan sekarang Febri, mereka kompak banget membuat duniaku jungkir balik seperti ini.
            “Dhe, apa semuanya belum bisa membuat elo melihat betapa gue sayang elo.” kata Febri “Aku selalu nunggu elo Dhe.” lanjutnya. Ivan dan Febri sam aja. Lalu apakah mereka berdua juga sudah jujur tentang perasaan mereka seperti mereka jujur padaku. Aku tahu Ivan dan Febri itu sangat dekat.. Aku berusaha menatap balik bola matanya.
            “Kak Febri, gue emang sayang sama elo kak, tapi nggak lebih dari sayang seorang adik ke kakaknya.” terangku. “Gue nggak bisa nganggap lebih dari itu. Maaf kak.”
            “Please Dhera, jangan lakukan ini sama gue, jangan pergi lagi.” Nadanya bergetar.
            “Gue nggak akan pergi Kak, meski pun jauh gue yakin, gue akan tetap ada di sini.” aku menyentuh dada bidangnya, “Dulu, sekarang dan selamanya. Gue udah nganggap elo saudara. Kak Febri ngerti kan,” aku menyusuri setiap dinding tatapannya. Febri tak menjawab, mungkin ia sedang memikirkan sesuatu. Aku tak tahu itu apa.
            “Yah, elo benar. Mungkin gue nggak bisa dapetin elo sebagai pacar, tapi sebagai adik.” dengan tertahan Febri mengatakannya. “Tapi jangan paksa gue membunuh rasa ini, Dhe.” aku hanya menggeleng, Itu perasaan Febri, yang mengendalikan adalah Febri sendiri. Aku tidak berhak menuntut perasaannya, Setidaknya aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Febri terlalu baik untuk dijadikan pacar ─bukan berarti Indra tidak baik─ hanya saja Febri sudah aku anggap kakak sendiri.


%^$%^$%!$#%$&$%*

Bagian 15
Dag Dig Dug



            Liburan tiga hari lagi. Selama tiga hari itu kami semuanya terus bersenang-senang, tidak mau melewatkan hal-hal yang menarik dan seru. Apalagi sekarang ada Indra dan dua orang yang sudah aku anggap Kakak, Ivan dan Febri. Adie dan Gea sedang sibuk mengurus pertunangan mereka. So, aku sekarang sudah menerima semuanya. Ada Indra di sini, yang akan membuatku terus tersenyum. Tak lupa sahabat-sahabatku yang selalu ada untukku.
            “Inoook!! jalan-jalan pake sepeda yuk?” seru Akis yang saat itu sedang bermain bass di ruang tengah. Setengah malas aku mengangguk. Segera saja Akis menarik tanganku.
            Aku sudah berdiri di samping sepeda yang bertengger di depan villa. Sedangkan Akis sudah menaiki sepedanya dan memutari latar villa. Aku menelan ludah. Glek! “Inok, ngapain bengong, Tuh sepeda kagak bakal jalan kalau nggak dinaiki.” seru Akis.
            “Gue...takut jatuh, Kis.” jawabku. Tiba-tiba sebuah tangan memegang setir sepeda. Aku melihat pemilik tangan itu. Rambut keribonya tertiup angin.
            “Sama aku aja, biar nggak jatuh.” kata Indra.
            “Nggak usah Ndra, aku bisa sendiri.” jawabku malu ketahuan takut. Nggak asyik kalau dikatakan penakut sama Indra. Langsung saja aku menuntun sepedanya, lalu perlahan menaiki sepeda itu. Ku rasa aku lupa terakhir kali naik sepeda itu kapan. Semoga saja tidak kaku nanti.
            “Yakin bisa.” kata Indra.
            “Yakin.” jawabku yang aslinya antara yakin dan tak yakin. Perlahan ku kayuh sepedanya. Pelan dan agak oleng-oleng. Aku berusaha supaya nih sepeda jalannya stabil. Kakiku baru sembuh, tidak ingin terkilir lagi.
            “Ayo Nok, elo pasti bisa!” teriak Akis. Aku tak menghiaraukan perkataannya. Menyetabilkan laju sepeda aja susah. Entah karena kaku atau apa, aku semakin tak bisa mengendalikan sepeda ini, dan──
            “Sudah aku bilang, biar kamu bonceng di belakang aja.” Ternyata Indra menahan tubuhku, sepedanya juga menumbruk Indra. Aku hanya meringis. “Kamu itu baru sembuh Dhe, udah ayo biar aku aja yang nyetir.” Kemudian Indra mengambil alih sepeda itu. Aku hanya menurut.
            “Waahh...sepertinya sudah siap. Let’s go guys, kita jalan-jalan.” teriak Herdi. Terlihat Aji, Herdi dan Tablet menaiki sepeda yang berderet tiga. Posisinya Aji di depan, kemudian Tablet lalu di belakang Herdi. Kayaknya ini akan mengasyikkan.
            Tanpa basa-basi lagi kami berenam langsung melaju di jalan yang lengang. Tak henti-hentinya kami bertawa. Aku yang dibonceng Indra mengajak Akis balapan. Indra mengangguk yakin. Ia menarik tanganku untuk melingkar di perutnya.
            “Pegangan yah, Dhe. Kita akan mengalahkan Akis.” Kata Indra yang siap-siap menuruni tanjakan. Aku menahan nafas dengan Akis tak jauh dari kami berdua.
            “Satu...dua...tiga...” teriak Akis Wush!!! Sepeda kami meluncur. Ketiga cowok Say’A terus mengayuh sepedanya jauh di belakang kami.
            “Wooooouuuu....!!!” Teriakku, Indra dan Akis serempak. Indra ahli juga bersepeda. Akhirnya balapan ini aku dan Indra yang menang. Tentu saja membuatku aku senang, karena tadi Akis bilang kalau aku dan Indra menang, ia akan memberiku pisang. *sip, mantap*
            “Kissss...!!” teriak Aji lalu turun dari sepeda dan menghampiri jantung hatinya. “Kok balapan nggak sama gue?” bibirnya manyun.
            “Idiiih, nggak ah! Ada juga nanti aku kalah.”
            “Yeehh sekarang juga elo udah kalah kali.” sergahku yang masih di bonceng Indra.  Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Bersepeda santai, menikmati udara segar dan pemndangan indah.
            “Dhe...” Panggil Indra sambil terus mengayuh sepedanya.
            “Yah.”
            “Dua cowok yang kemarin datang ke villa itu siapa?” tanya Indra yang kali ini nadanya terdengar menyelidiki. “Kok kayaknya sok peduli banget sama kamu.”
            Aku melirik ke arah Indra membuat sepedanya oleng sebentar. “Idiih, tumben kamu nanya gitu Ndra, nadanya juga kayak detektif aja.”
            “Dhera, sekarang kan aku ini pacar kamu, wajar kan aku nanya gitu.” Kyaaa, kok sekarang nadanya sedikit kseal yah. Nggak konsisten nih si Indra.
            “Yang ngebawa peliharaannya itu si Ivan, dan yang satunya itu si Febri. Mereka itu teman aku waktu kecil dulu di Bogor. Yaaahh, lebih tepatnya sih aku udah anggap mereka berdua itu Kakak aku sendiri Ndra. Pokoknya dulu mereka selalu...”
            “Stop! Aku kan cuma nanya siapa mereka Dhe, kok malah jelasin semua.” Potong Indra.
            “Heheh...lupa.”
            “Bawel juga kamu, Dhe.”
            “Yeehh, biarin. Tapi kamu tetep suka kan.”
            “Asem! Dari zaman Portugis menjajah Indonesia juga si Inok sih emang bawel!” seru Tablet sambil mengayuh sepedanya mengimbangi gerakan Aji dan Herdi. Aku hanya manyun mendengar seruan Tablet. Nih anak kagak tahu sejarah apa, tahun itu kan aku belum lahir. *(ꞌꞌ____ꞌꞌ)*
            Berbeda dengan Indra, ia malah meyetujui perkataan Tablet tadi. “Udah gitu, Inok itu suka maksa, suka ngatur juga” sekarang giliran Aji yang berbicara. Mereka kok jadi ngebuka kejelekan aku sih.
            “Jangan lupa, Inok juga manja dan penakut.” sambung Akis yang bersepeda di depan kami semua. Aku semakin memayunkan bibir. Entah sudah berapa senti.
            “Iya, bener banget. Baru dengerin suara hihihihi...Inok langsung nangis panggilin Memey, Ona, Oni dan Ono serta Gibson.” Herdi juga ikut membeberkan semuanya. Indra yang mendengar itu tertawanya semakin keras saja.
            “Yeehh...gue nggak seperti itu Jenggot, ngarang lo!” elakku. Meski tidak dipungkiri kalau yang mereka katakan itu benar. Hadeeeeh, malu aku jadinya. Apalgi melihat Indra yang terus saja tertawa.
            “Ndra, ketawamu horor tahu nggak. Berhenti napa?” sungutku.
            “Dhera, Dhera ternyata kamu sama sekali nggak berubah yah.” Indra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Asli, nggak lucu Ndra, terlihat banget aku konyol di matamu. batinku ngedumel. Aku menepuk-nepuk punggung Indra, kontan si cowok keribo itu menoleh.
            “Sini aku saja yang nyetir, kamu dari tadi oleng terus sepedanya.” kataku dengan wajah penuh kesriusan yang keseriusan over dosis *ckck kayaknya sesuatu nih* Indra menghentikan laju sepedanya. Sedangkan yang lain terus jalan di depan kami.
            “Nggak, kamu itu nggak bisa nyetir.” tahan Indra.
            “Aku bisa.” kataku lagi yang kini turun dan berdiri di samping Indra. Itu cowok masih tak mau beranjak dari tempatnya. Langsung saja mendorong tubuh Indra agar bangkit dari tempatnya. Akhirnya Indra menurut. *beneran tukang maksa*
            “Ok, sekarang kamu duduk manis di belakang.” kataku lalu naik di jok sepeda. Satu...dua...tiga...aku mulai mengayuh sepeda yang pastinya dengan mengerahkan semua tenagaku. Di belakang Indra terus mengoceh agar aku berhenti dan laju sepedanya oleng-oleng berubah arah. Tapi aku tidak menggubrisnya.
            “Uuughh!! badan kamu berat banget Ndra, makan gajah atau beruang sih.” kataku.
            “Yaelah, kamu aja yang nggak bisa nyetirnya Dhe. Sini deh, biar aku yang nyetir, itu yang lain udah jauh.” Indra melesat dari boncengan. Lalu menahan sepedaku, berdiri menatapku tajam. Dalam gerakan cepat, Indra mendekatkan wajahnya yang hanya menyisahkan jarak lima senti meter dari wajahku.
            Hadeeehh, nih cowok mau apa? batinku. Semakin kencang saja detakan jantungku. Kedua tanganku masih memegang setir sepeda erat-erat. Indra belum melepaskan tatapannya.
            “Mumpung yang lain sudah duluan, dan tinggal kita berdua.” Kata Indra menyeringai. Oh God, ini orang mau apa sih. Glek! Indra semakin memperpendek jaraknya dan menyisahkan tiga senti meter saja. Hadooh, aku lemas. Tidak ingin berpikir negatif lebih jauh lagi.
            “Eg...eg...Ndra, ka...kamu mau ngapain.” Nah, sekarang aku mulai tergagap. Jantungku semakin tak beraturan. Indra hanya tersenyum, Ih yang sumpah!Itu senyum seram amat.
            “Hanya....” Indra tidak melanjutkan kata-katanya. “ingin berdua denganmu, Dhera.” dan semakin dekat saja. Karena takut, aku memejamkan kedua mataku. Aku menahan nafas. Semoga ada ufo yang mampir terus membawa aku terbang ke angksa *ngayal* kalau tidak ada Sukhoi di atas kami berdua yang suaranya langsung membuat Indra memperpanjang jarak antara kami. *Itu juga ngayal*
            “INDRAAAA...AKU TAKUT...” Teriakku keras.
            CUP! Sesuatu mendarat di pipi kiriku. Kontan aku membuka mata. Di sana Indra tersenyum sangat manis. Hohoho...kok aku seperti melihat pangeran yah, di depanku. Refleks aku memegang pipi kiriku.
            “Hahaha...!” tiba-tiba Indra tertawa lepas. Pasti sekarang rona merah benar-benar nyangkol di pipiku. Aku kikuk sendiri.
            “Sumpah! Demi apapun juga, wajah kamu lucu banget Dhera.” katanya kemudian mengacak-acak rambutku.
            “Indra...kamu...”
            “Sudah yuk, kita susul mereka.” kata Indra, sepertinya ia tahu aku gugup dan pastinya sangat malu. Aku hanya mengangguk lalu duduk di belakang. Sesaat hening. Gimana tidak? Tadi Indra membuatku kaget setengah mati.
            “Hei, kok diam.” ujar si keribo lagi. “Masih gugup yah.” ia malah menggoda.
            “Ndra, udah deh jangan ngomong dulu, nanti jantungku bisa copot.”
            “Bungkam aku dengan cintamu, Dhe.” kali ini aku mencubit pinggangnya. Indra hanya tertawa.

#!#@!%$#^$%&%^*

Bagian 16
Cemburu Itu Masih Ada


            “Hadeeehhh, pacaran dulu yah. Lama banget!” seru Akis begitu aku dan Indra sampai di tempat mereka.  Di sana juga ada Ivan dan Febri. Mau tahu mereka sekarang di mana? Di kebun milik salah satu warga sini. Kebun ini sangat luas, berbagai macam sayuran di tanam di sini. Aku mengulum bibirku, rasanya jadi lapar kalau lihat sayuran. Maklum aku ini vegetarian.
            “Loh, ada kak Febri dan Kak Ivan juga toh!” Seruku sambil menunjukk mereka. Mereka berdua hanya tersenyum menyambutku.
            “Tadi gue sama Ivan lagi keliling aja, lihat para pegawai kebun sedang panen tomat, dan timun kami berdua tertarik untuk melihatnya.” terang Febri. Aku tersenyum. Jadi ingat bagaimana kedua cowok itu mengutarakan cintanya. “Lihat aja tuh!” tunjuk Febri pada sebuah mobil dengan beberapa pegawai memasukkan sayur ke mobil pick-up.
            “Iya Nok, gue juga jadi pengen coba. Lempar-lempar gitu.” sela Aji. Memang siapa saja yang melihat, rasanya ingin mencoba. Salah satu pegawai berada di atas mobil siap menerima lemparan ─beberapa timun yang sudah dibungkus─ dari pegawai yang ada di bawah. Dengan lihainya mereka terus menangkap-lempar dengan cepat, tentunya tanpa ada yang jatuh.
            “Pak, saya boleh coba, hitung-hitung bantu bapak.” timpal Aji lagi. Kedua Bapak itu tersenyum lalu mengangganguk.
            “Halah Ji, udah deh elo jangan sok bisa, bisa ancur semua timunnya!” teriakku.
            “Gue sih, jago dalam lempar kayak gini,” jawabnya. “Ayo Blet, elo yang di bawah, gue di atas.” lalu menarik Tablet.
            Mulanya Tablet mengambil satu bungkus timun, dan siap-siap melempar. Buuk!! lemparannya tidak tepat, malah meleset dan jatuh di atas mobil begitu saja. “Elo payah ih, lemparnya. Yang bener dong. Coba lagi.” seru Aji dari atas. Begtiu dicoba lagi tetap sama. Tablet hanya garuk-garuk kepala. *gak ahli lempar nih, si Tablet*
            “Udah, bisa rusak semua timunnya. Biar gue aja.” ujarku lalu mengusir Tablet. Masih ingat kan saat aku melempar kulit pisang ke tong sampah dengan tepat, meskipun kucing di belakang sedang mengejarku. *iya alhi lempar* Dengan cepat aku melempar satu bungkus timun, dan HAP! Aji menangkapnya sempurna. Aku tersenyum puas ke arah Tablet yang mencibir.
            “Pak, mending bapak lanjutin aja pekerjaan Bapak, biar kita yang menyelasikannya.” ujar Aji dari atas mobil *kesurupan apa nih anak, bisa baik banget* kedua pegawai itu mengucapkan terima kasih lalu berlalu melanjutkan pekerjaannya.
            “Kita bantu yah, Pak.” sambung Akis bersamaan dengan Herdi dan Ivan. *judulnya membantu panen sayuran nih* kini tinggallah Aji, Tablet, aku, Indra dan Febri. Di situ tidak hanya timun, ada tomat yang sebagian sudah di taruh di mobil dan sebagian lagi masih di bawah serta sawi hijau yang sudah di ikat rapi, tapi masih tergeletak manis di kebunnya. Melihat masih banyak  timun dan tomat belum masuk mobil, aku dan ke empat lainnya mulai berbagi tugas.
            Aji dan Tablet sudah sibuk lempar tangkap timun. Kalau aku ─garuk-garuk kepala─ bingung, Febri dan Indra daritadi berebut untuk menangkap lemparanku. Aku melempar timun, Febri yang nangkap sedangkan Indra tak terima, dia bilang itu lemparan untuknya. Saat aku melempar tomat, Indra yang nangkap, giliran Febri tak terima. Melihat mereka yang terus berebut membuat kepalaku pusing.
            “Stop! kalian ini kenapa sih?!” seruku heran sambil memainkan satu butir tomat ukuran lumayan di tanganku. Seketika mereka terdiam. “Ok gini aja, kalau gue lempar tomat, itu buat Indra sebaliknya gue lempar timun itu bagian kak Febri.” ujarku melihat ke arah mereka. Tidak sampai dua detik mereka langsung mengangguk.
            “Nih!” aku lempar tomat dengan sigap Indra menangkapnya. “Nih!” sekarang timun. Dan seterusnya, aku melakukan seperti itu. Yang namanya dua macam ─apapun jenisnya─ kalau dilempar terus menerus kita akan jadi bingung sendiri, belum lagi kepada siapa kita melempar. Begitu juga denganku, aku tak lagi melihat mereka, aku hanya fokus mengambil tomat dan timun yang berada di sisi kanan dan kiri. Tanpa aku sadari lemparanku itu tidak tepat. Seharusnya tomat untuk Indra malah sasaran lemparan ke Febri, tentu saja Indra gelagapan. Begitu sebaliknya.
            “Dhera, pelan-pelan dong!” seru Febri. Tapi aku terus saja melempar. Hingga akhirnya terdengar suara BUUKK! seketika aku langsung menolah ke arah mereka. Di sana wajah Indra tepat kena lemparan tomat tadi. Aku menggigit bibir bawahku.
            “Waw! lemparan yang sempurna!” teriak Febri kegirangan melihat wajah Indra.
            “Sorry Ndra, aku nggak sengaja.” ucapku sambil cengar-cengir Indra hanya menggeleng. Kemudian Febri memberi tanda agar kembali melanjutkan pekerjaan ini. Entah karena lupa atau apa, aku malah kembali melempar tomat ke Febri dan mengenai wajahnya, karena Indra tak siap untuk menangkap. Sedangkan dalam pikiran Febri, ia hanya akan mengangkap timun saja.
            “Yaaahh...Dhe...” Febri meraup wajahnya. Kini giliran Indra yang tertawa.
            “Kak Febri maaf yah, tapi untung kan nggak gue lempar timun, bisa benjol tuh jidat lo!” jawabku juga dengan cengar-cengir. Aji dan Tablet yang semula adem-ayem saja, merasa terganggu dengan perseteruan kami bertiga.
            “Hei! Kalian berisik!” teriak Tablet yang posisi mereka tidak jauh dari Indra dan Febri. Tapi kemudian Aji dan Tablet tertawa melihat wajah Indra dan Febri sudah kotor karena tomat.
            “Hahah, kalau begitu enaknya yang ngelempar juga ikutan sama kan, kayak gini!” Kata Aji yang di susul dengan lemparan tomat ke wajahku. Aku memejamkan kedua mataku, dan dengan tangan terbuka aku meraupnya.
            “Hoooaaaa....Ajiiii!!!!” aku histeris. Si kampret Aji malah tertawa begitu juga dengan Tablet.
            “Sekarang giliran gue yang bilang, lemparan yang semprna!” sambung Tablet.
            “Loh, kok elo ngelempar tomat ke Dhera sih Ji, kasihan kan princess cantik jelita gue.” sergah Indra lalu langsung turun dari atas mobil dan menghampiriku.
            “Hadeeehh...princess elo Ndra, hak banget lo!” Febri yang masih di atas ikut berbicara. “Tapi, kayaknya yang ngelempar prins gue harus gue bales nih!” Febri siap-siap dengan tomatnya. Kalian dengar apa yang dikatakan Febri. Prins?? aku prins dia?? dan POOKK *suaranya ganti lagi* lemparan yang tidak tepat, malah kena wajah Tablet. Tentu ini membuat Tablet geram lalu membalas melempar tomat lagi. Jadinya kami berlima  lempar-lemparan tomat. Aku dan Indra kemudian di susul Febri berada di bawah melawan Aji dan Tablet yang berada di atas. GILA! Dua cowok sengak itu melemparnya tidak tahu jeda, sampai kami bertiga kewalahan. Untung saja yang mereka lempar itu tomat masak.
            Tanpa aku sadari, Indra dan Febri malah melindungiku dari lemparan mereka. Meresa tak adil, aku langsung naik ke atas bergabung dengan dua cowok sengak itu. “Gue ganti kubu! Yeeeehhh!!” teriakku dengan mengangkat tomat dan melemparnya ke Indra kemudian Febri.
            “Bagus Nok!” sambung Tablet.
            “Dhera! turun nggak!” teriak Indra dan Febri bersamaan *tumben kompak* aku tak peduli. Perang tomat tak terhindarkan lagi, tak peduli ini kebun milik siapa dan syuran punya siapa. Yang pasti ini sangat ─menyenangkan. Karena aku selalu kena lemparan, jadinya aku turun dari mobil dan berlari. Tapi Indra dan Febri malah mengejarku. Sedangkan Aji dan Tablet masih dengan aktifitas semula. *Kalau author ikut, pasti tumpah tomat semakin parah*
            Aku terus berlari dengan beberapa tomat dalam genggamanku. Sesekali aku melihat ke belakang. Gawat! Indra dan Febri mengejar yang juga membawa tomat. Aku harus cepat-cepat bersembunyi. *Idih, berasa perang beneran yah!* saatnya lapor ke komandan Aji dan Tablet bahwa posisiku sekarang di pinggir sungai dengan aliran tenang namun tetap jernih.
            “Dhera! berhenti lo!” teriak Febri. Kemudian PUKK! *Sudah ganti lagi yah* sebelum tomat itu melayang ke wajahku, aku terlebih menunduk.
            “Weeww! nggak kena!” seruku. Kini giliran Indra, juga meleset. Mereka berdua hanya manyun. Tapi tiba-tiba BYUUURRR! *suara apaan lagi tuh*
            “Ya Allah Dhera!!” Teriak Indra dan Febri bersamaan. Saking senangnya aku sampai mundur-mundur dan nyebur di sungai. Tanpa basa-basi lagi mereka juga ikut nyebur. Aku yang tadinya hilang kendali, kini bisa berdiri lagi. Dalam sungai ini sampai pada dadaku.
            “Nok, kamu nggak apa-apa!” Febri langsung menghampiriku dan memeriksa. Aku hanya menggeleng, meski tidak bisa aku pungkiri tadi aku sempat menelan air. Melihat Febri yang terlebih dulu menghampiri, tentu saja membuat Indra meradang.
            “Hei! Minggir lo” Indra menghempas tangan Febri. Terlihat jelas Indra sangat tidak suka, bagaimana tidak! sedari tadi Febri memang terkesan selalu berada di dekatku. “Kamu nggak apa-apa, Dhe” kembali aku menggeleng.
            “Sok perhatian! Padahal ujung-ujungnya sama kayak si Adie.” cibir Febri dengan senyum kecut.
            “Ngomong apa lo barusan!” Indra terbawa emosi.
            “Lah, memang benar kan, asal lo tahu yah Ndra! Elo itu nggak lebih baik dari  Adie.” Loh kok mereka jadi panas-panasan gini sih. Indra tidak menjawab ia hanya menatap Febri geram. “Yah, harusnya Dhera pikir-pikir dulu untuk nerima elo setelah elo pergi meninggalkannya.” lanjut Febri. tahu dari mana kak Febri tahu tentang ini. batinku. Apakah setiap orang yang menyukai kita harus tahu semua tentang masa lalu kita?? entahlah.
            “Tapi...” Indra tak menggantung ucapannya. Kemudian merangkul bahuku erat. “Elo juga nggak lebih baik dari gue.” Seperti senajata makan tuan. Febri tertegun mendengar ucapan Indra barusan. Aku yang sedari tadi diam, melirik Indra. Ia seperti tahu sesuatu tentang Febri yang pastinya aku juga belum tahu.
            “Hei! cukup dong! Ngapain sih emosian-emosian gitu” sergahku. “Gue mau naik, tubuh gue bisa kedinginan kalau terus berada di dalam air.” Dengan cepat Indra menuntunku naik kepermukaan. Febri di belakang kami tentu saja dengan emosi yang tertahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar