Rabu, 11 Juli 2012

Cerbung >> Dalam Dunia Dhera *Part 19*


Bagian 15
Dan Ternyata....

@villa

            Aku memajang tubuhku di depan cermin sambil merapikan rambut dan dandanku. Gara-gara perang tomat tadi, aku harus membersihkan tubuhku. Aku memakai jeans tanggung, T-shirt kuning dan sepatu. Sambil berdendang kecil aku memasang kamera di depan cermin. KREK! satu jepratan berhasil. Aku mengamati sejenak. Bagus. *Nggak ada gk bagusnya elo sih*
            “Inoook!!” suara Akis terdengar keras di telingaku. Aku mendelik. Wajah seram Akis terpampang tepat di depanku. Glek! Marah kayaknya nih anak.
            “Ada apa Kis?” tanyaku polos. Nafas Akis memburu. Ia masih menatapku tajam, kemudian mendudukkan aku di kursi dan Akis masih berdiri. Aku seperti dihakami.
            “Gara-gara kalian ngerusak panen tomat dan timun, gue, Kak Ivan dan Herdi harus meminta maaf kepada pemilik kebun sekaligus mengganti kerugiannya.” ucap Akis tegas. Aku menelan ludah. Memang tadi siang setelah aku nyebur ke sungai, aku langsung balik ke villa bareng Febri dan Indra. Selanjutnya aku tidak tahu.
            “Nggak semua kok Kis, cuma tomatnya aja.” ucapku mencari pembelaan.
            “Sama aja, Inok.”
            “Bedalah Kis, tomat yah tomat, timun yah timun. Tadi kita cuma main tomat sedikit kok, nggak pake timun.” terangku layaknya pesan makanan saja.
            “Inoook...!” Akis geram. Aku menggaruk-garuk kepala.
            “Bukan gue aja kok, Indra, kak Febri, Aji dan Tablet juga sama.” Masih mencari pembelaan, takut sekali dimakan Akis nih.
            “Aji dan Tablet udah kita marahin pas di kebun.” ujar Akis. “Dan sekarang elo harus ganti rugi Nok.” Tegas Akis. Aku menaruh kameraku di meja rias. Aku balik menatapnya. Belum sempat aku menjawab cewek itu kembali melanjutkan kata-katanya.      “Dan elo harus marahin Indra dan kak Febri, itu harus, kudu dan wajib!” Drrt...drrtt..drrrt... handphoneku bergetar, pesan masuk. Dari Indra. Aku tersenyum melihat pesan itu lalu segera bangkit dari duduk. Itu artinya aku terbebas dari kemarahan Akis yang sangat menyeramkan itu.
            “Soory Kis, gue buru-buru. Indra udah ada di depan, marah-marahnya dilanjut nanti malam aja yah.” CUP! aku mencium pipi kiri Akis lalu berlari.
            “Inok!!!” teriaknya. Nih cewek nggak bisa pelan apa, main teriak mulu. Aku berhenti di ambang pintu.
            “Oh yah, ganti ruginya gue pinjam uang elo dulu deh, bye Akis!” aku langsung lari turun ke bawah, takut kena lemparan sukhoi dari Akis.
            Begitu di ruang tengah, aku celingak-celinguk. Tidak aku temukan sosok Indra di sana, yang ada hanya Aji dan Tablet dengan wajah yang asli super duper dan super (bubur) berantakan. Aku tahu, ini pasti karena dimarahin Akis. Apalagi Aji, wajahnya kayak orang tidak dikasih makan selama 1bulan *sekarat dong*
            “Hei! Lihat Indra nggak?” tanyaku. Aji langsung menggeleng lemah. Sepertinya amarah Akis sebuah tamparan hebat bagi jiwanya. Tablet menunjuk pintu depan dengan jari telunjuk. Sejenak aku menggaruk-garuk kepala, sampai segitunya mereka di marahi Akis. ckckck.
            Aku langsung membuka pintu, tetap tidak ada. Tuh cowok sembunyi atau emang pulang lagi. Aku melangkah ke depan, hingga pada jalan aspal. Nah, tuh rambut keribonya bergoyang-goyang. Tapi tunggu dulu, sepertinya Indra sedang berbicara dengan seseorang. Aku ragu untuk melangkah, tapi rasa penasaranku lebih tinggi dari rasa keraguanku itu. Habisnya Indra menyebut namaku beberapa kali.
            “Apanya yang pecah.” sergahku langsung begitu sampai di depan mereka, tentu saja setelah aku mendengar Indra mengatakan “Gue tahu elo yang memecahkannya” perkataan yang di tujukan untuk Febri yang saat itu berdiri di depan Indra. Kulihat Febri kaget melihatku datang.
            “Ng...itu...” Febri bingung.
            “Apanya sih yang pecah, terus kenapa kalian nyebut-nyebut nama gue tadi?” tanyaku sekali lagi. Indra maupun Febri masih tak menjawab.
            “Hmm...itu si Febri mecahkan barang berharga milik adikku, Dhe. Tapi Febri nggak sengaja. Iya kan Feb?” Pandangan Indra beralih pada cowok kalem yang belum hilang raut kekagetan dari wajahnya. Febri hanya mengangguk berat. Aku sedikit ragu dengan jawaban mereka.
            “Yah sudah Ndra, katanya kita mau jalan.” ucapku teringat janji Indra yang mengajakku jalan. Tanpa menunggu perkataanku selanjutnya, Indra langsung membuka pintu mobil untukku. Sebelum masuk aku menatap Febri.
            “Kak Febri, kita pergi dulu yah. Kalau mau masuk, masuk aja ada Aji dan Tablet di dalam.” seruku. Sekali lagi, Febri mengangguk berat. Lalu terdengar teriakan Indra agar aku cepat masuk mobil.
            Tak butuh waktu lama, begitu Indra duduk di jok kemudi, ia langsung menstarter mobilnya. Mobil hitam Indra melaju di jalan lengang daerah puncak Bogor. Senang, tentu saja. Bisa dibilang ini kencan pertamaku bersama Indra setelah sekian lama terpisah karena jarak dan waktu.
            “Sebenernya tadi kalian berdua ngomongin apa sih?” tanyaku masih penasaran. “Terus kamu kok sebut-sebut adik? Maksudmu si Ivhi?” Indra hanya tersenyum lalu mengangguk sambil terus mengemudi.
            “Iya si Ivhi sekarang juga ikut sama aku Dhe, dia ada di villaku.”
            “Pasti sekarang udah besar.” Aku ingat, dulu waktu aku dan Indra masih bersama di Cianjur aku beberapa kali melihat Ivhi, adik perempuan Indra yang saat aku bertemu dengannya, anak itu masih sekolah SD. Sekarang pasti sudah besar dan cantik.
            “Kapan-kapan aku boleh dong ketemu sama Ivhi lagi.” Indra kembali mengangguk. Selanjutnya kita berdua terus mengobrol apa saja.
***
@Café
            Mobil Indra parkir di depan sebuah café. Aku turun dari mobil dan masuk café disusul dengan Indra. Kita berdua duduk di salah satu bangku dekat jendela. Aku langsung memesan begitu juga dengan Indra.
            Sambil makan, kami masih mengobrol hingga menjurus pada masalah bagaimana hubungan ini selanjutnya. Aku tahu, liburan tinggal tiga hari lagi. Dan tadi pagi sebelum bersepeda ria, Herdi mengatakan liburannya dua hari lagi saja, dipotong sehari biar ada persiapan berangkat sekolah. Dan sekarang Indra di depanku, dan menyadarkanku satu hal yang selama beberapa hari ini menutup mataku. Kota Indra tidak sama dengan kota tempat tinggalku.
            Aku meneguk minuman soda, lalu tertunduk. Membayangkan jarak dan waktu akan menjadi penghalang kita lagi. Cianjur dan Malang, itu jauh.
            “Dhera...” panggil Indra. Aku tidak menyahut, kembali aku meneguk minuman. Kok sesak yah dadanya. Disaat aku merasa kembali memiliki Indra, tapi kemudian itu sedikit terasa sakit bila melihat satu kenyataan yang ada. Kurasakan punggung tanganku di genggam Indra. Aku memandangnya.
            “Kita akan tetep bersama.” katanya dengan nada yakin.
            “Tapi kamu...”
            “Jarak itu tidak masalah Dhe, kita hanya butuh waktu beberapa bulan lagi untuk menyelesaikan sekolah kan, kita harus mengalahkan jarak dan waktu. Setelah itu aku akan pindah ke Cianjur, kamu tenang saja aku sudah membicarakan ini sama orangtuaku. Bukan hanya itu, aku diberi kebebasan untuk memilih di mana aku kuliah dan tinggal.” terang Indra panjang lebar. Fiuuuh...lega rasanya setelah mendengar penjelasan Indra tadi. Aku tersenyum.
            “Aku kira kita akan terpisah lagi, Ndra.” kataku. Indra menggeleng membuat rambutnya bergoyang. Lucu deh kalau Indra seperti itu.
            “Yang sekarang kita lakukan mengalahkan jarak dan waktu itu Dhe, kita pasti bisa. Nanti aku juga ke Cianjur untuk mengunjungimu .” Kembali aku tersenyum, sesak di dadaku sekarang menghilang. Aku mencoba mempercayai perkataan Indra itu.
            Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Aku dan Indra mencari musolah untuk menunaikan salat Maghrib. Setelah itu kami berdua kembali ke villa.

            Sesampainya di villa, aku langsung masuk kamar, mandi dan ganti baju. Tentu saja setelah anak-anak Say’A mengejekku dengan mengatakan ‘ngedate pertama dengan pujaan hati, setelah bertahun-tahun terpisahkan oleh jarak dan waktu’ itu yang dikatakan Aji. Sedangkan Tablet ‘oh pangeran, akhirnya kamu datang untuk menjemputku ke istana dengan pesta dansa yang meriah’bukan hanya itu Akis bahkan ikut-ikutan ‘Indra Widjaya si pangeran keribo dengan kuda bersayap menjemputku dengan gagah perkasa’ dan terakhir Herdi hanya mengatakan ‘DHERINDRA FOREVER’simple tapi membuat aku tersnyum (nyamping). Sepertinya mereka semua kebanyakan baca cerita dongeng.
            Usai mandi dan ganti baju aku turun ke bawah. Di sana yang lain sedang sibuk bercanda sambil mendengarkan musik. “Woooiii!” teriakku langsung duduk di antara mereka.
            “Gimana?” Herdi dengan mata sayunya.
            “Apanya?” tanyaku.
            “Hadeeehhh, lemot juga lo Nok, ngedatenya lah.” sambung Tablet. Aku hanya tersenyum-senyum saja.
            “Jawabannya cuma satu guys.” sela Aji memandang Akis, Herdi dan Tablet.
            “SEMPURNA!” Ucap mereka berempat serempak. *hadeh, udah direncakan yah* aku hanya menggeleng-geleng.
            “Gila! kalian semua!” sambil menyilang telunjuk di dahiku. Semuanya tertawa lepas. Aku sendiri langsung bermain dengan handphoneku, mengotak-atiknya. Aji berdiri di samping DVD player yang bisa juga memutar lagu dari flashdisk. Ia memandang kami dengan senyum yang sumpah ASEM!
            “Ngapain elo liatin kita kayak gitu.” ujarku tak tahan dengan senyum dan tatapannya.
            “Gimana kalau kita dengerin musik yang membuat kita bergoyang-goyang.” kata Aji. Yang langsung disetujui oleh ketiga temankku.
            “Lagu apa emang?” tanyaku “Rock?”
            “Bukan Nok, yang pasti kamu akan dibuat goyang-goyang.” Aji mengedipkan salah satu matanya. *Kis, pacar elo aneh*
            “Apaan sih?” aku semakin penasaran.
            “Ayo Ji, kita udah nggak sabar nih.” Herdi menghampiri Aji. Aku sendiri langsung mendekati Akis menanyakan musik apa yang akan mereka putar. Kemudian Akis membisikkan sesuatu di telingaku.
            “Dodol! ngomong apa sih, lo. Gue nggak denger, itu bisikan atau kumat-kamit nggak jelas.” protesku.
            “Telinga elo aja yang koslet. Sini!” Akis menarik telingaku.
            “Semprul! Sakit tahu!” aku mengelus-elus telingaku. Kembali Akis membisikkan sesuatu. Terlihat ketiga cowok sayco tersenyum-senyum.
            “APA!!!” aku histeris begitu Akis memberitahuku. “Kalian mau denger musik...”
            “DANGDUT!!!” Seru mereka serempak.
            “Kalian mau bunuh gue!” ku lempar bantal ke Aji dan Herdi yang saat itu sudah siap-siap menekan tombol play.
            “Nggak kok Nok, cuma bikin sekarat aja.” jawab Tablet.
            “Tahan Inok guys.” perintah Aji. Langsung saja Akis dan Tablet menahan tanganku.
            “Apa-apaan nih, waaahh kalian gila! parah!” aku berontah minta lepas. Sekedar catatan saja, aku ini paling tidak suka sama musik dangdut. Bila ada yang memutar musik dangdut itu sama saja membunuhku, *sampai segitunya Nok.*
            “Ok guys, kita mulai!” seru Aji dan Herdi bersamaan. Lalu tangan Aji menekan tombol play. Kontan aku semakin berontah ingin menutup telinga begitu musik dangdut menggema ruang tengah. Tapi Tablet menyanderaku dari belakang. Akis berusaha memegang tanganku. Kakiku pun beraksi, aku terus berontah dengan hebat, sedangkan Aji dan Herdi tertawa terbahak-bahak.
            “HUUUUAAAA!!! MEMEY!!!” Aku histeris. Saking dahsyatnya aksi berontahku. Akhirnya aku berhasil melepaskan diri dari Akis dan Tablet. Kemudian melempar semua bantal yang ada di sofa ke arah mereka. *perang tomat nggak cukup yah, sekarang ganti bantal*
            “MATIIN NGGAK!” Teriakku.
            “Hahaha...” mereka tertawa puas. Sumpah! mereka semua demen banget mengerjai aku.
            “GILA! KALIAN GILA!” Lemparan terakhir terarah pada Aji dengan tepat, kemudian aku langsung naik ke atas, masuk kamar dan menguncinya. Aku sembunyi di balik selimut dengan memeluk boneka kesayanganku. Berharap musik itu tidak terdengar di telingaku. Pasti dan sangat yakin mereka semua sedang tertawa sambil goyang-goyang, joget-joget tidak jelas.

Bagian 16
Febri, Elo....

            Kurasakan selimut yang menutupi tubuhku ditarik seseorang. Kontan membuat tubuhku diterpa hembusan angin yang sudah ku tebak masuk dari jendela yang tebuka lebar. Kembali kutarik selimut itu. Rasanya posisi tidur dengan mendekap boneka kesayanganku membuatku tak ingin bangun.
            “Akis...gue masih ngantuk” rengekku tanpa membuka mata. Shit! sekarang selimutku ditarik paksa, bahkan tak lagi menempel di tubuhku. Tak hilang akal, aku meraih guling dan merangkulnya. Loh, tangan siapa nih. Kurasakan seseorang juga sedang merangkul guling. Sedikit kubuka mata, cewek berambut cepak seperti cowok itu tertidur pulas dengan merangkul guling, itu Akis. Trus, yang narik selimut gue itu siapa? batinku. Karena penasaran aku menoleh ke samping, tentu saja mataku langsung terbuka lebar. Kaget.
            “Indra! Ngapain kamu di sini!” bentakku saking kagetnya. Cowok keribo itu hanya nyengir tak jelas.
            “Kamu tidurnya pules banget Dhe, dari tadi aku bangunin nggak bisa-bisa. Kayak....kerbau!” BUUUKKK!! Ku lempar boneka ke arah Indra. Dodol, masa pacar sendiri dibilang kerbau, terus dia apa? Sapi?
            “Rese! Ngapain kamu ke sini, cowok dilarang masuk tahu.” Aku menarik selimut dari tangan Indra. Tapi itu cowok malah menahannya, jadilah kita tarik menarik selimut. “Indraaaa!!!” seruku.
            “Ini udah siang tahu, bangun dan mandi sana!” perintahnya. Aku hanya manyun. Akis yang masih terlelap menggeliat-geliat. Segera ku tarik gulingnya, tapi ia malah merangkul tanganku. Ini orang mimpi apaan sih, betah banget tidurnya. Biasanya Akis itu paling cepat bangun pagi.
            “Akisss!! Bangun!!!” teriakku. Tuh cewek malah mengelus-elus tanganku *lihat gaya kucing kalau manja* “Kiiisss!!! Elo kayak kucing ih,” kontan aku melepaskan tanganku.
            “Ada apa sih?” ia membuka mata. “What! Indra, ngapain elo!” kaget melihat Indra, Akis langsung duduk di atas tempat tidur. Kembali Indra nyengir, sarap kapan nih anak.
            “Dhera, cepet mandi sana. Aku dan yang lain mau jalan-jalan, kamu ikut nggak?” Indra mengacak-acak rambutnya sendiri. Aku langsung mengangguk.
            “Kok gue nggak diajak, Ndra!” sela Akis
            “Dodol, diajaklah sama pangeran Fransiskus Ajie.” Akis melempar bantal ke Indra. “Asem! Dua kali muka gue kena lempar.” gerutunya.
            “Pergi sana! Kita mau mandi!” Aku turun dari tempat tidur lalu mendorong Indra ke luar. Tiba-tiba tangan Indra menahan sisi pintu. “Apa?” aku mendelik tajam.
            “Dandan yang cantik yah, Dhe.” ucap Indra.
            “Nggak, gue mau kayak ondel-ondel aja.” KREB! pintu tertutup sempurna. Kemudian aku mengambil handuk, namun mataku tertuju pada meja dekat tempat tidur. Segelas susu di sana. Tahu aja tuh anak, batinku sembari tersenyum.
            Sepeluh menit kemudian aku selesai mandi, terlihat Akis masih malas-malasan sambil memainkan handphonenya. Bahkan posisinya masih tiduran. Aneh! Memangnya Akis tidur jam berapa semalam.
            “Hei! Mandi sana!” Aku mendorong tubuh Akis. Lalu Akis bangun dengan setengah hati. “Akiiss!! keburu Indra datang lagi ke sini.”
            “Gue males, gue pengen tidur. Gara-gara semalam dengerin musik dangdut sama yang lain, gue ketawa terus lihat tingkah mereka yang ancur-ancuran jogetnya. Gue baru bisa tidur lewat tengah malam.” terangnya lalu merangkul guling lagi tapi posisinya sekarang duduk.
            “Ih, jorok lo Kis. Mandi sana!” Usirku dengan paksa. Mau tidak mau Akis beranjak juga dari tempat tidur dan mausk kamar mandi. Aku segera mengganti pakaianku.
***
            Kami berdua menuruni tangga. Sedangkan yang lain sudah berkumpul di ruang makan. Sedang sarapan rupanya. Aku duduk di samping Indra dan menyambar dua pisang sekaligus. Akis sendiri duduk di sofa tak ikut bareng kami. Nah loh, tuh anak malah tiduran di sofa. Sebenarnya yang kayak kerbau itu aku atau Akis sih?
            “Eh Ji, elo apain si Akis. Tuh anak bawaannya pengen tidur mulu.” kataku. Aji mengangkat bahu sambil menguyah roti selainya. Tanpa basa-basi lagi Aji bangkit dari duduknya menghampiri pujaaan hati.
            “Kis, nih makan dulu.” Aji menyodorkan sepotong roti. Akis menggeleng. “Kalau nggak mau makan, gue bakal ci...” belum sempat Aji melanjutkan kata-katanya, Akis langsung bangun dan meraih roti dari tangan Aji. Ia tahu betul Aji bakal ngomong apa. Aji hanya tersenyum-senyum.
            “Kemana kita mau jalan-jalan?” tanyaku yang sudah menghabiskan tiga buah pisang. Aku menatap Tablet, Herdi serta Indra.
            “Bukan jalan-jalan sih, cuma kita ikut acara gitu. Yah, hitung-hitung kita menghibur.” jawab Herdi setelah menghabiskan setengah gelas susu yang tersisa. Pasti jawabannya itu kita bakal manggung lagi.
            “Acara apaan?” tanyaku lagi mengambil pisang untuk ke empat kalinya.
            “Acara ulang tahun temen adiknya si Indra, ngadaiinya di café. Lokasinya nggak jauh dari villa Febri dan Ivan.” sambung Tablet. Aku mengangguk dengan satu suapan pisang yang terakhir.
            “Yah, kita nerima tawaran ini selain karena yang ngadain acara itu temen adiknya Indra, kita juga ingin menjadikan liburan terakhir kita ini berkesan. Besok kan, kita harus packing balik ke Cianjur.” terang Herdi. Aku kembali mengangguk. Benar juga yang dikatakan si Jenggot, besok pagi kita semua harus sudah packing dan balik ke Cianjur.
            Aku hendak mengambil pisang lagi dengan tatapan lurus ke depan. Loh, kok pisangnya nggak ada. batinku begitu sadar dari tadi aku meraba-raba tidak mendapati pisang. Aku langsung menolah, eh si Indra mengangkat ranjang yang bersisi pisang itu.
            “Indra!”
            “Kamu udah makan empat Dhe,” katanya.
            “Yaelah Ndra, kayak nggak tahu cewek elo aja. Dia kan maniak pisang.” timpal Tablet. *Akis sama Aji mana?* noh, dua sejoli itu sedang bercanda di sofa.
            “Ndra, gue masih kurang.” rengekku. Sesaaat Indra memperhatikanku, lalu mengambil satu pisang dan mengupasnya.
            “Buka mulutnya.” pintanya.
            “Ih, kamu apa-apaan sih, aku kan udah gede bisa makan sendiri.”
            “DOUBLE WAW, kalau elo bisa maka sendiri Nok. Bukannya elo biasa disuapin Memey.” sergah Tablet langsung disusul dengan anggukan kepala Herdi. Aku menatap tajam dua cowok itu. Buka kartu orang aja nih.
            “Udah, biar gue suapin. Buka mulutnya, aaaaa...” kata Indra menyodorkan pisang ke mulutku. Agak malu akhirnya aku menanggapinya juga.
            “Blet, elo suapin gue juga dong.” kata Herdi. *nah, udah kebalik nih kayaknya*
            “Iya, nanti gue suapin elo dengan buldoser biar elo gendut.” balas Tablet. Sepertinya ngondekTablet berkurang, sekarang giliran Herdi.
***
            Beberapa jam kemudian kami berenam sudah sampai di sebuah villa dengan ukuran lumayan besar. Di samping villa itu juga terdapat satu buah villa yang ukurannya melebihi villa pertama. Kata Herdi ini villa Ivan dan Febri. Yang ukurannya besar itu milik Ivan sedangkan di sebelahnya itu milik Febri. Kami mampir dulu ke sini karena acara ulang tahunnya belum mulai, entar siang kata Indra yang baru saja dihubungi oleh Ivhi. Sambil menunggu acara dimulai, kita semua main-main dulu di sini.
            Villa Ivan dan Febri sudah mulai ada beberapa pemukiman, sekitar dua sampai empat rumah warga di sekitarnya tapi jarak anta villa mereka dengan ruamh penduuk masih bisa dibilang jauh. Suasana dan tempatnya juga sama sejuknya dengan villa Akis. Dari masing-masing villa Febri dan Ivan muncul dan langsung menyambut kami.
            “Kalian udah seperti kembar beda rupa yah, nggak terpisahkan. Bahkan villa aja berdekatan gitu.” komentar Akis. Ivan dan Febri saling pandang sebelum merangkul bahu satu sama lain.
            “Kita best friend sejak kecil.” jawab mereka serempak. Satu point lagi buat mereka, kekompakkannya terasa sekali.
            Semoga aja ikatan kalian tidak pernah putus, walaupun suatu saat mungkin kalian mengatahui satu sama lain kalau kalian mempunyai perasaan yang sama ke gue. batinku sambil menatap mereka tersenyum.
            “Ayo masuk, mau di villa siapa?” tanya Ivan yang sekarang tidak membawa similikitinya.
            “Elo aja Van,” jawab Aji. Selanjutnya kami semua masuk ke villa Ivan. Ternyata di belakang villa ini ada juga sungai kecil yang jernih, bahkan kata Ivan banyak ikannya. Tentu saja ini dimanfaatkan oleh Aji, Herdi dan Tablet untuk memancing. Langsung Ivan dan Febri mencari pancing mereka.
            “Asyik! bakal bakar ikan lagi nih.” seru Aji kegirangan. ckckk makan aja nih anak.
            Begitu Febri dan Ivan menyerahkan pancing, ketiga cowok (Aji, Herdi dan Tablet) langsung menanggapinya. Sedangkan Akis yang orangnya penasaran hanya ngikut di belakang mereka sambil membawa ember buat naruh hasil tangkapan. Kalau aku, Indra, Ivan dan Febri hanya duduk di kursi panjang yang sudah tersedia di sana. Febri memegang gitar, namun segera Indra meminjamnya, karena aku dan Indra berencana akan duet nanti. Jadi Indra ingin latihan dulu, mumpung ada gitar.
            Si Ivan sibuk mengelus-elus dan bermain dengan similikiti.
            “Kak Febri, nanti ikut ke acara temennya Ivhi nggak?” tanyaku sebelum siap menyanyi dengan Indra memetik-metik gitar.
            “Jaraknya juga deket Dhe, kayaknya kita berdua bakal datang. Boleh kan, Ndra?” tatapan Febri beralih pada Indra. Entah apa ini perasaanku saja, kulihat begitu tajam tatapan Febri ke Indra.
            “Oh, boleh dong. Tadi kata Ivhi juga gue boleh bawa temen-temen gue.” jawab Indra enteng. Tapi aku merasa ada sesuatu yang mereka sembunyiin. Tapi apa? Lagian, Indra seperti tak asing melihat wajah Febri. “Ayo Dhe, mulai” pinta Indra.
Saat ku menatap matamu,
Penuh dengan rasa akan kesedihan.
Kau ucapkan kata yang tak sepantasnya,
Yang kau ucapakan pada diriku...
Wajar bila saat ini aku, selalu membayangkan dirimu...
Terbayang dibenakku kau berdua dengan dirinya di depanku
Kau yang selalu dihatiku, hilangkan rasa sepi malam ini...
Kau disaat tersenyum untuknya,
Membuat hati ini semakin tenggelam.

            Lagu Say’A – Kau di Hatiku. Ini memang pantasnya dinyanyikan oleh Ivan atau Indra yang jelas-jelas mereka menyaksikan aku bersama Indra di depan mereka. Dulu lagu ini juga berlaku untukku, ketika Adie bersama Gea tepat di depan mataku.
            Ku lihat mereka berdua sesaat terpaku melihatku menyanyi bersama Indra. Entah aku tak tahu apa yang mereka rasakan, yang pasti aku tidak ada niat untuk menyakiti siapapun.
Wajar bila saat ini aku selalu..
Membayangkan dirimu...
Terbayang di benakku kau berdua dengan dirinya di depanku...

            “Gue ambil minum dulu yah, buat kalian semua.” tiba-tiba Febri bangun dan langsung berlalu. Aku sendiri kembali melanjutkan menyanyi.
     Beberapa menit telah berlalu, tapi Febri belum juga nongol. Setidaknya membuat minuman itu tidak kurang dari sepuluh menit kan, sekarang sudah lima belas menit. Kalau masalah susah membawanya ia bisa memanggil Ivan atau yang lain.
“Lah, kak Febri tidur kali yah?” kataku asal.
“Dia mah nggak kayak elo Dhe, suka tidur.” sindir Indra. Aku langsung mencubit lengannya. Tiba-tiba Ivan bangun sambil menggendong similikiti.
            “Gue susul Febri dulu yah, kasihan yang mancing udah pada haus, begitu juga kalian.” kata Ivan. Aku dan Indra mengangguk.
            Namun Ivan juga sama, tuh anak sampai menit ke sepuluh belum juga keluar. Sedangkan aku dan Indra sudah merasa haus. “Dhe, aku haus nih. aku nyusul mereka aja yah.” kata Indra. Tapi dengan segera aku menahannya.
            “Biar aku aja Ndra, kamu tunggu di sini yah?” kataku lalu langsung berlari masuk ke dalam villa Ivan.

Hai, di sini sundut pandangnya di ubah yah, jadi orang ketiga. Semoga kalian ngerti...:D

            “Febri!” panggil Ivan begitu memasuki dapur. Kosong. Tidak ada Febri di sana. Ivan mencari ke ruang tengah, juga tidak ada. Kalau beli minuman di luar, itu tidak mungkin. Persediaan di kulkas masih banyak. Apa Febri balik ke villanya dan mengambil minum di sana, itu juga tidak mungkin.
            Ivan beralih ke teras depan. Nah, tuh anak sedang menempelkan dahinya ke tembok, dengan sesekali menggedor-gedorkannya. Melihat tingkah Febri itu, Ivan yang sudah menaruh similikiti ke kandangnya, langsung mengampiri Febri. Wajah yang biasanya terlihat kalem itu terlihat kusut, amburadul, ada gurat kesedihan dan penyesalan di sana.
            “Hei! Elo kenapa?” Ivan menepuk pundak Febri. Kontan Febri menoleh sesaat. “Sarap lo, ditunggu dari tadi eh, elo malah di sini.” Febri tidak menjawab.
            “Feb, kenapa sih?” Ivan semakin kesal karena Febri tidak juga menjawab pertanyaannya.
            “Gue...gue nggak sanggup lihat Dhera?”ucap Febri lirih.
            “Maksud elo?” Kemudian Febri balik badan dan kini ia nyeloroh jatuh dengan menyandarkan punggungnya ke tembok. Ivan yang masih tak mengerti, ikut jonggok di samping Febri.
            “Elo ingat, dulu ketika Dhera masih sama kita...”Febri menghentikan kalimatnya “Dhera kecil yang menangis, sampai mengurung diri di kamar selama beberpa hari.” Lanjutnya. Sejenak Ivan terdiam mengingat sesuatu.
            “Iya gue inget banget, bahkan kita berdua tidak bisa membujuknya kecuali Papa dan Memeynya.”
            “Yah benar, itu dikarenakan miniatur taman yang terselubung kaca menyerupai kristal dengan konsep hujan salju di dalamnya itu pecah.” lanjut Febri lagi.
            “Iya, gue tahu itu Feb. Itu kan hadiah papanya sewaktu Dhera ulang tahun ke 8 kan?  Terus hubungannya dengan elo nggak tega lihat Dhera apa?” Ivan masih terlihat bingung. Habisnya si Febri sepotong-potong gitu menjelaskannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar