Rabu, 11 Juli 2012

Cerbung >> Dalam Dunia Dhera *Part 20*




            “Yah benar, itu dikarenakan miniatur taman yang terselubung kaca menyerupai kristal dengan konsep hujan salju di dalamnya itu pecah.” lanjut Febri lagi.
            “Iya, gue tahu itu Feb. Itu kan hadiah papanya sewaktu Dhera ulang tahun ke 8 kan?  Terus hubungannya dengan elo nggak tega lihat Dhera apa?” Ivan masih terlihat bingung. Habisnya si Febri sepotong-potong gitu menjelaskannya.
            Febri menarik nafasnya dalam-dalam dan berat. Sejenak kepalanya tertunduk. “Gue yang mecahin miniatur taman itu.” Duuuuaaarrr!!! itu halilintar di siang bolong mampir ke telinga Ivan dan juga sepasang mata yang sedari tadi berdiri di ambang pintu tak jauh dari Ivan dan Febri. Pemilik mata itu adalah cewek berpenampilan tomboy, dan kini bola matanya sudah berkaca-kaca.
            “Apa?! Elo yang mecahinnya?” Ivan seakan tak percaya.
            “Gue...gue nggak sengaja Van, waktu itu niatnya gue cuma...”
            “Jadi elo yang mecahin miniatur taman itu, Kak Febri?” Tiba-tiba suara dari belakang mereka terdengar. Kontan membuat Febri dan Ivan kaget setengah jantungan plus sekarat. *kalau di gabungin jadi tewas* mereka langsung berdiri.
            “Dhera!” seru Ivan dan Febri bersamaan. Wajah Febri terlihat pucat. Begitu juga dengan Ivan, ini gawat. Dhera bisa marah besar. Dan itu tidak perlu di tanya, terlihat jelas dari mata Dhera, kemarahn itu meletup-letup.
            “Elo bohongi gue Kak, elo yang mecahin miniatur itu! Elo brengsek!” Dhera mendorong tubuh Febri hingga itu cowok mundur beberapa langkah. Lalu Dhera segera berlari, bukan masuk ke dalam, tapi menuju latar tempat terparkirnya mobil miliknya dan milik Indra.
            “Dhera!! Tunggu Dhe!” teriak Febri mengejar Dhera. TAP! Febri berhasil menarik tangan Dhera dan menahannya.
“Lepasin gue!” Dhera berusah melepaskan tangannya. Tapi cengkraman Febri lebih kuat dari dirinya.
“Dhe, gue...”
“Cukup! Semuanya udah jelas bagi gue Kak, elo yang mecahin. Elo bohongi gue, berpura-pura tidak bersalah dengan apa yang elo lakuin. Elo munafik, pecengut Kak!” bentak Dhera tepat di depan Febri. Lalu dnegan satu hentakn ia melepaskan tangan Febri. Saat membuka pintu mobil Febri kembali menahan Dhera.
“Gue nggak bermaksud seperti itu. Semuanya...”
“Lepasin!” KREB! Pintu mobil tertutup dengan Dhera di dalamnya. Febri yang sibuk membujuk Dhera supaya jangan pergi, sedangkan Ivan masih bingung sekaligus kaget juga dengan kedatangan Dhera dan pengakuan Febri tadi. Ia hanya terpaku di teras.
            “Dhera! Please dengerin gue dulu, gue bisa jelasin!” Febri berusaha membuka pintu kemudi Dhera sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil.
            “Gue nggak butuh penjelasan dari elo lagi Kak, elo udah mecahin benda berharga milik gue, sekaligus bohongi gue!” teriak Dhera dari dalam. Kini tangisnya sudah pecah, dengan agak terburu-buru ia memasang kunci dan mencoba menstarter.
            “Dhe, gue mohon dengerin gue dulu!” Febri terus meminta agar Dhera membuka kaca mobil.
“DHERAAAA!!!” Teriak Febri begitu mobil Dhera melaju pergi. Dan pastinya laju mobil itu cukup kecang dan terburu-buru. Febri menatap kepergian Dhera dengan penuh penyesalahn, ia bahkan meremas-remas rambutnya sendiri. Berbeda dengan Ivan, melihat kepergian Dhera, ia langsung masuk ke dalam.
            “Ndra! Gawat!” sergah Ivan begitu ia menemui Indra. Cowok keribo yang saat itu memetik gitar tertegun melihat kedatangan Ivan dengan raut wajah khawatir. Ini membuat keempat anak Say’A yang saat itu asyik memancing menghentikan aktifitas mereka.
            “Ada apa, Van?” tanya Indra.
            “Dhera pergi dengan mobil dengan kecepatan tinggi.” suara Ivan terdengar gemetaran. Jujur ia sendiri takut terjadi apa-apa sama Dhera, ia bisa saja menyusul Dhera tadi. Tapi melihat kemarahan Dhera, ia maupun Febri tidak bisa menghalanginya. Bukan apa-apa, pastinya Dhera tidak mau mendengar setiap kata yang diucapkan Ivan, terutama Febri.
            “Apa! Dhera pergi!” Indra kontan meletakkan gitar di sampingnya.
            “Ada apa sih?” tanya Akis dengan Aji, Tablet dan Herdi di belakangnya.
            “Dhera pergi Kis.” jawab Ivan menatap Akis. Ekspresi sama yang ditunjukkan Indra, cewek tomboy itu juga kaget.
            “Pergi!” Pekiki Akis. Di susul dengan kekagetan tiga cowok di belakangnya.
            “Kenapa bisa pergi!” ujar Indra, itu bukan pertanyaan lebih tepatnya membentak.
            “Tadi Dhera denger kalau Febri yang mecahin miniatur tamannya. Terus ia marah dan pergi dengan mobilnya. Gue mau nyusul, tapi gue pikir...” jelas Ivan. Indra bangun dari duduknya lalu berdiri tepat di depan Ivan.
            “Kenapa bisa tahu! Bukankah Febri menutupinya dnegan rapat-rapat.” Hampir saja Indra menarik kerah baju Ivan, tapi langsung di cegah oleh Tablet. “Elo tahu kan, Dhera belum bisa ngelupain miniatur taman yang pecah itu!” katanya dengan suara meninggi. Terlihat jelas amarah menguasai diri Indra. Selain Indra dan Akis, ketiga cowok Say’A tidak tahu apa-apa tentang miniatur taman itu.
            “Gue bahkan baru tahu kalau Febri yang mecahinnya.” Ivan membela diri. Sedangkan Akis sudah meremas-remas syal yang melingkar di lehernya, tanda ia khawatir.
            “Ini gawat! Kalau Inok ngendariin mobil dengan marah-marah gitu, gue takut kalau Inok hilang kontrol gimana? Belum lagi kaki Inok kan baru sembuh.” ucap Akis dengan nada cemas.
            “Ini semua gara-gara kalian berdua!” Indra mendorong tubuh Ivan.
            “Kok elo jadi nyalihin gue. Gue nggak tahu apa-apa yah, Ndra!” Ivan balas mendorong Indra.
            “Karena temen elo udah buat Dhera seperti itu!”
            “Eh, Ndra! Elo nggak tahu apa-apa tentang Febri atau pun gue. Elo nggak berhak menilai kita berdua seperti itu. Dan gue nggak tahu apa-apa, lo ngerti hah!” Ivan termakan emosi. Ia juga menatap tajam balik Indra.
            “Sudah cukup! Kita harus susul Inok!” lerai Herdi di tengah-tengah mereka. Tidak sampai detik ketiga Indra langsung pergi setelah Akis menyerahkan kunci mobil. Soalnya pas berangkat Indra dan Dhera berangkat dengan mobil Dhera, sedangkan mobil Indra di pakai anak-anak Say’A.
            Aji dan Tablet hendak ikut dengan Indra, tapi Akis menahannya. Ia merasa lebih baik Indra yang menyusul dan mencari Dhera.
            Di pelataran villa, Febri belum juga beranjak. Penyesalan yang selama ini terpendam di hatinya kini meluap sudah, bahkan sudah terbayang Dhera akan membecinya sampai kapanpun. Itu sebabnya kenapa Febri merahasiakan kejadian beberapa tahun silam. Ia takut Dhera membencinya dan tak mau mengenalnya lagi.
            Indra menghampiri Febri dengan kemarhannya sudah di ubun-ubun.
“Brengsek lo!” Ia mencengkram kerah baju Febri dengan tatapan setajam pedang yang baru di asah.
            “Ndra! Gue...”
            “Kalau terjadi apa-apa sama Dhera, elo adalah orang pertama yang gue datangi!” ucap Indra menekankan setiap katanya. Febri tidak berkata apa-apa lagi. Ini memang kesalahannya, wajar juga kalau Indra marah. Ia kan pacarnya?
            Indra merasa percuma saja jika marah-marah sama Febri saat ini. Sekarang menyusul Dhera itu lebih penting dari semuanya. Indra langsung masuk ke mobil lalu melaju dengan kecepatan tinggi. Sambil terus mengemudi, ia juga menelpon Dhera, tapi tidak di angkat juga. Rasa khawatir semakin menyelimuti dirinya.
            Dhe, elo di mana? batin Indra terus mengemudi dengan pandangan mencari mobil Dhera. Hampir setengah jam Indra menelusuri setiap jalan, tapi ia tidak juga menemukan Dhera. Beberapa kali juga Akis menghubungi apakah Dhera sudah ditemukan. Dan jawabannya sudah pasti belum, di atas sudah dijelaskan.
            Indra berhenti di sebuah jalan. Ia keluar dari mobil, menatap ke sekeliling. Beberapa mobil lewat, tapi tidak ada satu pun tanda-tanda mobil Dhera. Indra tertunduk lemas. Dhe, kamu di mana?batin Indra lagi sambil menggigit-gigit ujung handponenya.
            Tuuutt...tuuuuttt...tuuuttt....hanya suara itu yang terdengar tiap kali Indra menghubungi Dhera. Tuh anak sama sekali tidak mengangkat telpon dari Indra. Bukan cuma khawatir, bukankah sekitar satu jam lagi anak Say’A bakal manggung di acara ulang tahun teman Ivhi. Tapi kecemasan akan keselamatan Dhera itu yang membuat Indra kotar-katir.
            Tiba-tiba handphonenya bunyi, telpon dari Akis.
“Ndra, gimana Inok udah ketemu.” suara Akis bergetar. Pasti udah mewek dia.
            “Belum Kis, elo tenang aja. Gue akan terus cari Dhera.”
            “Please Ndra, bawa Inok balik. Kita di sini khawatir.”
            “Iya Kis.” Klik! Telpon terputus. Indra mendesah. Kemana lagi ia mencari Dhera. Ia takut tuh anak malah pulang ke Cianjur sendiri. Yang lain pasti bisa di jadiin steak oleh Papa Dhera dan Yoga yang jadi polisi.
            Kembali handphone Indra berbunyi. Sejenak, Indra melihat layar handphonenya. Nomoar tidak di kenal.
            “Hallo selamat pagi menjelas siang.” suara lelaki di saluran sana.
            “Iya.” jawab Indra.
            “Maaf apa ini dengan teman dari saudari Non Dhera Anggia Putri Prawitasari?” Indra tertegun, kenapa nih orang bisa tahu tentang Dhera.
“Iya, ada apa yah?” Indra masih bingung. Dari nada bicaranya sih, seperti....
            “Kami dari pihak kepolisian.” Indra kaget mendengarnya. Pasti sesuatu terjadi pada diri Dhera sampai-sampai polisi menghubungi dirinya.
“A...Ada apa yah, Pak?” tanya Indra gugup. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar