Kamis, 02 Agustus 2012

Nyanyian Nina Bersama Senja # Bagian 2


            “Gue antar yah?” TAP! Tangannya berhasil menahan tanganku.
            “Ngga usah Ga.” jawabku seraya melepaskan tangannya. Aku menunduk. “Aku bisa naik angkot.” lalu keluar dari café. Beruntung sekali sebuah angkot melaju di depan. Aku segera berlari menerobos hujan dan memberhentikannya. Tanpa menunggu apa-apa lagi, aku masuk angkot dan duduk di bagian belakang yang kosong. Masih kulihat dari jendela angkot yang buram karena air hujan, Angga tetap berdiri di tempatnya memandang angkot ini melaju.
            Nina, demi apapun. Aku tidak merebut perhatian Angga. Itu tidak akan terjadi. Tidak akan, Nin. Batinku masih terpikirkan perkataan Angga tadi. Meski pun aku belum pernah pacaran, tapi setahuku kalau seorang cowok menanyakan kepada seorang cewek apakah sudah mempunyai pasangan, biasanya cowok itu akan mengutarakan cintanya. Pertanyaan itu untuk memastikan status cewek tersebut. Yah, itu yang aku tahu.
            Angkot terus melaju menuju pemukiman tempatku tinggal. Hujan belum juga berhenti. Nanti begitu memasuki gang kontrakanku, aku harus melepas sepatu karena jalanan yang becek dan pastinya ada genangan air juga. Sayang, sepatuku buat besok sekolah. Kalau dijemur juga tidak mungkin kering. Dan sepertinya hari ini langit benar-benar tak bersahabat.
***
            Aku berada di ruang tengah dengan dua bocah kelas 4 SD sedang belajar. Aku mengajarinya beberapa mata pelajaran yang mereka kurang menguasai. Aku tidak terlalu memaksakan mereka menuruti kehendakku. Aku ajak mereka menyukai pelajaran dulu, kalau sudah suka, belajar juga jadi enak. Apalagi dua bocah ini sangat menyenangkan, tidak bandal. Yang cewek anaknya tante Inah, bernama Tari. Yang satunya cowok, anak temen tante Inah, bernama Yoga. Mereka terlihat begitu akrab. Seakrab aku dan Nina.
            Satu jam setengah berlalu. Aku masih bersama dua bocah ini. Sesekali ku tengok ke luar rumah. Masih hujan, meski tidak sederas tadi. Di rumah besar ini tidak ada orang, hanya seorang pembantu dan dua bocah ini. Katnya tante Inah sedang ada keperluan penting.
            “Tari, Yoga, kalian sudah mengerti dengan materi ini?” tanyaku menatap mereka berdua. Saat ini aku mengajarkan Matematika kepada mereka.
            “Sudah, kak Senja!” seru Tari semangat.
            “Kalau kamu, Yoga?” aku beralih pada Yoga yang saat itu garuk-garuk kepala menatap bukunya.
            “Belum kak, ini dari mana yah?” Yoga meletakkan buku itu dengan posisi terbuka dan menunjuk contoh soal yang aku berikan. Saat aku mau menjawab, Tari mengambil pensil dari tangan Yoga.
            “Dari sini Yoga. Yang ini di taruh di sini, terus dibagi hasilnya di taruh di atas. Terus ininya....” bla bla bla, Tari dengan suara khas anak kecilnya menjelaskan pada Yoga sambil menunjuk angka-angka. Yoga memperhatikan dengan saksama. Aku tersenyum melihat tingkah Tari, itu bocah cepat ngerti. Padahal awalnya Tarilah yang ogah-ogahan belajar begitu tahu yang akan diajari itu adalah Matematika. Usahaku memotivasi mereka berdua ternyata berhasil.
            “Oh iya juga yah Tar, kamu kok piter sih?” puji Yoga.
            “Iya dong, Tari gitu!” Tari menepuk-nepuk dadanya sendiri. Aku tertawa kecil.
            “Wee, itu kan karena kamu diajari sama kak Senja.” Yoga menjulurkan lidahnya.
            “Tapi kan aku udah bisa, Yoga...” Tari dengan gemas mencubit pipi Yoga. Melihat itu, aku mendekati mereka.
            “Nah, untuk hari ini belajarnya sampai pada materi itu yah? Nanti lusa kita belajar lagi.” kataku merangkul Tari dan Yoga bersamaan. Mereka mengangguk serempak. Ku lirik jam dinding yang ada di ruang tengah. Sudah jam 16.00. Aku langsung pamit pada pembantu rumah tante Inah. Aku telat! Seharusnya setengah jam lalu aku sudah berada di panti.
****
            Suara adzan terdengar syahdu di telingaku. Aku terbangun. Segera ku ambil air whudlu untuk menunaikan salat Shubuh. Biasanya Aku kesulitan membangunkan Nina untuk salat, soalnya ia kecapekan karena seharian latihan basket dan volly. Tapi sekarang, aku sendirian.
            Begitu khusyuk salatku. Setelahnya, kupanjatkan doa untuk kedua orang tuaku yang sudah berada di sisi Allah, untuk ibu Fatimah yang sudah kuanggap ibu sendiri, lalu untuk Nina. Doaku terhenti begitu terdengar suara benda jatuh. Aku langsung bangun masih memakai mukenah. Ternyata pot bunga di ruang tamu jatuh, untung saja pot itu terbuat dari anyaman rotan, sehingga tidak pecah. Perlahan kuambil pot bunga itu dan memandangnya aneh. Jelas aneh! Kenapa bisa jatuh, padahal tidak ada angin di ruangan ini. Tunggu! Aku ingat, Nina sering menyenggol pot bunga ini kalau ia pulang sekolah dengan terburu-buru atau sedang capek. Dan aku sering menyebutnya ceroboh. Jangan-jangan Nina pulang! Tapi...apa mungkin. Dia kan....
            Sejenak aku terdiam. Kulangkahkan kakiku menuju dapur hingga kamar mandi. Tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba kurasakan seperti gerakan tangan merangkul bahuku. Aku langsung menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Ah! Cuma perasaanku saja. Aku kembali ke kamar.
***

            Terlihat sesak di depan mading sekolah. Aku penasaran ada pengumuman apa, segera kuberlari kecil menuju mading. Memaksa masuk dalam kerumunan siswa-siswi. Terlihat tulisan gede-gede terpajang di mading:
PERTANDINGAN VOLLY ANTAR SMA
Yang akan dilaksanakan pada Senin, 13 Agustus 2012
Bagi siapa yang ingin masuk tim inti
Harap mengikuti seleksi mulai sore ini


            Ada sesak yang teramat menyiksa di hatiku. Kenapa pertandingannya baru ada sekarang, dan kenapa seleksinya dimulai sore ini. Kalau Nina ada, dia pasti ikut. Ini olahraga kesukaannya. Aku keluar dari kerumunan dengan lemah, tak sampai selesai aku membaca pengumuman itu.
            Nina... lirihku dalam hati. Aku menjauh dari kerumuman, menuju bawah tangga koridor. Kusandarkan punggungku ke tembok, menghembuskan napas yang masih terasa sesak.
            “Kalau Nina ada, pasti dia akan ikut seleksi itu kan?” tiba-tiba seseorang datang. Aku mendelik, dia lagi!
            “Iya, Ga.” jawabku masih lemah. Angga ikut menyandarkan punggungnya di sebelahku. Angga datang tanpa teman-temannya, tumben. Biasanya tuh anak selalu bareng sama Gilang, Reno dan Diki.
            “Elo rindu yah, sama Nina.” ujar Angga. Pertanyaan yang tidak perlu dilontarkan. Jelas aku rindu padanya, dia sahabatku, sahabat terdekatku. Aku mengangguk. Angga mendongakkan kepalanya, sebentar ia memejamkan kedua matanya.
            “Ngapain kamu ke sini, nggak malu sama teman-temanmu, karena kamu berdiri di sampingku.” ujarku to the point. Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikap Angga dari kemarin. Ini orang selalu datang tiba-tiba di depanku.
            “Nggak boleh? Lagian hak gue mau di samping siapa. Yang berdiri juga gue kan, bukan mereka.” jawabnya.
            “Tapi Ga, kamu cowok yang paling...”
            “Paling keren, populer, dikejar-kejar cewek, bak pangeran di SMA ini. Itu kan maksud lo.” hardik Angga dengan percaya dirinya. Aku menggigit bibir bawahku.
            “Yah, dan rasanya aneh kalau kamu sekarang mau berdiri di sampingku.”
            “Kemarin gue bonceng elo, itu juga aneh!” balas Angga.
            “Yah!”
            “Elo yang aneh, Senja. Gue Raditya Angga Saputra tetap siswa SMA Bintang. Gue juga berhak dekat siapa saja, termasuk elo. Gue Angga, cowok terpopuler di SMA ini mempunyai hak yang sama dengan siswa lain.” Tandas Angga sedikit menaikkan nada bicaranya. Aku ingin sekali membungkam mulutnya, agar anak-anak lain tidak mendengar. Malu pastinya kalau yang lain tahu, seorang Angga sedang bersamaku, aku yang seperti upik abu. Bukan hanya itu, bisa-bisa aku jadi bulanan para cewek yang ngejar-ngejar Angga. Karena meskipun banyak yang menyukai, selama ini aku belum pernah melihat Angga berjalan mesra dengan cewek.
            “Dan satu lagi Senja.” Wajah Angga mendekat tepat di wajahku. Aku mematung. Matanya tajam ke manik mataku. “Jangan anggap gue cowok yang pilih-pilih teman, karena gue nggak seperti itu. Bahkan gue mau berteman dengan pembantu sekalipun, kalau itu orang baik why not.” Lanjut Angga menekankan setiap kata-katanya. Glek! Aku tidak bisa menjawab, mulutku terkunci rapat.
            “Ga...mi...minggir...” ucapku terbata. Angga tersadar posisinya begitu dekat denganku. Dengan cepat ia menarik tubuhnya lagi sedikit menjauh.
            “Masuk kelas sana!” Pinta Angga. Loh, cowok satu ini malah menyuruhku? Tanpa basa-basi lagi aku langsung berlari menuju kelas. Tentu saja jantungku masih berdebar sangat kencang sambil memanggil nama Nina dalam hati.
***

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar