Kamis, 02 Agustus 2012

Nyanyian Nina Bersama Senja # Bagian 4 ENDING


            “Senja, apa kamu belum bisa menerima semua ini? Nina sudah tidak ada sayang...” sangat pelan tante Inah mengatakannya.
            “Tapi tante, Nina benaran ada di sini. Sekarang dia ada di kamar Senja.” Aku tetap keukuh kalau Nina memang ada di sini.
            “Senja, itu tidak mungkin. Sudah lima hari Nina pergi sayang. Dia tidak mungkin ada di sini. Bukankah dua hari yang lalu kamu juga mengadakan tahlilan di panti asuhan. Kamu cuma berkhayal saja.” Tante Inah membelai rambutku. Aku menggelangkan kepalaku.
            “Kalau tante nggak percaya, biar Senja tunjukkan.” Aku langsung menarik tangan tante Inah masuk ke dalam lalu menuju kamarku “Nina! Nin!” panggilku membuka kamar. Kosong. Aku melihat ke dapur, tetap kosong. Pasti di kamar mandi. “Nina! Ada tante Inah nih, kamu di mana!” teriakku. Tak ada jawaban dan tak ada sosok Nina di ruangan mana pun.
            “Senja, sudah Senja. Nina...”
            “Nggak tante, memang dua hari yang lalu Senja mengadakan tahlilan di panti. Tapi sudah dua hari ini Nina datang ke rumah. Bahkan Senja tidur bareng Nina.” terangku berusaha meyakinkan tante Inah “ Nina! Nin, kamu di mana?!”
            “Sayang, dengar tante!” tante Inah menarik wajahku untuk menatapnya “Nina sudah tidak ada, Nina sudah dipanggil Allah. Kamu cuma belum siap menerima semua ini.” suara tante Inah ditekankan. Mendengar ucapannya, mataku serasa panas. Bibirkku bergetar. “Senja, kamu sendiri melihat jasad Nina dikebumikan. Sadar sayang, istighfar.” lanjutnya. Aku menangis. Tante Inah memelukku erat.
            “Nina...Tapi Senja melihatnya datang ke rumah ini, tante. Senja nggak bohong.” tangisku semakin menjadi. Kurasakan tante Inah juga menangis.
            Lima hari yang lalu, kecelakaan merenggut nyawa Nina. Hari itu Nina pamit padaku, katanya ada yang mengaku menjadi adik dari ayahnya. Nina berniat mencari alamat yang ia dapatkan dari ibu Fatimah. Namun, belum juga menemukan alamat rumah itu, sebuah truk melaju kencang dan menabrak Nina. Naas, Nina tewas di tempat. Aku yang mendapat kabar itu sangat shock. Nina memang telah tiada. Tapi aku tidak bohong kalau Nina benar-benar menemuiku. Akan aku buktikan! Pasti. Lihat saja.
***
            Bruuumm....sebuah motor gede berhenti tepat di depan kontrakanku. Aku melongo. Alamamater yang ia pakai memakai dari SMA Bintang. Tidak! Tidak mungkin cowok dibalik helm hitam itu....
            “Ngapain melongo gitu. Cepet naik!” ujarnya seraya membuka kaca helm. Terlihat wajah gantengnya.
            “Angga!” seruku tak percaya.
            “Apa?!” nadanya jutek.
            “Ngapain kamu ada di sini. Ini kan bukan jalan menuju sekolah.” ucapku.
            “Cewek sepintar elo ternyata oon juga yah? Jelas-jelas gue ke sini mau jemput elo.” paparnya. Aku tambah melongo. Jemput? Angga menjemputku? Tanda tanya besar melayang-layang di kepalaku. Aku melihat ke kontrakan lagi.
            “Nyari apa sih, lo.” Angga penasaran.
            “Nina...kali aja Nina balik lagi ke sini, mumpung ada ka...”
            “Udah deh jangan ngaco, cepet naik.” Angga menarik tanganku sebelum aku menyelesaikan kata-kataku. Entah aku masih tetap bersikukuh kalau Nina benar-benar ada di sini. Apalagi ada Angga.
Aku tidak bisa menolak lagi. Sejurus kemudian motor Angga melaju melalui jalan sempit ini sebelum ke jalan raya. Angga aneh! Motor sebagus ini mau melewati gang sempit dan rusak juga becek. Tidak takut kotor apa.
            Sepanjang jalan aku tidak berbicara apa-apa. Laju motornya juga pelan, padahal sudah siang. Bisa terlambat nanti. Tapi sekali lagi, aku tetap tidak berbicara. Aku juga menjaga jarak boncengannya.
            “Loh, ini bukan arah sekolah Ga.” Protesku begitu sadar jalan yang Angga lalui bukan menuju sekolah. “Ga, kita mau ke mana?” tanyaku.
            “Bolos sekolah. Kenapa? Nggak pernah bolos yah?” jawabnya enteng.
            “Ga, kamu apa-apaan sih! Balik cepat ke sekolah!” aku menepuk pundaknya.
            “Nggak mau! Ada sesuatu yang mau gue omongin ke elo.”
            “Tapi nggak harus bolos kan? Kita bisa ngomong di sekolah. Ga, cepet balik ke jalan tadi.” protesku lagi. Angga tak menghiraukan perkataanku. “Kalau kamu mau bolos silahkan, tapi jangan bawa aku. Aku mau sekolah. Turunin aku di sini, Ga.” seruku.
            “Gue bilang nggak!” nada Angga meninggi, lalu menarik tangaku dan dilingkarkan di perutnya. Belum sempat aku protes lagi, Angga langsung menambah kecepatan motornya. Saking cepatnya aku sampai bersembunyi di belakang tubuh Angga.
*
            Aku sampai di sebuah tempat yang aku sendiri tidak tahu ini di mana. Jalanan lengang, pohon yang mehijau berdiri sepajang jalan. Aku terpana melihatnya. Baru kali ini aku melihat tempat yang serasa nyaman. Sinar matahari hanya sedikit terlihat dari rimbunan daun berwarna kuning kehijauan.
            “Kita ke mana sih? Kamu jangan macam-macam sama aku.” ucapku. Saat itu laju motor Angga sangat pelan.
            “Jangan berpikir negatif gitu, Senja.” Jawabnya lalu membelokkan motor ke tikungan berikutnya. Jalanan ini seperti menyambung terus, semakin indah sepanjang jalan.
            Motor pun berhenti di bawah pohon. Aku turun dari motor disusul dengan Angga. “Ini di mana?” aku masih penasaran.
            “Ini jauh dari keramaian. Gue mau ngomong sesuatu sama elo. Sini!” Tanpa menunggu jawabku ia langsung menarik tanganku duduk di bangku tak jauh dari motor.
            Beberapa manit tak ada yang berbicara. Angga terdiam menatap lurus di depannya. Aku sendiri masih bingung, jangan-jangan. Ah! Aku tidak boleh berpikir macam-macam.
            “Gara-gara kamu, aku jadi bolos sekolah!” sungutku. Angga mendelik.
            “Satu hari bolos nggak mungkin langsung dikeluarin dari sekolah kan? Lagian gue udah buat surat izin buat kita berdua. Jadi elo tenang aja, jangan bawel!” balas Angga.
            “Jadi sekarang kamu mau ngomong apa!” sergahku. Tak sampai sepuluh detik, Angga mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya. Sebuah ikat rambut berbentuk bola basket di tangan angga. Aku terdiam.
            “Ini...” ia menyerahkan ikat rambut itu padaku. Aku tak bereaksi apa-apa, bahkan tidak menanggapinya. Angga meletakkan aksesoris cewek itu di tanganku. “Itu untuk Nina, belum sempat gue berikan.” ucapnya. Aku tertegun mendengar ucapannya. Terlihat sangat jelas penyesalan yang mendalam di sana.
            “Bukan hanya jepit rambut itu yang belum sempat gue berikan pada Nina, tapi perasaan gue juga.” Serasa angin berhenti saat itu juga mendengar Angga melontarkan kata-kata itu. “Gue jatuh cinta pada Nina, gue mencintainya.” lanjut Angga sukses membuat aku mematung. Entah aku harus apa, atau berkata apa. Aku kira akhir-akhir ini sikap Angga yang selalu menemuiku itu karena ia mempunyai perasaan yang lebih padaku. Yah, perasaan suka. Tapi aku salah, salah besar.
            “Ka..kamu...suka sama Nina?” Akhirnya mulutku bisa berbicara juga.
            “Yah, bukan hanya suka. Gue cinta sama Nina, Senja. Sejak masuk SMA Bintang. Tapi gue bodoh banget nggak bisa mengutarakan rasa gue ini padanya. Dua tahun gue simpan perasaan ini, hanya gue. Yah, hanya gue yang tahu betapa gue sangat mencintainya.” akunya. Tak pernah menyangka, seorang Angga yang bisa mendapatkan cewek mana pun yang ia mau malah menyukai Nina yang gadis biasa. Nina memang cantik, tapi tidak semodis cewek-cewek SMA Bintang lainnya.
            “Setiap hari gue memperhatikan Nina, apa yang Nina lakukan gue tahu. Bahkan gue ikuti di mana Nina latihan basket dan volly. Tentu tanpa sepengetahuannya. Gue sangat mangagumi cewek biasa dan apa adanya Nina. Gue...ah! Kenapa gue nggak bilang dari dulu kalau gue sangat mencintainya.” Penjelasan Angga terakhir terdengar putus asa, ia menutup wajah dengan telapak tangannya. Tanganku perlahan meraih pundak Angga dengan agak gemetaran.
            “Ga...aku bener-bener tidak menyangka kamu menyukai Nina. Aku kira sikapmu beberapa hari ini karena kamu...”
            “Menyukai lo.” potong Angga dan langsung menatapku. Aku menunduk.
            “Sorry Senja, bukan maksud gue membuat elo berpikir kalau gue suka sama elo. Jujur gue shock dan hampir gila semenjak tahu Nina kecelakaan. Gue tersiksa dengan perasaan gue sendiri, gue belum mengatakan kalau gue cinta padanya. Gue deketin elo, berharap gue bisa jujur sama perasaan gue tentang Nina, karena elo sahabat dekat Nina.” terang Angga panjang lebar. Aku terenyuh mendengarnya. Seorang Angga mempunyai rasa cinta yang begitu besar kepada sahabatku.
            “Ikat rambut ini...?” lirihku.
            “Tiap kali melihat Nina bermain basket atau volly, gue suka sama rambutnya yang panjang dan hitam. Kadang rambutnya diikat asal, dan ikat rambutnya juga jadul banget, makanya gue pengen kasih jepit bentuk bola basket itu sama Nina. Pasti sangat cantik kalau Nina memakainya.” ucap Angga. Ada sedikit senyum di sudut bibirnya. Angga pasti membayangkan Nina memakai jepit rambut ini. Nin, andai aja kamu dengar semua yang Angga katakan. batinku.
            “Ga, sebenarnya Nina juga suka sama kamu. Semenjak masuk SMA Bintang. Ia juga seperti cewek lain, mengagumimu, sangat mengagumimu. Tapi Nina sadar, siapa dirinya dan siapa kamu. Ia lebih memilih diam. Yah, kurasa Nina sama sepertimu. Tidak bisa mengutarakan rasa cintanya.” tambahku. Angga tertegun. Mungkin ia juga tidak menyangka Nina mempunyai rasa yang sama. Tuhan, begitu peliknya jalan cinta Angga dan Nina.
            “Be...benarkah?!” sergah Angga. Aku mengangguk yakin.
            “Aku dari kecil hidup bersama Nina Ga, aku tahu gimana perasaan Nina.” lanjutku. “Kamu tenang Ga, kalau nanti Nina datang lagi ke rumahku, akan aku katakan padanya kalau kamu mencintainya. Nina pasti bahagia.” aku sudah membayangkan betapa bahagianya Nina, begitu tahu Angga juga menyukainya. Ah, Nina, semoga aku bisa bertemu denganmu lagi.
            “Maksud lo?”
            “Iya, sudah dua hari Nina menemuiku. Bahkan aku tidur bersama Nina. Tiap malam kami berbagi cerita, Nina tetap ceria dan lincah seperti dulu Ga. Rambut panjangnya juga dipotong sedikit. Nina kelihatan makin cantik. Sangat cantik.” terangku. Angga langsung memegang pundakku.
            “Elo ngomong apa sih, Senja. Nina? Datang menemuimu?”
            “Iya Angga, kalau kamu lihat, pasti kamu terkagum-kagum sama Nina.” timpalku.
            “Nggak! Walau pun gue sulit untuk menerima kenyataan kalau Nina memang udah nggak ada, tapi gue nggak sampai menganggap bahwa Nina...”
            “Ga!” potongku balik menatapnya. “Apa kamu juga nggak percaya sama aku, kalau aku benar-benar melihat Nina.” Tandasku. Terdengar jelas bahwa Angga tidak percaya kalau Nina memang menemuiku.
            “Jelas itu nggak mungkin Senja, Nina udah nggak ada. Kalau emang benar Nina menemui elo, dan tidur di samping lo, kenapa dia tidak berangkat sekolah?” sergah Angga.
            “Nina kesulitan untuk berangkat sekolah Ga, orang-orang di sana melarang Nina untuk sekolah. Dia bahkan mati-matian izin untuk bertemu denganku.” paparku lagi.
            “Sadarlah Senja, jangan sampai ketidakterimaan elo atas perginya Nina, membuat elo lupa akan kenyataan yang ada.”
            “Ga! Aku kira kamu mau percaya sama aku, karena kamu mencintai Nina. Nina benar-benar menemuiku Ga, kita ngobrol bareng.” aku berusaha meyakinkan Angga, tapi Angga malah menggelengkan kepalanya. Aku menatap cowok yang jadi idola SMA Bintang itu tajam.
 “Ok fine. Aku akan buktikan kalau aku memang bertemu dengan Nina.” mataku berkaca-kaca. Tante Inah maupun Angga tak mau percaya padaku.
****
            Kreeek...ku buka pintu rumah kontrakan. Masih dengan Angga di belakangku. Dalam hati aku berharap Nina ada di dalam, seperti dua hari yang lalu. Perlahan aku memasuki rumah.
            “Nina! Nin!’ panggilku. Tak ada jawaban. Angga tetap mengikuti dari belakang. “Nina! Tebak siapa yang datang. Angga Nin, Angga ingin ketemu kamu katanya.” ucapku terus memanggil Nina.
            “Senja!” sepertinya Angga sabar ingin bertemu dengan Nina, atau ia mulai kesal dengan sikapku yang tetap beranggapan Nina sering datang ke rumah ini.
            “Bentar Ga, aku yakin Nina pasti datang. Biasanya jam segini Nina ada di rumah, Ga.” jawabku “Nina! Ada Angga Nin!” lanjut memanggil Nina seraya melongok ke setiap ruangan. Yang selalu aku dapati hanyalah kekosongan.
            “Senja! Cukup!” Seru Angga menahan tanganku. Aku diam dengan posisi membelakanginya. “Nina nggak ada Senja, elo harus sadar! Sesakit apapun gue untuk nerima ini, tapi nggak akan merubah kenyataan.” lanjut Angga.
            “Senja! Please jangan beranggapan kalau Nina masih hidup, elo cuma berhalusinasi, elo cuma belum siap melepas Nina.” tambahnya. Seketika aku berbalik menatap Angga.
            “Nina memang masih hidup Ga, selamanya ia akan hidup. Aku dan Nina tidak akan terpisahkan. Nina tetap bersamaku!” aku menaikkan nada suaraku. Angga tersentak mendengar ucapanku. “Kamu boleh menganggap Nina telah pergi, tapi tidak denganku. Dan satu hal Ga, aku nggak bohong kalau Nina datang ke rumah ini. Ok, aku nggak butuh kamu mempercayai ucapanku. Cukup Nina! Cukup Nina yang mempercayaiku!” Angga tak bereaksi. Air mataku nyeloroh begitu saja tanpa perintah. Tiba-tiba tante Inah datang.
            “Senja!” serunya lalu menghampiriku. “Sudah Senja,”ia belai rambutku penuh sayang.
            “Angga tak percaya sama aku tante, padahal Angga menyukai Nina.” ujarku. Angga hanya menggelengkan kepalanya, seolah ia tetap tak percaya dengan apa yang aku katakan.
            “Senja, wajar kalau nak Angga tidak percaya. Tante, kamu dan mungkin Angga melihat langsung tubuh Nina dikebumikan. Kamu harus sadar sayang, ini memang berat tapi kamu harus belajar menerimanya.” terang tante Inah.
            “Semuanya sama saja!” seruku berlari keluar rumah.
            “Senja!” teriak Angga. Aku tak peduli lagi. Aku terus berlari.

****
            Sore menapaki langit. Aku duduk di pasir pantai. Sepi, hanya ada aku dan segala sesuatu di pantai ini. Deburan ombak menambah keindahan sendiri, di tambah dengan rona langit yang keemasan. Aku terdiam merangkul kedua lututku. Mataku manatap lurus ke laut.
            Tidak! Sekarang aku tidak sendiri. Kurasakan seseorang menyandarkan kepalanya di bahu kiriku. Menikmati deburan ombak bersama.
            “Akhirnya kamu datang juga, Nin.” ucapku melirik sekilas ke Nina di sisi kiriku.
            “Kamu merindukanku, Senja?” tanyanya. Aku mengangguk. Sudah aku bilang, Nina memang benar-benar menemuiku, dan mungkin hanya aku.
            “Nin, ada sesuatu yang mau aku katakan. Ini pasti membuatku bahagia.” kataku lagi.
            “Apa?” Nina masih tetap menyandarkan kepalanya di bahuku. Oh yah, sekarang ia memakai dress saat pertama kali datang ke rumahku, dua hari yang lalu.
            “Angga. Ternyata dia juga menyukaimu Nin. Oh tidak, ia bahkan sangat mencintaimu.” Nina tersenyum, pastinya. Rasanya terbalas juga. “Kau bahagia?” tanyaku. Nina mengangguk.
            “Tentu Senja, rasa cinta yang ku pikir hanya angan ternyata mendapat balasan. Tapi sayang, aku tak bisa membalas  rasa itu dalam sesuatu nyata.” jawabnya dengan santai.
            “Apa kau datang ke sini, hanya untuk memastikan tentang perasaan Angga. Seperti dalam film Love is Cinta?” kali ini Nina menggeleng. “Lalu?” tanyaku untuk kesekian kalinya.
            “Kamu sendiri bilang kan, aku dan kamu tidak akan terpisahkan. Kita berdua sadar telah berbeda dunia, tapi keyakinan kita tidak bisa berubah. Dalam wujud apapun aku dan kamu, akan tetap bersama. Aku ke sini karena alasan itu. Kalau tentang jawaban Angga, mungkin itu bonus untukku dari Tuhan.” paparnya masih dengan nada santai dan tenang.
Dalam hati, aku mengiyakan perkataan Nina tadi. Aku dan Nina akan tetap bersama. Senja semakin merambat, sebentar lagi sunset akan turun.
            “Senja!” panggil Nina.
            “Yah,”
            “Boleh aku minta sesuatu?”
            “Apa itu, Nin?”
“Nyanyikan lagu Nina Bobo. Sudah lama aku tak dinyanyikan lagu itu olehmu. Aku rindu. Setidaknya untuk menutup hari ini. Nyanyian Nina bersama senja.” Perlahan Nina menggerakkan tangannya ke langit menunjuk senja yang sangat indah. Baru kali ini aku melihat senja yang sangat menenangkan hati. Aku tersenyum. Lalu aku menyanyikan lagu Nina Bobo untuk Ninaku, sahabat terbaik yang aku miliki.

SELESAI
Jumat, 3 Agustus 2012-08-03
00.27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar