Rabu, 15 Agustus 2012

Serial Dhera - Ke Mana Gibsonku?


-Ke mana Gibsonku-


"BANG YOGI!" Teriakkanku menggema di rumah besar ini. Rumah milik Papa dan Memey. Dari dapur, Memey tergopoh-gopoh menghampiriku yang sudah melempar tas seenak hati.

"Inok! Kamu mau buat Memey tuli apa?!" bentak Memey seraya menjewer telingaku. Sedikit kakiku menjijit. Aku meringis sambil memegangi telinga kananku.

"Sakit Mey." kataku mengulum bibir bawahku.
"Yah kamu sih, teriak2 kayak di hutan aja. Ada apa panggil Yogi, Nok?"
"Tadi kan Inok lihat aquarium, Gibsonnya kok nggak ada Mey," raut wajahku berubah. Takut terjadi apa-apa sama lohan kesayanganku.
"Emang tadi kamu bawa ke mana?" Memey tanya balik. Nih Memey otaknya bener apa nggak sih?

"Kyaaaaaa, si Memey. Mana Inok tahu, masa Inok main sama Say'A bawa-bawa Gibson. Aquariumnya aja ngalahin tubuh Herdi Mey." tuturku. "Kalau Memey nggak tahu, ini pasti kerjaan bang Yogi kampret itu." aku ngedumel.

"Bang Yogi!" teriakku lagi melangkahkan kaki menuju kamarnya. Baru saja beberapa langkah beranjak dari hadapan Memey, aku berhenti mengingat tadi Memey membawa apa.

"Mey?" aku mengedipkan mata.
"Apa?"
"Itu?" tunjukku pada beberapa deretan buah di tangannya.
"Nggak, ini mau Memey bikin kolak."
"Yaelah satu doang, minta yah." aku menghampiri Memey dan dengan gerakan cepat aku mengambil tiga pisang bukan satu seperti yg tadi aku katakan, lalu segera berlari untuk melabrak Yogi yang sudah menyaniaya Gibsonku. *sadisnya afgan kan?*
"Inook!!" teriak Memey mengalahkan teriakkanku tadi. Aku tak peduli, terus saja aku berlari menuju kamar Yogi.


"Bang!" ku buka pintu kamar Yogi sambil terus memakan pisang, kulit pisangnya aku kantung dulu. Kosong. Tak ada Yogi di dalam kamar. Oh God, jangan bilang Yogi mau jual Gibson. Tidaaaakkk!!! Aku tidak bisa hidup tanpa Gibson *ta
npa Dheractions juga yah?*

"Memey..." aku berlari menuju dapur, mataku mulai berkaca-kaca. Hiks, Gibsonku...
Terlihat Memey sedang membuat kolak pisang. Aku memeluknya dari belakang, sambil sesegukkan.
"Lah, kamu kenapa Nok?" tanya Memey bingung. Segera ia kecilkan nyala apinya. Lalu aku di tatapnya.
"Kenapa?"
"Hiks, kayaknya bang Yogi ngejual Gibson deh. Memey, Inok nggak mau sampe Gibson dijual." isakku.

"Nggak akan. Kamu tenang aja." Memey berusaha menenangkanku, ia juga mendekap dan membelai rambutku lembut.
"Tapi semalam, bang Yogi bilang ke Inok, ia mau jual Gibson hari ini karena Inok ngerusak kotak musik milik bang Yogi." paparku dengan raut sedih.

"Kan bisa beli lagi."
"Nggak mau, Gibson itu udah nyatu sama Inok. Inok nggak mau Gibson yg lain, Inok mau itu Mey." Rengekku terdengar pilu.
"Cup cup cup..."

"INOOOOKKK!!" Teriakkan seorang cowok terdengar nyaring di telingaku. Itu Yogi.
"Bang YOGIIIII...!!!" Balasku segera berlari ke depan. Tentu Memey juga ngikut di belakang.
Yogi berjalan dengan gayanya yang iiuuuuyyuu, sok cool banget. Begitu tepat di depan Yogi, aku langsung menghujaninya dengan pukulan di bagian titik tertentu tubuh Yogi.
        “Adaw! Adaw! Adaw!” pekiknya menahan seranganku. Aku tak peduli terus saja melanjutkan aksiku itu.
        “Mana Gibson gue! Mana bang!”

        “Adaw! Elo apaan sih?!” Yogi berusaha menahan serangan itu.
        “Gibson gue mana! Gue mau elo balikin Gibson gue!”
        “Memey! Inok kesurupan nih!” teriak Yogi.
        “Iihh, mana Gibson gue!” terus saja aku menghujani pukulan pada Yogi. Dari belakang Memey menghampiriku.
        “Sudah yah Nok, sudah!” Memey menenangkanku.
        “Sakit Pret!” sela Yogi.
        “Elo yang kampret! Balikin Gibson gue!” tangisku mulai pecah dan bergelayut di rengkuhan Memey.
        “Gibson?!” Yogi mengulang perkataanku. Wajahnya terlihat sangat sangat sangat oon.
        “Tuh kan Mey, bang Yogi beneran ngejual Gibson. Huaaaa!!” Memey kembali menenangkanku. Kekesalan dan kekecewaanku pada Yogi semakin memuncak sampai pucuk kepala. Bagaimana tidak? Tuh anak malah garuk-garuk kepala. Seakan tidak tahu apa-apa.
        “Yogi! Mana Gibsonnya. Inok bisa sekarat kalau nggak ada Gibson.” kata Memey. Tak sampai lima detik, tiba-tiba Yogi tertawa keras. Ckckck benar-benar deh menari di atas penderitaanku.
        “Bang Yogiii!! Memey! Tuh bang Yogi jahat banget.” rengekku semakin menjadi beberengan dengan tawa sang cowok kampret.
        “Elo nyari Gibson?” Yogi berusaha menghentikan tawanya.
        “Elo kira gue nyari siapa, monyet?!”
        “Lah, elo kan udah punya banyak boneka monyet, apa mau yang asli.”
        “Lama-lama gue telen juga elo bang.” Memey yang berada di antara kami hanya geleng-geleng.
        “Telen aja kalau bisa. Oh yah, Gibson yah? Udah gue....masak!” Mendengar itu rontok semua tubuhku. Tega sekali dirimu bang. Ah! Tuhan...kenapa ini bisa terjadi. ratapku.
        “Yogi! Kamu ini tega sekali sama adikmu.”
        “Ah! Memey, biasa aja kali. Sini Nok, gue tunjukin gimana lucunya si Gibson udah di cincang.” kata-katanya sangat mengiris telingaku. Haduh, putus dah nih telinga mendengarnya. Dengan cepat Yogi menarik tanganku.
        “Ayo!”
        “Gak mau!” Aku bertahan memeluk Memey. “Gue benci elo, Elo tega sama gue!” tangisku seraya melepaskan tangannya.
        “Yogi! Udah ah kamu kok...”
        “Udah Mey, Yogi bakal tunjukin sesuatu sama Inok. Ayo!” ia kembali menarikku paksa,hingga aku terlepas dari pelukan Memey. Aku memandang Memey dengan iba. Berharap mencegah Yogi membawaku. *kayak sinetron*
        “Memey...” lirihku.
        Yogi membawaku ke depan rumah. Aku sama sekali tidak melihat ke arahnya. Benci.
        “Lihat Nok!” ujar Yogi. Aku tetap membelakanginya. “Bener-bener yah lo, harus dengan paksaan aja.” aku tak bergeming. Dengan cepat, Yogi menarik tubuhku.
        Mataku terbelalak melihat sesuatu di depan mataku. Aku hampir saja aku terlonjak kaget *kenapa! kenapa! kenapa! Gibsonnya udah di masak?*
        Bukan! Memang di depanku itu Gibsonku, Tpi bukan di masak atau pun di cincang.
        “Ini...Gibson gue!!” sergahku berhambur memeluk Gibson. Oh maksudku, memeluk aquarium yang ukurannya tidak sebesar di rumah.
        “Sarap lo, Nok. Kalau Indra tahu pacaranya memeluk lohan, gimana yah. Eh, bentar, Febri atau Indra, Nok.”  Yogi menepuk pundakku. Aku tak menghiraukannya.
        “Terserah elo aja.” jawabku singkat lalu kembali memperatikan Gibson dengan saksama. “Lo apain Gibson gue bang, kayaknya ada yang beda.” aku memperhatikannya.
        “Jelas bedalah, secara yah, selama elo di Bogor tuh gibson kelihatannya sakit, makanya gue bawa dia ke dokter hewan.” aku sedikiti tidak percaya dengan ucapannya. Dokter hewan?
        “Oh gitu, kirain elo beneran mau jual, bisa...”
        “Sekarat!” potong Yogi. “Gue nggak biarin adik gue sekarat, karena gue pengen lihat elo ketakutan lagi sama kucing.” aku mencubit lengan Yogi di akhir ucapannya.
        “Tapi kok Gibson elo taruh di aqurium kecil seperti ini, dia nanti nggak bisa gerak bebas, kampret.”
        “Dodol, mana mungkin gue bawa aquarium besar dari rumah. Lagian untung gue taruh di aquarium, dari pada di gelas.” elo yg lebih dodol, lohan di taruh di gelas, mana muat. Batinku.
        “Iya juga sih, hmmmm thanks yah, bang.” aku memeluk Yogi erat.
        “Iya iya sama-sama,” Yogi mencubit pipi chubbyku. “Udah sekarang bawa Gibson ke dalam.”
        “Bantu napa.” aku dan Yogi membawa Gibson masuk ke dalam. Fiiiuuh, sekarang dadaku terasa lega, lega karena Gibson tidak beneran dijual atau di masak.

The End
Tunggu kisah selanjutnya, dengan  judul yg beda :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar